Tesso Nilo, Taman Nasional yang Sekarat

Edward Rahadian tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya bergerak liar. Ada pemandangan tak biasa di sekelilingnya: pohon-pohon akasia seukuran lengan orang dewasa bertumbangan dengan kondisi kulit terkelupas. Instingnya langsung bermain.

“Ini kerjaan gajah liar. Dari sobekan kulit pohon, mereka belum lama ke sini,” kata Edward.

Edward adalah Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Tesso Nilo Wilayah I Lubuk Kembang Bunga. Ia lantas memanggil dua petugas polisi hutan yang berjalan di belakang kami untuk memeriksa kondisi sedikit.

“Ada kotoran masih baru di sini,” kata salah satu petugas sambil menunjuk tumpukan kotoran yang ditinggalkan gajah.

Pagi itu, minggu ketiga Oktober lalu, kami berada di belakang Edward. Kami sedang menyusuri rute trakking merangsek ke dalam Taman Nasional Tesso Nilo di Kabupaten Palalawan, Riau. Jaraknya sekitar 5 jam perjalanan dari Pekanbaru.

Saya termasuk satu dari sekitar 20 jurnalis yang berjalan di belakang Erward. Lokasi yang diporak-porandakan gajah liar itu tak jauh dari Flying Scuad, tempat malamnya kami menginap. Ah, untung saja gajah itu tak merangsek ke penginapan kami, pikir saya.

Flying Scuad adalah semacam rescue unit untuk memantau agar gajah-gajah liar tak turun ke perkampungan. Di sana, ada enam ekor gajah peliharaan. Dua diantaranya diberi nama Tesso dan Nilo.

“Jangan khawatir, gajah liar tak bisa masuk ke pekarangan Flying Scuad karena pagarnya dialiri listrik  dari aki yang memberi efek kejut bagi gajah,” kata Edward ketika saya menyampaikan rasa khawatir seandainya gajah liar masuk ke areal tempat kami menginap.

Setelah meyakini gajah liar sudah meninggalkan lokasi itu, kami melanjutkan perjalanan menapaki rute trakking ekowisata di Taman NasionalTesso Nilo dan berujung di sebuah sungai nan lebar berair kecoklatan.

***

Taman Nasional Tesso Nilo adalah hutan dataran rendah di Riau. Ketinggiannya tak lebih dari 400 meter di atas permukaan laut.  Topografinya mendatar. Ini berbeda dengan Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh yang berada di kawasan pegunungan.

Areal Tesso Nilo adalah bekas kawasan Hutan Tanaman Industri di dua kabupaten: Pelalawan dan Indragiri Hulu. Pada 19 Juli 2004, kawasan itu dijadikan tanaman nasional dengan areal seluas 38.576 hektare. Namun, pada 19 Oktober 2009, taman nasional  itu diperluas menjadi  83.068 hektare.

Tesso Nilo adalah rumah bagi 360 flora (terbagi dalam 165 marga dan 57 suku), 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.

Diperkirakan ada 150 ekor gajah menetap di sana. Edward mengatakan jumlah itu adalah hampir dari total populasi gajah di Riau saat ini. Kamera jebak juga menangkap bahwa harimau berbagi tempat dengan gajah di sana.

Sayangnya, kehidupan gajah di sana terancam. Edward mencatat, pada 2012, sebanyak 15 ekor gajah mati diracun. Pada 2013 berkurang menjadi 7 ekor, namun naik lagi pada 2014 dengan jumlah 13 ekor mati diracun.

Tesso Nilo merupakan salah satu dari 200 Ecoregion yang ikut dikelola oleh World Wide Fund (WWF) Global.

Tesso Nilo menjadi buah bibir setelah pemain film Indiana Jones, Harrison Ford, mengamuk pada September tahun lalu. Ford melampiaskan kemarahannya kepada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan setelah memergoki penebang kayu liar mengangkut kayu dengan truk di kawasan Tesso Nilo.

Selain sebagai aktor Hollywood, Ford dikenal sebagai aktivis lingkungan hidup. Dia menjadi wakil ketua LSM lingkungan, Conservation International.

“Gara-gara kasus itu Kapolda Riau saat itu dicopot. Saya ikut menemani Harisson Ford saat memergoki pelaku penebang liar,” kata seorang polisi hutan yang menemani kami berkeliling.

Ford tak kuasa membendung kemarahannya. Ia merasa seolah-olah Indonesia tak peduli pada kerusakan hutan. Padahal, hutan tropis adalah paru-paru dunia dan penghasil oksigen bagi kehidupan di muka bumi.

