Catatan Nemo Headline2 People

Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya karena Tak Punya Uang Seribu (Bagian 4)

Rusli Bintang bersama anak yatim yang disantuninya

MENYANTUNI anak-anak yatim dan berbagi rezeki pada momen-momen penting sebenarnya adalah ketulusan yang sangat bernilai. Ini adalah sebuah kebaikan. Namun, bagi Rusli itu belumlah cukup sebab kenyataan yang dialami anak-anak yatim yang dikunjungi dan disantuninya selama ini hanya berjuang mempertahankan hidup saja.

Sementara kebutuhan mereka bukan hanya soal makan. “Mereka juga membutuhkan pendidikan. Jika tidak berpendidikan, bagaimana mereka bisa membangun masa depan,” kata Rusli kepada orang kepercayaannya Joni Makmur.

Sebelum Joni sempat bicara, Rusli melanjutkan kalimatnya, “Jika masih menganggap mereka manusia, mari berjuang semampu kita untuk membuka peluang itu. Membuka ruang pendidikan yang mereka butuhkan. Kita berusaha sekuat yang kita mampu.”

Saat menyinggung hal itu, Rusli teringat pada almarhum ayahnya, Bintang Amin, yang seorang mantri kesehatan itu. Ketika menemaninya ke pelosok-pelosok kampung mengobati orang sakit yang butuh pertolongan, banyak di antaranya yang tak memiliki cukup uang untuk membiayai pengobatan. Bintang membantunya, bahkan menyediakan obat yang dibutuhkan secara gratis, tentu saja jasanya sebagai mantri juga tanpa bayaran.

Karena ketulusannya itu, keluarga Bintang memang cuma dapat hidup sederhana. Bintang hanya memiliki sepeda untuk keluar masuk kampung menyambangi warga yang memanggilnya, dan rumah panggung untuk tempat berteduh anak dan istrinya. Namun, ia tetap bahagia. Rusli melihat pancaran kebahagiaan menaungi ayahnya setiap ia menolong orang.

“Melalui kebaikan dan keikhlasan yang kita berikan untuk membantu sesama, dari situ kita menuai kebahagiaan. Seberapa banyak pun harta yang kita miliki tak akan mampu membeli kebahagiaan,” Rusli teringat kata-kata ayahnya seolah-olah hadir di depan matanya.

Bayangan ayahnya berkelebat menghilang, tergantikan wajah anak-anak yatim. Rusli melihat dirinya dan adik-adiknya ada di antara mereka dan berkumpul menjadi satu. Bertubuh kurus yang terbungkus kulit yang kering, mereka anak-anak yang berselimut dinginnya angin malam, dan berpayung panasnya terik matahari, menggantungkan harapan pada awan kelabu. Bersama mereka hanya ada kasih sayang janda yang juga telah kehilangan separuh hatinya, yang detak jantungnya adalah kerisauan akan nasib anak-anaknya.

Foto: Dok. Universitas Abulyatama
Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Rusli bukannya tak tahu bahwa ia tinggal di sebuah daerah yang sangat terkenal dengan kejayaan masa lalu dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Menurut catatan sejarah, pada abad ke-14, Kerajaan Aceh telah menyumbang kepada tamadun Melayu, sistem kerajaannya yang teratur, dan menjadi pusat penyebaran ilmu. Kemudian, pada abad ke-17, Aceh saat dipimpin Sultan Iskandar Muda adalah kerajaan yang kaya dan makmur, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau, Sumatera Timur, hingga Perak di semenanjung Malaysia.

Lalu di era kemerdekaan Republik Indonesia, dalam perut bumi Tanah Rencong ini ditemukan ladang gas alam terbesar di dunia pada 1971. Berlokasi di Desa Aron, Lhokseumawe, ladang ini dikelola oleh PT Arun NGL —perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Pertamina 55 persen, Mobil Oil Indonesia (kini menjadi ExxonMobil Oil) 30 persen, dan JILCO dariJepang 15 persen. Berapa banyak kekayaan alam yang dihasilkan dari sini, tak pernah dipublikasikan. Kini saat api Arun mulai meredup, rakyat Aceh tak pernah tahu berapa banyak kekayaan alamnya yang telah disedot. Itu baru gas alam, belum tambang-tambang lainnya.

Andaikata sedikit saja mengalir ke rakyat, mungkin kemiskinan akan menjadi sesuatu yang langka. Begitu juga dengan anak-anak telantar dan anak-anak yatim. Namun, kenyataannya, tak ada sesuatu yang lebih baik dirasakan rakyat Aceh. Di daerah yang berjuluk “Serambi Mekah” ini masih sangat banyak orang yang menganggur, kemiskinan, dan juga anak-anak yatim menjadi anak alam tanpa ada yang menghiraukan. Bahkan kemiskinan itu hanya seperlemparan batu dari pusat perusahaan yang memiliki aset Rp10 triliun itu.

Rusli sangat paham tentang cerita itu. Namun, ia tak mau disibukkan untuk berpikir tentang sesuatu yang dapat menyita perhatian dan menyedot energinya. Itu hanya membuang-buang waktunya saja sebab bagi Rusli percuma mengeluh hanya akan membuatnya tak sempat bekerja. Sia-sia bercerita tentang keburukan karena hanya akan menghabiskan waktu yang dibutuhkan untuk berbuat baik.

rusli-bintang-anak-yatim3 rusli-bintang-anak-yatim5

Maka, ia lebih memilih bergerak dengan ketulusan hatinya sendiri, mengambil satu sisi peran kehadirannya di kehidupan dunia, yaitu membantu anak-anak yatim. Setelah menyantuni, ia juga ingin mereka memiliki pendidikan dan jaminan kesehatan.

“Baiklah, Bang, saya tentu membantu dengan sungguh-sungguh,” suara Joni, salah seorang kepercayaan Rusli, menyentak lamunan Rusli. Bayang-bayang tadi membuyar laksana asap tertiup angin.

Namun, bagaimana caranya? Bukankah Rusli tidak pernah duduk di perguruan tinggi? Ternyata itu tak menjadi persoalan baginya sebab ia memiliki kemauan untuk itu sehingga mencari jalan mewujudkannya. Ibarat pepatah, dimana ada kemauan, di situ ada jalan.[] Bersambung ke Bagian Lima

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud.

Comments

comments

About the author

Yuswardi A Suud

1 Comment

Click here to post a comment

Topics