Kisah Rusli Bintang Kehilangan Adiknya karena Tak Punya Uang Seribu (Tamat)

Lalu, ia pun menemui siapa saja yang bersedia mengajarkannya mendirikan lembaga pendidikan, termasuk salah satu di antaranya adalah Profesor Ali Hasjmy, Gubernur Aceh (1957-1964). Saat bertemu Rusli, sekitar tahun 1983, Ali Hasjmy menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh.

Hingga kemudian dalam sebuah pertemuan pada 5 April 1983, Rusli menyatakan mendirikan Yayasan bernama Abulyatama yang artinya “bapak anak yatim”. Pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh Aceh, di antaranya Profesor Ali Hasjmy. Selain itu ada Dr. Safwan Idris yang merupakan cendekiawan dari Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh (sekarang UIN Ar-Raniry), dan dua tokoh dari kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, yaitu Dr. Ali Basyah Amin dan Ir. Imran A. Rahman, M. Eng. Bersama mereka ada juga pejabat dari Dinas Pendidikan, yaitu Margono, dan Pimpinan Dayah Darul Ma’arif Peukan Ateuk-Kuta Baro Teungku Muhammad Zamzami, beserta Joni Makmur.

Ide ini kemudian terwujud dalam akta notaris Yayasan Abulyatama yang diterbitkan pada 31 Mei 1983, dan disempurnakan pada 18 Juli 1983. Ketika pertama yayasan berdiri, Rusli duduk sebagai Badan Pendiri dan Komisaris Umum. Ia mempercayakan Profesor Ali Hasjmy untuk menjadi Ketua Yayasan, dan Joni Makmur sebagai Sekretaris Yayasan.

Setelah terbitnya keabsahan yayasan, langsung dirancang lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi yang waktu itu masih bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abulyatama.

Bersamaan dengan itu, didirikan juga sebuah Pondok Pesantren Abulyatama. Rusli yang langsung memimpin pesantren mengirim sejumlah tim untuk studi banding dan belajar di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur sebab Rusli menginginkan pesantren modern.

Foto: Dok. Universitas Abulyatama
Foto: Dok. Universitas Abulyatama

Setelah sekolah dan pesantren berdiri, langkah pertama yayasan adalah menyantuni 750 anak yatim di Kuta Baro. Bahkan, anak-anak yatim inilah yang pertama menjadi pelajar di semua sekolah yang didirikan Rusli pada tahun ajaran 1983/1984, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, dan pondok pesantrennya. Hingga kemudian yang datang belajar di sini tak hanya anak yatim di Kuta Baro, tetapi juga dari seluruh Aceh dan Pulau Jawa.

Bukan saja anak-anak yatim ini bisa bersekolah dengan cuma-cuma. Bahkan, mereka juga mendapatkan pakaian, jatah hidup, biaya sekolah dan perlengkapan, transportasi dari rumah ke sekolah, dan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bagi yang berprestasi.

Begitu juga dengan STKIP Abulyatama. Setelah mendapat izin dari Kopertis Wilayah I di Medan pada 22 Oktober 1983, STKIP ini langsung dapat menerima mahasiswa pada tahun ajaran 1983/1984. Antusias masyarakat luar biasa, baru pertama dibuka di tahun itu saja ada 680 mahasiswa yang masuk ke Abulyatama. Jadilah ini perguruan tinggi swasta yang pertama di Aceh, berdampingan dengan dua perguruan tinggi negeri saja, yaitu Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry.

Adalah lahan seluas 10 hektare di Lampoh Keudee, Kuta Baro,  Aceh Besar— yang menjadi kantong pendidikan yang digagas Rusli ini. Di sini ia membangun gedung-gedung sekolah dan juga tempat pondokan anak-anak yatim yang jauh dari rumahnya, bahkan Rusli pun tinggal di areal kampus.

Jangan berpikir niat baik Rusli berjalan dengan mulus. Mulanya muncul juga penolakan. “Memang pada masa itu belum semua masyarakat bisa menerima kehadiran kampus,” kata Musa Bintang. Walaupun penjelasan secara sederhana sekalipun, sebagian warga masih saja menentang.

