Masjid Indrapuri Aceh, Didirikan di Bekas Kuil Hindu

MASJID itu berada di Indrapuri, sebuah kecamatan di Aceh Besar yang berjarak 27 kilometer dari Kota Banda Aceh. Masjid bersejarah ini berdiri di atas bangunan kuno peninggalan sebuah kerajaan Hindu, sebelum Islam masuk Aceh.

Bangunan kuno ini dikelilingi hijaunya rerumputan, pohon mangga, pisang, kelapa, dan rambutan, serta rumah penduduk. Diapit sungai Krueng Aceh di sebelah barat dan jalan raya di sebelah timur.

Berselimut lumut, bangunan ini memiliki empat undakan. Di sudut kanan area dasar, ada sebuah sumur tua diapit dua kolam. Berdiameter 1,5 meter, dinding sumur bercincin batu itu tersusun rapi.

Berbentuk persegi, tembok menjulang sekitar sembilan meter. Masjid itu berada di puncaknya.

Dari luar benteng, terlihat masjid berada di undak ke empat. Itulah sebabnya, untuk ke masjid perlu menapaki 16 anak tangga yang berada di sisi kanan benteng.

Masjid ini beratap susun tiga berbentuk limas segi empat. Persegi di dasarnya, dan mengerucut di tampuk. Bale-bale dan tempat wudhu berada di halaman depan. Terlihat rapi dengan bunga asoka, kembang sepatu, dan pohon asam. Di sebelah kanan masjid, berdiri menara kontruksi kayu berisi kentung kayu.

Masuk ke dalam masjid, ada 36 tiang kayu segi delapan menopang tiga undakan atap. Di bagian barat, mihrab dan tempat mimbar menyatu dengan tembok dinding setinggi 1,5 meter berukir relief sederhana. Tiga lemari kayu berisi alquran dan ratusan kitab menempel di dinding sebelah kiri mimbar.

Masjid ini menjadi ikon Indrapuri, sehingga namanya pun Masjid Indrapuri. Warga di sekitar masjid memahami riwayat masjid ini. Umumnya mereka menyebut, masjid ini sudah berdiri sebelum Kerajaan Iskandar Muda, ini berarti sebelum abad 17.

Disebutkan, sebelum menjadi masjid, bangunan itu adalah kuil Hindu. “Warga mendapatkan cerita ini turun temurun,” kata Adnan Musa, warga Indrapuri.

***

Cerita masyarakat itu hampir mirip dengan catatan sejarah Aceh yang menukilkan jejak-jejak Kerajaan Hindu di Aceh. Disebutkan, kerajaan itu bernama Lamuri, benteng Indrapuri adalah titik penting kerajaan yang sudah ada sejak terbentuknya jaringan lalu lintas internasional.

Penguat fakta sejarah terdapat dalam sejumlah cerita dari beberapa penulis. Di antaranya, penulis Arab, Ibnu Khordadhbeh (844-848), menuliskan Lamuri dengan nama Ramni. Dia menyebut Lamuri tempat kapur barus serta hasil bumi. Penulis China, Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit pada 1225 Masehi, menyebut Lamuri (Lan-wu-li) sebagai jajahan Sriwijaya (San-fo-ts’i).  Ia juga menyebutkan Lan-wu-li belum menganut Islam.

Adapun Marco Polo yang pernah singgah ke Pulau Sumatera pada 1292, menyebut menemukan Kerajaan Lamuri yang tunduk pada Kaisar Cina dan wajib membayar upeti. Dinasti Ming tercatat pernah mengirim sebuah cap dan surat ke Lam-bu-li pada 1405 M. Enam tahun kemudian, kerajaan Lamuri mengirim utusan ke China berikut upetinya. Laksamana Cheng Ho pun pernah singgah ke Lamuri untuk memberikan hadiah dari China pada 1430.

Selain itu peneliti Eropa juga pernah menelusuri Lamuri. Di antaranya M. J. C. Lucardie dalam bukunya berjudul “Mevelies de Lindie”, penerbitan van der Lith pada 1836, menuliskan tentang Lamreh yang dikatakan peninggalan Kerajaan Lamuri.

Bahkan seorang peneliti Inggris, E. Edwards McKinnon, sampai dua kali meneliti jejak Lamuri. Pertama pada 1975, kemudian dia kembali lagi setelah Aceh dihantam bencana tsunami, pada 2004. Ia menemukan jejak pemukiman kuno di Lamreh. Lokasi yang ditelitinya itu tak begitu jauh dari Masjid Indrapuri.

