Jepang Terapkan Terapi Melukis Objek Bugil?

KEKHAWATIRAN Jepang mengenai pergeseran pola pikir masyarakatnya, yang semula menyukai seksualitas menjadi apatis terhadap seks. Membuat pemerintah dan lembaga dan LSM setempat resah. Mereka mencari cara yang tepat dan efektif untuk menanggulangi masalah yang cukup rumit ini.

Seperti dilansir cnn.com, LSM yang bernama White Hands sangat peduli akan masalah ini. Mereka menemukan sebuah gagasan untuk mengadakan kelas melukis, bagi para perjaka yang  berumur di atas 30 tahun. Kelas ini bukanlah kelas melukis biasa, melainkan kelas melukis dengan model bugil sebagai objeknya.

Hal ini dilakukan karena hasil observasi di lapangan mengatakan, penduduk Jepang lebih menyukai berfantasi dan menonton Hentai (film animasi porno dari Jepang) ketimbang seks nyata.

Oleh karena itu, diputuskan mengapa kelas melukis adalah metode terapi tepat untuk membangkitkan gairah seksual, karena melukis merupakan perpaduan khayalan animasi dengan model bugil yang nyata.

Tapi memberikan gadis bugil tanpa sehelai benangpun menutupi kulit halus nan menggairahkan, kepada para perjaka tua sama dengan meneteskan air di kebakaran hutan, tidak bisa langsung menyelesaikan masalah.

Terbukti, para pria di kelas itu tidak terlihat bergairah melihat model bugil berpose menantang, dengan ekspresi yang begitu menggoda di depan matanya. Mereka malah asyik melukis dan memperhatikan setiap lekuk tubuh objek, seolah objek hanya patung bukan gadis sungguhan.

Menurut keterangan salah satu peserta kelas itu, Takashi Sakai (nama samaran), ” biasanya jika kita melihat wanita yang menarik kita akan suka, lalu mengajaknya berkencan dan jatuh cinta, saya terus mencoba mendapatkan perasaan itu, menurut saya hal itu adalah normal tapi hingga saat ini perasaan itu belum saya rasakan,” ujarnya.

Sakai juga mengatakan, ia memang berharap segera melepaskan keperjakaannya, meskipun gairah seksual itu belum muncul. Tetapi, kelas melukis ini sangat membantu membangun moralitas dan meringankan beban yang ia pikul selama ini.

Dengan dibukanya kelas ini, ia menyadari ia tidak sendirian, banyak orang memiliki masalah yang sama, sehingga ia bisa lebih terbuka dengan orang lain. Jadi, ia berkesimpulan kondisi ini bukan serta merta harus segera berubah tapi harus lebih disadari. Dia juga mengatakan, dia belum menyerah dengan keadaan ini.[]

Comments

comments