Pantai Momong; Sisi Lain Lampuuk

MATA saya terbelalak takjub menyaksikan pemandangan yang tersaji di depan mata: pasir putih yang berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari, batu-batu granit yang terpacak dari bibir pantai hingga ke laut, juga air laut nan biru kehijauan. Di belakang dan kiri kanan saya, berdiri tegak bukit karang yang ditumbuhi aneka pepohonan. Pohon-pohon tropis bertajuk lebar menjulang tinggi. Di sudut lain, nyiur melambai mengikuti irama angin. Dari kejauhan, tiga pemancing bertengger di atas batu. Garis pantainya yang hanya sekitar 500 meter melengkung membentuk teluk, menghadap ke Samudera India.

Inilah sisi lain pantai Lampuuk, Aceh Besar. Warga setempat menyebutnya Pantai Momong. Posisinya di sisi bawah kepala Pulau Sumatera. Terhampar di balik bukit karang Babah Dua, Lampuuk, pantai ini jarang dikunjungi orang. Pantai Momong baru bisa dicapai setelah mendaki bukit dengan berjalan kaki. Itu sebabnya, namanya jarang muncul di mulut para pelancong ketika berbagi kisah tentang keindahan pantai di Aceh.  Tak seperti Lampuuk yang dipenuhi pengunjung saban akhir pekan, pantai Momong betul-betul tersembunyi dari keramaian. Satu-satunya kegaduhan adalah suara debur ombak yang berkejaran, lalu pecah di pasir putih.

Ketika menjejakkan kaki di pantai ini pertengahan Januari lalu, adrenalin saya seolah berpacu, antara hasrat menceburkan diri ke laut, atau menikmati halusnya pasir lewat pijakan kaki. Saya memilih yang kedua: menikati hangatnya pasir yang terpanggang matahari bersama desir angin yang mencuatkan aroma anyir khas pantai. Berkali-kali saya memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya kembali. Inilah pusat refleksi alami tempat menghanyutkan lelah dan penat.

Di sisi selatan, samar-samar terlihat garis pantai Lampuuk yang sebagiannya terhalang bukit. Jauh di belakangnya gugusan bukit kapur di lokasi PT. Semen Andalas Indonesia di Lhoknga menjadi penyempurna lanskap maha karya Sang Pencipta.

Di pesisirnya, tak ada warung, apalagi restoran. Penginapan terdekat adalah Joel’s Bungalow dan Dian Rana yang letaknya dipisah oleh tebing bukit Lampuuk, sekitar dua kilometer dari pantai Momong.  Termasuk dalam Kecamatan Lhoknga, pantai ini berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat kota Banda Aceh.

Datang bersama sejumlah backpaker, saya tiba di Momong setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Banda Aceh.  Tiba di Gampong Lamlhom, kami berbelok ke kanan, mengikuti jalan kampung yang sudah beraspal. Melewati areal persawahan dan jalanan yang naik turun, kami tiba di Lam Girek, tepatnya di simpang menuju Pantai Langee. Di sana berdiri sebuah plang larangan bermalam bagi wisatawan lokal di Pantai Lagee dan Lampuuk.  Ada juga papan penunjuk arah menuju Joel’s Bungalow dan Dian Rana, dua penginapan yang biasanya dipakai untuk tempat menginap wisatawan asing.

Di jalan yang mengarah ke Joel’s Bungalow, sebelum tiba di pintu gerbang tempat penarikan restribusi masuk, kami mengarahkan kendaraan ke kanan, menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua. Diapit kebun kelapa, jalanan sempit dan berpasir. Jika tidak awas bisa-bisa roda kendaraan akan tergelincir. Di kaki bukit inilah titik terakhir yang bisa dilintasi kendaraan.

Sampai di sini perjalanan hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki. Lintasan yang akan dilalui adalah perbukitan dengan ketinggian sekitar 20 meter di atas permukaan laut. Kemiringannya tergolong landai, sekitar 30-45 derajat.

Tibalah saatnya untuk menyusuri jalan setapak dengan posisi menanjak di tengah hutan yang tak terlalu lebat. Hutan kecil ini adalah kebun-kebun milik penduduk di kawasan tersebut. Hanya saja tanaman yang tumbuh di sana tak ada yang spesifik. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya pohon-pohon bertajuk lebar yang hijau dan rimbun. Juga tanaman perdu dan belukar yang rendah.

Peluh dan deru nafas yang tersengal-sengal mewarnai perjalanan. Otot-otot kaki yang biasanya dimanjakan dengan kenyamanan bersepeda motor kali ini terasa regang. Namun rasa penasaran membuat kaki terus melangkah. Tak peduli pada rasa pegal dan bulir keringat yang menyembul lewat pori-pori. Sepoi angin dan udara yang sejuk tak mempan mengusir rasa capek yang hinggap di persendian. Selama perjalanan yang terbayang hanyalah kabar tentang kemolekan pantai itu.

Puncak dari pendakian kecil ini adalah melewati bukit yang terbelah bak gapura. Setelah itu rute yang dilalui berupa turunan. Meski begitu tetap harus berhati-hati dan tak boleh lengah. Sedikit saja kurang konsentrasi bukan tak mungkin kaki akan terpeleset atau tersandung dengan akar-akar pohon yang muncul di balik permukaan tanah.

Dari atas bukit ini sayup-sayup suara debur ombak tertangkap indera. Itu artinya perjalanan ke pantai tersembunyi Momong akan segera sampai. Secara keseluruhan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas hingga dua puluh menit untuk mendaki. Tapi lumayan menguras energi, terutama bagi yang jarang melakukan perjalanan berat. Namun begitu melihat bayangan pantai dari balik rimbun pepohonan rasa lelah tadi akan langsung tertebus. Dari sini kita akan melihat kilau permukaan laut yang bergradasi dengan nuansa abu-abu bercampur kehijauan. Tersaji pemandangan seperti ini di depan mata, rasanya tak sabar untuk segera sampai ke bawah.