Temuan Horrison Ford itu tak dibantah Edward. Ia menyajikan data mencengangkan: 53 ribu hektar kawasa lindung itu telah dirambah. Artinya, lebih separuh kawasan Taman Nasional Tesso Nilo telah rusak.

Edward lantas menyebut sejumlah kendala yang dihadapi di lapangan. Para perambah kebanyakan datang dari luar, lalu menebang pohon dan mengubah hutan menjadi kebun sawit. Adanya koridor jalan bekas HTI PT RAPP di tengah kawasan Tesso Nilo kian memperlancar kerusakan. Ada pula oknum tokoh masyarakat yang memperjual beli lahan.

“Masyarakat melakukan perlawanan ketika kami mensosialisasikan batas-batas kawasan taman nasional yang dilindungi,” kata Edward yang baru tiga bulan bertugas di sana. Sebelumnya ia adalah penyidik di Kementerian Kehutanan.

Penjelasan Edward itu mengingatkan saya pada Taman Hutan Raya Meurah Intan di kawasan Gunung Seulawah. Meski statusnya berbeda, namun pola perambahan tak jauh beda. Di Seulawah, pola jual beli tanah yang sudah dibersihkan juga terjadi dengan massif dan membuat pengelola hutan tak berdaya.

Di Tesso Nilo, kata Edward, ada pula pemodal yang membentuk kelompok tani untuk mengurusi kebun sawit. Walhasil, tantangan yang dihadapi kian berat. Apalagi, Edward kekurangan personil. Konflik pun tak terhindarkan.

LSM Scale Up yang fokus pada konflik di sektor kehutanan mengemukakan data mencengangkan.

Pada 2008 ,ada satu korban meninggal dan 76 orang ditangkap/dipenjara,  sedangkan di 2009 ada tiga korban meninggal dan 16 orang luka-luka.

Sementara pada 2010 ada satu korban meninggal disusul pada 2011 dua korban meninggal dan puluhan menghilang. Kasus serupa kembali terulang pada 2012: satu korban meninggal dan 37 orang luka-luka. Terakhir pada 2013 ada lima korban meninggal dan 27 orang luka-luka.

Menurut Ketua LSM Scale Up, Harry, akar konflik ini terjadi karena penghancuran struktur masyarakat hukum adat secara sistematis oleh negara pascalahirnya  UU 5/1979, di samping penunjukan dan atau penetapan sepihak kawasan hutan negara.

Selanjutnya, katanya, hak masyarakat hukum adat atas hutan dan tanah tidak mendapat ruang pengakuan yang nyata dalam kebijakan pembangunan daerah. Belum lagi orientasi pembangunan menitikberatkan industri skala besar berbasis lahan (HTI, HPH, perkebunan, tambang, migas) serta tumpang tindih kewenangan sektor pertanahan.

***

Usai menyusuri rute trakking, kami melanjutkan perjalanan melihat kondisi di sisi lain Tesso Nilo. Kali ini melintasi jalanan tanah dengan mobil. Yang dituju adalah kawasan yang telah diduduki oleh perambah. Mereka membuka kebun sawit di areal taman nasional.

Di daerah Sei Tapak, nampak banyak kebun sawit baru dan sisa pembakaran hutan. Padahal, lokasi itu termasuk kawasan taman nasional.

“Masyarakat tidak peduli. Terutama para pendatang,” kata Ilham Gobel, petugas Tesso Nilo, mendampingi kami.

Di sana, pada sebuah gubuk kecil, kami bertemu seorang ibu dan anaknya. Dia sedang menanam sayur pada lahan yang cukup luas yang di sekelilingnya masih tercium aroma puntung sisa pembakaran hutan.

Ibu ini mengaku baru menempati lahan tersebut sejak hari raya Idul Adha 2014. Namun, dia mengatakan telah membeli lahannya kepada seseorang yang tidak disebutkan namanya sejak dua tahun lalu dengan harga Rp2 juta untuk satu kapling tanah.

“Pemiliknya sudah meninggal. Saya segan membicarakan orang yang telah mati,” katanya dengan bahasa daerah setempat. Untungnya, dalam rombongan ada wartawan Riau yang menjadi penerjemah.

Kondisi itu memprihatinkan. Tapi warga seolah tak peduli.

“Kita khawatir. Bisa saja suatu saat terjadi kekeringan. Apa lah jadinya jika kebun luas, tapi air terpaksa harus membeli,” katanya.

