Catatan Perjalanan Pengambilan Slayer TBM Coronarius

PADA kegiatan pengambilan slayer dan mounteneering tim dari malahayati.ac.id berkesempatan mengikuti rangkain seluruh kegiatan TBM Coronarius Universitas Malahayati pada Sabtu hingga Minggu lalu. Trek yang akan dilalui bukanlah trek biasa para wisatawan atau masyarakat yang sering dilalui, melainkan trek yang dirancang Basarda Provinsi Lampung. Sehingga menjadi salahsatu tantangan bagi peserta dan tim malahayati.ac.id.

Pemberangkatan dari kampus Universitas Malahayati dimulai dari jam 13.00 WIB menuju Desa Umbul Baru menjadi start pendakian gunung Betung. Sebelum berangkat pukul 14.00, peserta menjalani brefing yang diarahkan oleh Taryono SE,  Instruktur dari Basarda Lampung, Alhamdulillah cuaca sangat bagus untuk melakukan pendakian.

Pendakian pertama kami langsung disambut perkebunan kakao, salak, dan nanas. Tumbuhan kakao menemani sepanjang perjalan yang belum melalui medan yang sulit. Perjalanan megarah ke Cimeri menuju Umbul Lapang.

Memasuki Umbul Lapang, medan perjalanan mulai meningkat kesulitannya. Melewati lembah yang di tengah-tengahnya ada dua makam. Di sini, Taryono mengajak kami berdoa.

Setelah melewati lembah, langsung menyeberangi Sungai Cibetung di bawah lembah Umbul Lapang. Perjalanan sampai ke sini memakan waktu lima jam. Di samping sungai inilah didirikan tenda.

Tampak peserta mulai didera kelelahan. Kami istirahat, shalat, dan makan. Kemudian beberapa kegiatan terlalui hingga malam pun tiba.

Pukul 23.30, dilaksanakan jurit malam untuk membentuk mental para anggota TBM, acara berakhir pukul 03.00 WIB dan istirahat. kemudian, kegiatan dimulai lagi pada pukul 07.00, Triyono memberikan materi kepada para peserta hingga pukul 08.00. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.

Di hari kedua ini, para peserta ditantang oleh medan perjalanan yang sangat berat karena harus menaiki lembah dengan kemiringan hampir 70 derajat, lalu dilanjutkan menuju Talang Sedana, pematang Gunung Betung, dan Gunung Galang.

Ketika di Gunung Malang ini, peserta disuguhi pemandangan gunung dan Teluk Tanjung Karang yang terlihat di sepanjang jalan. Sebagian peserta mengabadikan foto selfie untuk kenang kenangan perjalanan.

Lalu perjalanan berlanjut ke Pancur, kawasan ini seperti desa mati. Hanya dua kepala keluarga yang menghuninya. Pada 1993 para penduduk dipindahkan oleh pemerintah karena kawasan ini milik Perhutani.

Tepat pukul 12.15 para peserta beristirahat di Pancur. Kami mengisi perut dan minum. Lalu langkah berlanjut lagi hingga ke hutan rakyat Wan Abud yang menjadi titik akhir pendakian. Perjalanan selesai pada jam 16.54.

Estimasi keseluruhan pendakian mencapai 14 jam perjalanan di potong kegiatan camp di Cibetung.[]

Comments

comments