Jejak Jati Diri Orang Aceh

BERDIRI di puncak bukit Lamteuba, Lamreh, Masjid Raya, Aceh Besar, mata bebas menyorot seluruh penjuru angin. Dari ujung barat terlihat gelombang ombak menggoda teluk. Ada lidah pelabuhan Krueng Raya menjulur menjilat laut. Sementara di sepanjang pantai, bulir-bulir riak berbuih putih seakan menggumul pasir.

Berpaling ke selatan, gugusan perbukitan membujur laksana benteng tempat Gunung Seulawah gagah menampakkan puncaknya. Sebelah timur, tersembul bukit berkarang tampak berundak-undak.

Memandang ke utara terbentang hamparan luas Selat Melaka yang mengepung Pulau Weh. Diramaikan burung mengepakkan sayap menggelitik bayu yang ditingkahi lambaian nyiur. Angin mendesau, kadang menyemilir, kerap juga bertiup kencang. Terasa nyaman.

Suasana seperti itulah yang kami rasakan pada akhir September 2013. Terpesona keindahan alam membuat kaki enggan beranjak. Apalagi bukit-bukit itu tak hanya menawarkan keindahan, juga menyimpan cerita penting tentang sejarah Aceh.

Berjarak sekitar 36 kilometer dari kota Banda Aceh, areal ini terletak di sisi kiri Jalan Krueng Raya. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit mengendarai kendaraan roda empat yang dipacu rata-rata 60 km/jam.

Hanya jalan setapak yang bisa dilewati satu mobil menuju ke kaki bukit. Berbatu. Setelah itu ada semak belukar yang harus dilalui saat mendaki.

Tiba di puncak berasa berdiri di pos penjagaan kota pinggir pantai. Semua aktivitas di bawahnya terawasi dengan mudah.

Bahkan undakan yang di sana-sini terdapat batu mirip tembok kokoh seperti menegaskan bukit ini adalah bangunan kuno yang menyimpan rahasia sejarah. Kesan itu makin kuat sebab ada bebatuan tertata rapi seperti susunan dinding. Sebagian besar tatanan tertimbun tanah ditumbuhi rumput liar di kawasan gersang yang mirip atap gedung terlantar.

Beragam tembikar berserak di sela-sela batu kapur. Di antaranya diduga terbuat dari tanah liat berwarna coklat kemerah-merahan, ada juga berbahan keramik hijau muda dan kuning agak gelap. Beberapa tembikar berhias lukisan ornamen bunga.

Pecahan beling itu tak hanya di puncak bukit, tetapi berserak di hampir seluruh area hingga ke jalan setapak. Kami juga menemukan batu nisan berukir kaligrafi Arab dipadu ornamen bunga.

Terkubur tepat di kaki kami berpijak, kepingan-kepingan inilah yang meriwayatkan Kerajaan Lamuri.

***

KEBERADAAN Kerajaan Lamuri diduga ada sejak terbentuknya jaringan lalu lintas internasional. Sejumlah penulis telah mencatatnya sejak abad ke-8. Di antaranya penulis Arab, Ibnu Khordadhbeh (844-848), menuliskan Lamuri dengan nama Ramni. Dia menyebut Lamuri tempat kapur barus serta hasil bumi.

Sejumlah catatan dari China menyebutkan Lamuri (Lan-wu-li) sebagai jajahan Sriwijaya (San-fo-ts’i). Cerita ini terdapat dalam tulisan Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit pada 1225 Masehi.

Buku ini menukilkan Lan-wu-li belum menganut Islam. Sehari-hari sang raja mengendarai gajah. “Di istananya ada dua ruangan untuk menerima tamu.”

Cerita Chau-Yu-Kwa berbeda dengan Marco Polo yang pernah singgah ke Pulau Sumatera pada 1292. Dia menemukan Kerajaan Lamuri yang tunduk pada Kaisar Cina dan wajib membayar upeti.

Keterangan Marco Polo sesuai dengan buku Dinasti Ming yang mencatat pernah mengirim sebuah cap dan surat ke Lam-bu-li pada 1405 M. Enam tahun kemudian, kerajaan Lamuri mengirim utusan ke China berikut dengan upetinya.