***

Kerusakan hutan yang terjadi secara massif di Riau menimbulkan prihatinan banyak pihak, terlebih para pegiat lingkungan di luar negeri. Itu sebabnya, media massa dituntut berpartisipasi menyosialisasikan pentingnya kelestarian lingkungan bagi kehidupan masa depan.

Kunjungan kami ke Tesso Nilo adalah bagian dari workshop jurnalistik lingkungan yang digelar Asosiasi Jurnalis Lingkungan Indonesia SIEJ (The Society of Indonesian Environmental Journalist) pada 16-19 Oktober lalu. Titik fokus pembahasan adalah pada digitalisasi data sektor kehutanan bagi media massa.

Saya hadir di sana mewakili ATJEHPOSTco sebagai salah satu dari delapan media sindikasi SIEJ di seluruh Indonesia untuk isu-isu penyelamatan lingkungan.

“Selama ini data sektor kehutanan masih susah sekali ditemukan secara online. Kalau pun ada, sifatnya masih sangat terbatas,” kata Untung Widyanto, Dewan Pengawas SIEJ yang juga wartawan Tempo.

Selain dari pengelola Taman Nasional Tesso Nilo dan LSM setempat, panita juga menghadirkan pembicara dari World Resources Institute, lembaga riset yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, yang melahirkan Global Forest Watch.  Diundang pula,  perwakilan dari Earth Journalism Network yang juga berkantor pusat di Washington.

Andika Putraditama, perwakilan World Resources Institute di Jakarta mengatakan, di Indonesia lembaganya banyak terlibat dalam menyediakan data-data digital di sektor kehutanan.

Salah satu proyek yang mereka garap adalah menyajikan data kondisi hutan di seluruh dunia. Data yang berasal dari satelit Landsat 7 milik NASA, diolah dalam bentuk digital dengan bekerjasama dengan Google.

“Setelah diolah sedemikian rupa, pengakses data bisa membandingkan perubahan kondisi hutan di satu tempat dari tahun ke tahun,” kata Andika.

Menurut Andika, proyek itu lahir dari pengalaman susahnya memperoleh data sektor kehutanan.

“Bandingkan dengan data saham sektor ekonomi, dimana orang-orang bisa mengakses setiap hari bahkan di media umum. Namun, di sektor kehutanan hal itu belum terjadi,” kata Andika.

Global Forest Watch lewat situsnya globalforestwatch.org, kata Andika, menyajikan data kehutanan yang dapat diakses dan dipakai oleh media umum secara gratis.  Data itu juga menyajikan nama-nama pemilik areal Hak Pengelolaan Hutan (HPH), kawasan lindung, kawasan pertambangan, hingga lahan yang ditanami kebun sawit.

“Jadi ini tidak sekedar berbagi informasi, tetapi juga mengembangkan advokasi berbasis data yang terus diperbarui,” kata Andika.

Data yang diperoleh dari citra satelit Landsat 7 dalam resolusi tinggi, kata Andika, oleh Google diolah sedemikian rupa sehingga bisa tersaji dalam bentuk peta grafis satu layar.

“Kalau kita olah manual, butuh waktu 300-an tahun saking banyaknya, sementara dengan bantuan Google bisa selesai dalam 1,5 bulan,” ujarnya.

Pembicara lain adalah William Schubert. Ia terbang dari Washington khusus untuk melatih para jurnalis meliput kerusakan hutan.

Kata William, sudah saatnya media menggunakan metode geojurnalime untuk pelaporan kondisi sektor kehutanan di satu tempat.

“Geojornalisme adalah kombinasi dari peta dan cerita. Peta untuk memberikan gambaran lokasi dan bukti, sementara cerita menjelaskan apa yang terjadi di lokasi dalam peta itu,” kata William.

Data citra satelit, kata William, bisa diverifikasi menggunakan alat bantu berupa kamera yang disematkan pada layang-layang, balon, dan drone yang diterbangkan ke udara dan dapat dikontrol menggunakan remote control dari bawah.

“Inti dari jurnalistik adalah verifikasi untuk mendapatkan bukti apa yang sesungguhnya terjadi di satu kawasan hutan,” kata William.

Di Tesso Nilo, saya belajar tentang betapa beratnya tugas para pengelola hutan, hal yang juga dihadapi oleh mereka yang menjaga hutan Aceh. Tak jarang mereka seperti bertaruh nyawa.[]

Comments

comments