Bibir pantai hanya berjarak beberapa puluh langkah saja dari sini. Jika ingin memulihkan stamina yang terserobot oleh perjalanan tadi, bisa beristirahat sejenak di bawah pohon cemara yang tumbuh di ujung barat.

“Saya sendiri baru mengetahui keberadaan pantai ini sejak awal 2013,” kata Arie Yamani, travel guide yang memandu beberapa wisatawan lokal ke Momong hari itu. Sejak mengetahui keberadaan pantai indah itu, Arie menjadikan Momong sebagai salah satu destinasi khusus untuk tamu-tamu spesialnya. “Momong juga sering dikunjungi bule-bule yang menginap di bungalow dekat sini, semacam private beach lah bagi mereka,” katanya. “Pantai ini cocok untuk mereka yang ingin dekat dengan alam dan tak menyukai keramaian.”

***

BONGKAHAN batu-batu granit ukuran besar di sisi barat pantai Momong memberi nuansa lain. Batu-batu itu membentuk dinding tebing yang kokoh dan terkesan angkuh. Di sela-sela batu ikan-ikan hias dan ikan karang berenang mengikuti gerak air. Di tumpukan bebatuan juga terlihat ganggang hijau bertumpuk-tumpuk dengan tekstur yang keras. Selain ganggang juga ada biota laut lainnya yang tampak asing bagi kami. Inilah akuarium alam yang memantul di balik jernihnya air laut.

Karena penasaran saya kembali menaiki sisi bukit di sebelah kanan. Ini jalan teraman untuk sampai ke tumpukan-tumpukan batu di sisi lainnya. Setelah berjalan tak begitu jauh, di luar dugaan, saya bertemu kawanan kupu-kupu bermotif kuning, putih dan hitam yang menyolok. Kepakan sayapnya membuat saya berdecak takjub.

Tak hanya kupu-kupu, juga ada sekumpulan capung yang hinggap di dedaunan dan beterbangan bebas. Perlahan saya menuruni bukit dan mulai menginjakkan kaki dengan hati-hati ke tumpukan batu. Berjalan dari batu ke batu, kadang harus melompat, membutuhkan tenaga lebih dan harus ekstra hati-hati. Lengah sedikit saja, kaki bisa terpeleset dan berakibat fatal.

Menyusuri pantai berbatu granit dengan lanskap pemandangan laut lepas memang memberikan sensasi tersendiri. Pantai ini jelas berbeda dengan karakter pantai-pantai lainnya di Aceh Besar. Backpacker asal Jakarta, Ale, yang hari itu mengeksplorasi Momong menyandingkan pesonanya dengan keindahan pantai di Belitung. “Yang di Belitung permukaan batunya lebih halus,” kata Ale yang pernah mengunjungi beberapa pantai di Aceh.

Salah seorang backpacker lokal, Al Hayat, ‘mengiming-imingi’ saya pada pesona lain yang dimiliki Momong. Tak jauh dari tempat itu konon ada benteng yang diduga sebagai peninggalan zaman Jepang. Harus melewati gundukan batu-batu besar untuk sampai ke ‘benteng’ tersebut. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita itu, saya memang melihat dua karang besar yang menghadap ke laut lepas. Bentuknya yang lebar dan tinggi terkesan gahar, cocok dijadikan sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh.

Puluhan tahun silam kata Arie di tempat ini memang pernah ditemukan meriam peninggalan Jepang. Sekitar tahun 80-an meriam tersebut dipindahkan ke Krueng Raya. “Kini meriam Jepang itu ada di bukit Soeharto, kondisinya masih bagus walau tidak begitu terawat. Posisinya pas di depan rumah yang pernah disinggahi Soeharto semasa beliau ke Aceh. Kondisi rumah tersebut tinggal pondasi dan lantainya saja,” katanya.

Tujuan terakhir saya di Momong adalah menaiki tebing batu yang menjulang di belakang ‘benteng’ tadi. Mengandalkan pijakan kaki yang kuat, dan berpegang pada ujung-ujung batu yang menonjol di atas permukaan tanah, saya menaiki bukit tersebut. Ale memberi sedikit tips, saat mendaki atau menuruni bukit katanya, sebaiknya tidak berpegangan pada batang atau akar pohon. “Bahaya kalau pohonnya tercabut,” katanya.

Dari puncak tebing ini, ketika saya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru yang terlihat hanya birunya laut. Di ujung barat matahari terlihat semakin rendah. Pertanda sebentar lagi ufuk akan segera menelannya. Gugusan bukit Barisan di ujung selatan terlihat sangat jelas dan memesona. Terpaan angin pantai yang sejuk sungguh membuai dan melenakan.

***

DUA jam rasanya terlalu singkat berada di Momong. Setelah puas menikmati ‘tubuh’ seksinya dari berbagai sisi, saya memutuskan pulang. Saya juga berpapasan dengan sepasang bule dari Kanada yang tampak begitu menikmati suasana. Sepasang suami istri itu, sambil bergandeng tangan dan bertelanjang kaki menjejakkan kakinya ke pasir yang empuk. Bekas pijakan kaki mereka meninggalkan cetakan di atas pasir.

Bonus trekking ke Momong adalah menikmati senja yang pelan-pelan tergelincir. Bias jingga dan kemerahan merona dari ufuk barat, memunculkan nuansa temaram nan romantis. Bersama matahari yang kian jauh terbenam, saya meninggalkan Momong diiringi lengkingan suara serangga malam. | Majalah The Atjeh | foto: arieyamani.blogspot.co.id

Comments

comments