Laksamana Cheng Ho pun pernah singgah ke Lamuri untuk memberikan hadiah dari China pada 1430.

Beragam cerita menarik itulah yang menggoda minat ilmuan untuk meneliti Kerajaan Lamuri. Misalnya, M. J. C. Lucardie dalam bukunya berjudul “Mevelies de Lindie”, penerbitan van der Lith pada 1836, menuliskan tentang Lamreh yang dikatakan peninggalan Kerajaan Lamuri.

Belakangan, peneliti Inggris, E. Edwards McKinnon, menelusuri bukit Lamreh usai tsunami 2004, sebelumnya pada 1975 dia juga sempat menelusuri jejak Sejarah Aceh. Aktivitasnya diceritakan dalam sebuah makalahnya tentang Sejarah Aceh. Dia bilang Lamreh adalah wujud pemukiman kuno yang jejaknya masih terkubur.

“Puing-puing bersejarah tersingkap saat bulldozer sedang membuka lahan di kawasan Lamreh pada 2011,” begitu Edwards menulis.

Selain temuan beling, masih menurut tulisan Edwards, sebuah penelitian mengungkap jejak tsunami kuno yang terjadi pada 1390 dan 1450. Diperkirakan beberapa kawasan Lamreh hancur digulung tsunami.

Kendati demikian, kepingan pemukiman kuno masih berjejak. “Kami turun ke pantai di Lhok Cut dan di sana langsung menemui banyak beling tembikar, bekas crucible (tempat pemasakan logam) dan batuan keramik Cina dari masa Yuan (1278-1360 M),” tulis Edwards.

Berbagai temuan itu menambah keyakinan Edwards bahwa Lamreh pemukiman yang cukup ramai. Bahkan, dari jejak yang ditemukan menggambarkan Lamuri berada dalam lalulintas perdagangan dunia di masa itu.

Lalu siapa yang memimpin Kerajaan Lamuri? “Dari beberapa catatan, Lamuri dipimpin putra Raja Harsya yang melarikan diri dari Srilanka. Dia kalah perang melawan Bangsa Huna tahun 604,” begitu kutipan dari buku Ragam Citra Kota Banda Aceh yang ditulis Dr. Kamal A. Arief, seorang dosen di Unpar Bandung yang ikut mempelajari arsitektur bangunan kuno di Banda Aceh, salah satunya Lamuri.

Dalam bukunya itu, Kamal mengutip hikayat Aceh yang menyebut raja Lamuri bernama Rahwana. “Nama Rahwana memperjelas hubungan Lamuri dengan Srilanka karena Rahwana dalam cerita Ramayana adalah Raja Srilanka,” kata Kamal kepada The ATJEH.

Adapun Direktur Pusat Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala-Banda Aceh, Doktor Husaini Ibrahim, lebih suka menyebut Lamuri sebagai Kerajaan Indrapurba.

“Dalam perkembangannya lebih dikenal dengan Kerajaan Lamuri. Penyebutan itu karena letaknya berada di Lamreh Krueng Raya, Aceh Besar. Jadi orang condong menyebut Kerajaan Lamuri,” katanya.

Catatan kebesaran Lamuri, menurut Husaini, bisa dilihat pada prasasti Tanjore di India. Dari sini tersembul kisah Raja Radjendra Cola menyerang Illamuridesang (Lamuri) pada abad ke-11. Disebutkan Lamuri sebagai Kerajaan Hindu yang memiliki pertahanan sangat kuat.

Sebagai bukti kedigdayaan Kerajaan Lamuri, Husaini menunjuk tiga artefak di Aceh Besar, yaitu Indrapatra di jalan Krueng Raya, tak jauh dari pusat kerajaan Lamuri. Kemudian Indrapurwa di Ujong Pancu, Lamteh, Ulee Lheue dan terakhir di Indrapuri. “Jika ditarik garis maka cenderung berbentuk segitiga sama sisi,” katanya.

