Mengapa Orang Jepang Kehilangan Gairah Bercinta?

Jepang sedang mengalami masalah besar, banyak pria dan wanita berusia diatas 40 tahun yang masih menjaga keperawananya.

Seperti dilansir cnn.com, hal ini membuat Yoko Wakatsuki dan rekan-rekanya khawatir melihat antusiame tentang gairah muda, percintaan, dan sex yang mulai memudar di Jepang saat ini.

Survei pemerintah Jepang yang dirilis minggu ini menunjukkan bahwa 40 persen orang Jepang di usia 20-30 tahunan berpikir tidak membutuhkan pasangan yang romantis, mereka mengganggap hubungan romantis sebagai sesuatu yang mengganggu.

Survei lain di tahun 2010 menemukan satu dari empat pria yang belum menikah di usia tiga puluhan ternyata masih perjaka.

Ada beberapa kasus dan akibatnya ketika Jepang mengubah pola pikir yang semula malu jika masih perawan di umur 20 tahun kemudian menjadi tidak tertarik akan seksualitas:

1. Jepang telah menjadi apatis dalam urusan sex

Kehilangan hasrat seksual di masyarakat Jepang adalah akibat dari ketidakpedulian mereka tentang semua yang mengarah ke hal itu. Padahal ini sangat berbahaya bagi Jepang, dengan populasi yang menua dengan cepat, tanpa angka kelahiran yang cukup, maka akan sulit mempertahankan ekonomi yang sehat di masa yang akan datang.

Menurut Takashi Sakai (nama samaran), mungkin ia pernah dan bisa menyukai seorang wanita yang menarik, mengajaknya berkencan, jatuh cinta kepadanya, tapi entah kenapa hingga saat ini ia tidak pernah berniat untuk melakukannya.

2. Tidak pernah ciuman

Shingo Katsume mengaku belum pernah ciuman seumur hidupnya padahal telah berusia 41 tahun.

“Jepang memiliki animasi, selebriti, komik, game, dan olahraga. Lantas untuk apa anda memilih hal yang justru akan membuat anda sakit dan terpuruk (cinta),” ujarnya kepada cnn.com.

3. Potret masalalu yang tak seperti sekarang

Perempuan perawan di Japang tahun 1980 akan dianggap seperti kue natal (yang akan dibuang setelah perayaan natal berlalu. Sepuluh tahun kemudian, seorang perawan di Jepang akan menjadi bahan tertawaan dan menjadi “mainan” para lelaki.

Tapi sekarang hal itu jauh berbeda, banyak perawan di Jepang dan mereka tak perduli tentang hal itu. Sebab mereka dihantui momok yang menakutkan tentang ketidakmampuan ekonomi dan kesenjangan sosial.

“Status ekonomi dan pendapatan berkaitan erat dengan harga diri. Berpenghasilan rendah berarti harga diripun anjlok. Memiliki harga diri rendah membuat sulit berkomitmen untuk hubungan,” kata Katsume.

Selain masalah ekonomi, kesenjangan “hubungan” di Jepang juga menjadi masalah utama ketika mereka selalu disuguhkan figur kesempurnaan dalam suatu hubungan, di saat yang sama pula merasa ketakutan akan rasa sakit dan kegagalan. []

Comments

comments