“Dari beberapa catatan, Lamuri dipimpin putra Raja Harsya yang melarikan diri dari Srilanka. Dia kalah perang melawan Bangsa Huna tahun 604,” begitu kutipan dari buku “Ragam Citra Kota Banda Aceh” yang ditulis Dr. Kamal A. Arief, seorang dosen di Unpar Bandung yang ikut mempelajari arsitektur bangunan kuno di Banda Aceh, salah satunya Lamuri.

Dalam bukunya itu, Kamal mengutip hikayat Aceh yang menyebut raja Lamuri bernama Rahwana. “Nama Rahwana memperjelas hubungan Lamuri dengan Srilanka karena Rahwana dalam cerita Ramayana adalah Raja Srilanka,” kata Kamal.

***

Sebagai bukti kebesaran Kerajaan Hindu itu,  Direktur Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh, Doktor Husaini Ibrahim, menunjuk tiga artefak di Aceh Besar, yaitu Indrapatra di jalan Krueng Raya, tak jauh dari pusat kerajaan Lamuri. Kemudian Indrapurwa di Ujong Pancu, Lamteh, Ulee Lheue dan terakhir di Indrapuri.

Indrapatra yang disebut Husanini ini hingga kini masih ada. Bentuknya berupa empat bangunan purba berdiri terpisah di tepi Selat Malaka. Terletak di Gampong Ladong, Masjid Raya, Aceh Besar, tepat di tepi pantai. Berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banda Aceh.

Berjarak 20 kilometer dari benteng Indrapatra, ada bangunan masjid. Di pintu masuk ada tulisan Masjid Indrapurwa. Terletak di Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, tempat ibadah itu dibangun setelah tsunami 2004.

Di belakang masjid ada galian tanah dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Berbentuk persegi dengan panjang sembilan meter dan lebar delapan meter ini adalah sisa-sisa bangunan yang materinya mirip dengan Indrapuri dan Indrapatra, dapat dipastikan di sini sisa bangunan Indrapurwa yang disebut Dr. Husaini tadi.

Bahkan, di sebelah kiri gerbang ada tugu beton setinggi satu meter. Didirikan oleh Yayasan Bustanussalatin dan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, tugu ini menjadi tanda bahwa di lokasi masjid inilah jejak Indrapurwa.

Di sinoe na tom geupeudong salah saboh dari lhe keurajeun Hindu di Aceh (seulaen Indrapatra ngon Indrapurwa). Bah lhe boh Indra nyan meuhubongan lam bangon Aceh Lhee Sagoe. (Di sini pernah berdiri salah satu dari tiga Kerajaan Hindu di Aceh –dua lainnya adalah Indrapatra dan Indrapuri- ketiganya saling berhubungan dalam bentuk Segitiga Aceh).

Hasil penelitian Husaini, di semua artefak itu ada atap berbentuk blok. “Ini ciri khas Hindu. Jadi juga berfungsi sebagai tempat ibadah,” katanya. “Ciri khas lainnya tentang hindu adalah formasi tiga segi posisi bangunan. Termasuk penamaannya.”

Sedangkan Kamal A. Arief, mengatakan keterkaitan antar ketiga benteng itu bisa dilihat konstruksinya yang sederhana. “Terbuat dari batu kali dengan ukuran tak beraturan dengan spesi kapur, tanah liat dan pasir sebagai perekat,” kata Kamal yang adalah seorang arsitek ini. “Pelataran di dalam benteng Indrapuri adalah bekas candi.”

Sedangkan titik posisi bangunan yang membentuk formasi segitiga sama sisi itu adalah simbol piramida yang menjadi representasi dari the world mountain (dunia gunung). “Bisa diartikan sebagai penjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” kata Kamal lagi.

Kamal menerjemahkan artikata tiga “Indra” itu sebagai penentu bangunan mana yang pertama dibangun. “Dan itu adalah Indrapurwa (purwa berarti purba), lalu mereka mendirikan Indrapatra (kemakmuran), terakhir Indrapuri (istana). Dari sini bisa kita ketahui bahwa raja bermukim di Indrapuri,” katanya.

Setelah kerajaan Hindu itu runtuh, berganti Kerajaan Aceh yang muslim. Adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang berkuasa pada 1496 yang memulai Kerajaan Aceh. Dialah yang menundukkan Kerajaan Lamuri.

“Dalam perkembangan berikutnya, tiga benteng ini menjadi inti atau daerah pokok dari kerajaan Aceh berikutnya. Makanya Aceh dikenal dengan tiga daerah yaitu daerah inti, daerah takluk dan daerah asal,” kata Husaini.

Karena Kerajaan Aceh adalah Islam, maka di atas benteng peninggalan Kerajaan Hindu yang dijadikan kawasan daerah inti kerajaan itu didirikan masjid. Masjid Indrapuri.  |sumber: dream.co.id

Comments

comments

About the author

Atjeh Post

Add Comment

Click here to post a comment