Hasil penelitian Husaini, di artefak itu dia mendapatkan atap berbentuk blok. “Ini ciri khas Hindu. Jadi juga berfungsi sebagai tempat ibadah,” katanya. “Ciri khas lainnya tentang hindu adalah formasi tiga segi posisi bangunan. Termasuk penamaannya.”

***

EMPAT bangunan purba berdiri terpisah di tepi Selat Malaka. Terletak di Gampong Ladong, Masjid Raya, Aceh Besar, tepat di tepi pantai. Berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banda Aceh bangunan itulah yang disebut benteng Indrapatra.

Berada dalam komplek seluas lima hektare, dua dari empat bangunan itu masih berdiri kokoh.

Bangunan paling besar berbentuk segi empat. Di dinding bangunan yang mirip benteng ada beberapa lubang seperti corong meriam. Tanpa atap, hanya ada satu pintu dengan tangga masuk setinggi dua meter. Di dalam ada empat kubah mengelilingi bangunan inti. Hanya satu yang berwujud utuh, lainnya berupa puing. Kendati berjarak 100 meter dari laut, di dalam kubah berpucuk mirip sanggul ini ada sumur berisi air tawar.

Sepuluh meter dari sini, ada satu lagi benteng dengan ukuran lebih kecil. Tinggi dinding bangunan sekitar 10 meter dengan panjang sisi-sisinya sekitar 30 meter. Untuk masuk ke dalam bangunan tersedia satu tangga kayu 13 anak tangga.

Di dalam bangunan ada tiga lubang setengah bundar di dalamnya menghadap ke utara. Sedangkan lubang-lubang kecil tempat pengintai di arahkan ke hamparan laut Selat Malaka yang berada di sebelah utara.

Di sebelah barat, matahari mengambil ancang-ancang untuk tenggelam dengan pancaran lembayung senjanya. Di sebelah selatan, perbukitan memanjang seperti benteng alam. Di timur, ada teluk Krueng Raya.

Dua bangunan lain hanya berwujud reruntuhan batu. Di atas reruntuhan ada tiga batang Mimba. Daunnya lebat dengan angin sepoi Selat Malaka yang membelainya.

Menyusuri pantai di kawasan ini, beberepa benteng buatan Jepang teronggok di sini. Di antaranya ada yang berada di dalam laut. Bangunan militer jaman Perang Dunia Kedua itu terbengkalai.

Berjarak 20 kilometer di sebelah selatan ada artefak lain yang diperkirakan berdiri masa Kerajaan Lamuri. Terlihat masih utuh, inilah Indrapuri yang berada di kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Bangunan ini ada empat undakan.

Mengelilingi benteng ini, tampak lumut telah menyelubung tembok. Berbentuk persegi, tembok menjulang sekitar sembilan meter. Sebuah sumur tua diapit dua kolam berada di sudut kanan area dasar. Berdiameter 1,5 meter dinding sumur bercincin batu tersusun rapi.

Sekaliling bangunan tampak hijau rerumputan. Di beberapa sudut ada pohon mangga dan rambutan. Daun pisang dan nyiur kelapa melambai-lambai menambah keindahan.

Di sebelah barat, air di sungai Krueng Aceh keruh mengalir antara bebatuan dan mengitari pasir di tengah-tengah seperti pulau. Di selatan ada kebun penduduk. Di timur, ada jalan menuju ke pasar Indrapuri. Rimbun pohon menyembul di sela-sela atap perumahan warga di sebelah utara.

Seorang warga Indrapuri, Adnan Musa, bercerita tentang masa kecilnya yang suka bermain di sekitar benteng Indrapuri. “Kami mendapat cerita turun temurun, bahwa pertapakan Masjid Indrapuri adalah bekas kuil yang dibangun oleh Kerajaan Hindu,” kata pria kelahiran 1932.

Adnan mengatakan, masyarakat kampung percaya di dalam bangunan benteng itu ada ruang yang berupa bilik-bilik. “Seperti tempat penyimpanan barang,” katanya. “Tapi setelah Belanda masuk, pintu ruangan yang terdapat di salah satu sudut lantai masjid ditutup.”

Nun di bukit Goh Leumo yang berjarak 20 kilometer dari Benteng Indrapuri ada bangunan masjid. Di pintu masuk ada tulisan Masjid Indrapurwa. Terletak di Gampong Lamguron, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, tempat ibadah itu dibangun setelah tsunami 2004.

Di belakang masjid ada galian tanah dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter. Berbentuk persegi dengan panjang sembilan meter dan lebar delapan meter ini adalah sisa-sisa bangunan yang materinya mirip dengan Indrapuri dan Indrapatra, dapat dipastikan di sini sisa bangunan Indrapurwa.

Dikelilingi perbukitan dan lautan, di seberang jalan depan gerbang masjid terlihat hamparan rawa. Tampak tumbuhan bakau menghijau. Menyusuri rawa saat laut surut maka dengan mudah menemukan berbagai tembikar berserakan.

Di sebelah kiri gerbang ada tugu beton setinggi satu meter. Didirikan oleh Yayasan Bustanussalatin dan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, tugu ini menjadi tanda bahwa di lokasi masjid inilah jejak Indrapurwa.

Di sinoe na tom geupeudong salah saboh dari lhe keurajeun Hindu di Aceh (seulaen Indrapatra ngon Indrapurwa). Bah lhe boh Indra nyan meuhubongan lam bangon Aceh Lhee Sagoe. (Di sini pernah berdiri salah satu dari tiga Kerajaan Hindu di Aceh –dua lainnya adalah Indrapatra dan Indrapuri- ketiganya saling berhubungan dalam bentuk Segitiga Aceh).

Ketua Majelis Adat Aceh Wilayah Jawa Barat, Kamal A. Arief, mengatakan keterkaitan antar ketiga benteng itu bisa dilihat konstruksinya yang sederhana. “Terbuat dari batu kali dengan ukuran tak beraturan dengan spesi kapur, tanah liat dan pasir sebagai perekat,” kata Kamal yang adalah seorang arsitek ini. “Pelataran di dalam benteng Indrapuri adalah bekas candi.”

Sedangkan titik posisi bangunan yang membentuk formasi segitiga sama sisi itu menyimpan makna. “Itu simbol piramida yang menjadi representasi dari the world mountain (dunia gunung). Bisa diartikan sebagai penjaga keseimbangan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” kata Kamal lagi.

Kamal menerjemahkan artikata tiga “Indra” itu sebagai penentu bangunan mana yang pertama dibangun. “Dan itu adalah Indrapurwa (purwa berarti purba), lalu mereka mendirikan Indrapatra (kemakmuran), terakhir Indrapuri (istana). Dari sini bisa kita ketahui bahwa raja bermukim di Indrapuri,” katanya.

“Tiga benteng itu merupakan datum penghubung sehingga wilayah Aceh Lheesagoe menjadi jelas secara fisik,” katanya. Adapun perbukitan Lamreh, menurut Kamal, boleh jadi itu sebagai kawasan perdagangan atau pemukiman penduduk.

Indrapuri yang terletak di pedalaman dan jauh dari pesisir, kata Kamal, menunjukkan kesesuaian konsep kerajaan hindu. Dari pegunungan ini, Raja Lamuri memimpin negerinya. Dia mengatur manajemen pertemuran menghadapi gempuran Raja Cola. Dalam bukunya, Kemal menulis, Lamuri mampu bangkit dari gempuran Cola dan berjaya hingga abad ke-14. “Kisahnya dapat kita baca dalam Negarakartagama tahun 1365 yang mencatat penyerangan Majapahit ke Lamuri.

***

MASJID itu berada di puncak benteng Indrapuri. Menuju ke masjid perlu manapaki 16 anak tangga yang ada di samping kanan. Dari pintu pagar, masjid yang berada di atas empat undakan tembok kokoh itu nampak megah. Atapnya bersusun tiga undakan berbentuk limas segi empat. Persegi di dasarnya dan mengerucut di tampuk.

Bale-bale dan tempat wudhu berada di halaman depan masjid. Terlihat rapi dengan bunga asoka, kembang sepatu, dan pohon asam. Di sebelah kanan masjid berdiri menara kontruksi kayu berisi kentung kayu.

Masuk ke dalam, 36 tiang kayu segi delapan menopang tiga undakan atap. Di bagian barat, mihrab dan tempat mimbar menyatu dengan tembok dinding setinggi 1,5 meter berukir relief sederhana. Tiga lemari kayu menempel di dinding sebelah kiri mimbar. Lemari tersebut berisi Al-Qur’an dan ratusan kitab.

Warga Indrapuri, Adnan, yang berbincang-bincang dengan The ATJEH mengatakan banyak penduduk sekitar yang paham riwayat masjid Indrapuri. “Jameun sigolom keurajeun Iskandar Muda nyan meuseujid nyan cit kuil. Dudoe baroe diubah jeut keu meuseujid. Nyan bangunan ka jameun ka lagee nyan, adak pih ka keunong rehab bacut-bacut sapat (Dulu sebelum Kerajaan Iskandar Muda, masjid itu adalah kuil. Belakangan baru diubah menjadi masjid. Bangunan itu tak berubah sejak jaman dulu. Hanya direhab sedikit),” katanya.

Menurut pria berusia 81 tahun masjid Indrapuri merupakan saksi sejarah peradaban Aceh. Sebelum Islam menyebar di masyarakat Aceh, Hindu telah terlebih dahulu ada. “Selama kerajaan Hindu sampai kerajaan Islam masih berkuasa, bangunan itu menjadi salah satu titik sentral dari istilah Aceh Lhee Sagoe, dimana dua titik lainnya lagi yaitu Indrapurwa dan Indrapatra,” katanya.

Cerita yang hidup di tengah masyarakat ini mirip dengan catatan sejarah. Adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang berkuasa pada  1496 yang memulai Kerajaan Aceh. Dialah yang menunduukan Kerajaan Lamuri lalu menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

“Dalam perkembangan berikutnya, tiga benteng ini menjadi inti atau daerah pokok dari kerajaan Aceh berikutnya. Makanya Aceh dikenal dengan tiga daerah yaitu daerah inti, daerah takluk dan daerah asal,” kata Husaini. Sebab Kerajaan Aceh adalah Islam, maka di atas benteng peninggalan Kerajaan Hindu yang dijadikan kawasan daerah inti kerajaan itu didirikan masjid.

Pola manajemen kerajaan seperti itu, Husaini menjelaskan, dimulai sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636). Di masa kekuasaan Iskandar Muda inilah lahir  Undang-Undang dalam pemerintahan yaitu Qanun Meukuta Alam al Asyi. “Sistem pemerintahan Iskandar Muda  diperkuat penerusnya yaitu Sultan Iskandar Tsani. Begitu juga Sri Ratu Safiatuddin dan Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam yang menerapkan sistem serupa,” katanya.

Berkuasa selama tiga tahun, dari 1675-1978, Naqiatuddin membuat perubahan mendasar pada sistem pemerintahannya.  Dia membentuk tiga sagi dengan istilah mukim. Yaitu mukim 22 di Indrapuri, mukim 26 di Indrapatra dan mukim 25 di Indrapurwa. Angka-angka mukim melambangkan jumlah gampong di masing-masing wilayah itu. “Di tiap-tiap mukim diangkat seorang panglima yang disebut Panglima Sagoe. Mereka mempunyai hak menentukan sah atau tidaknya seorang raja,” kata Husaini.

Cerita Keurajeuen Lhee Sagoe (Kerajaan Segitiga Aceh) ini runtuh setelah Aceh bertempur dengan Belanda. Bahkan ketika Aceh menyatu dengan Indonesia, Keurajeuen Lheesagoe ini hanya menjadi catatan sejarah, meskipun dalam kondisi pemerintahan sekarang ini Keurajeuen Lheesagoe mirip dengan sistem federasi ataupun otonomi daerah.

sumber: majalah The Atjeh (Vol.1 – Oktober 2013)

Comments

comments