“Pernah kita sampaikan, nanti ekonomi di sini juga ikut berkembang, mereka bisa membuka tempat kos, menyewakan rumah, malah mereka makin menentangnya sebab mereka berpikir jika menyewakan rumahnya, maka mereka akan keluar dari rumah,” kata Musa lagi.

Segala rintangan itu tak menjadi persoalan bagi Rusli. Ia tetap terus berjalan bersama anak-anak yatimnya itu. Bahkan, anak-anak yatim yang bersekolah di situ ikut membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sederhana, misalnya mereka beramai-ramai membersihkan sekolah agar tetap asri, juga mengecat sekolah agar terus kelihatan cantik. Kadang-kadang, ketika malam hari mahasiswa membuat taman agar kampus terlihat indah.

Melihat anak-anak yatim yang juga ternyata ikhlas bersamanya membuat Rusli makin yakin dengan apa yang dijalankannya itu. Itulah sebabnya, Rusli kemudian fokus di dunia pendidikan. Ia meninggalkan bisnisnya yang lain, bahkan dia menjual aset-asetnya untuk menambah fasilitas di kampusnya ini. Jadi, tak heran di masa itu kampus Abulyatama sudah memiliki bus untuk antarjemput mahasiswa dan anak-anak sekolah.

Awal 1984, Rusli ingin meningkatkan status STKIP Abulyatama menjadi universitas. Tanpa menunggu lama, Rusli membentuk tim kerja pada 25 Januari 1994 yang dipimpin oleh H. Badruzaman, S.H. dan sekretarisnya Drs. M. Ali Oesman. Bersama mereka ada delapan anggota, yaitu Drs. M. Diah Husen, Drs. Yusrizal, Drs. Umar Usman, dan Drs. Nasruddin, Ridwan Ibrahim, M. Dahlan, Syarifuddin, dan Abdurrahman Yusuf.

Berselang lima bulan dari pembentukan tim ini, lahirlah Universitas Abulyatama. Jika merujuk pada dokumen resmi, Universitas Abulyatama bermula dari surat izin prinsip dari Kopertis Wilayah I Medan pada 15 Mei 1984. Ini menjadi pegangan yayasan untuk menerima mahasiswa. Kemudian, Kopertis menerbitkan lagi surat izin operasional pada 11 September 1984. Universitas Abulyatama pun mulai berjalan di bawah pimpinan Dr. Safwan Idris yang didapuk menjadi rektor pertama. Adapun STKIP Abulyatama melebur ke dalam Universitas Abulyatama.

Sejak itu, Rusli berjibaku dengan dunia pendidikan. Fasilitas kampus, sekolah, dan pesantren dibangunnya. Bahkan, ia mendirikan sebuah masjid di lingkungan kampus yang juga terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan akademik mahasiswa berjalan dengan baik. Setahun kemudian, tepatnya pada 1 Oktober 1985, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan surat status terdaftar untuk Universitas Abulyatama.

safwan-idris-abulyatama

Empat tahun kemudian, Universitas Abulyatama sudah menyandang status diakui dengan Surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 11 April 1989. Kemudian kementerian meningkatkan lagi statusnya menjadi disamakan pada 26 Juli 1990. Status ini sangat bergengsi sebab kampus bisa menyelenggarakan ujian negara sendiri, artinya sudah disamakan dengan negeri.

Itulah sebabnya, prosesi wisuda pertama kali di kampus anak yatim ini dihadiri Menteri Olahraga Ir. Akbar Tandjung, 22 Mei 1990. Kemudian, wisuda kedua, 5 Juni 1991, datang Siti Hardianti Rukmana (Mbak Tutut), putri sulung Presiden RI Soeharto  dan Gubernur Aceh Prof. Dr. Ibrahim Hasan. Mbak Tutut juga yang meresmikan gedung pesantren terpadu Abulyatama. Wisuda ketiga, 8 Agustus 1992, dihadiri oleh Direktur Perguruan Tinggi Swasta Prof. Juhara Sukra. Kemudian wisuda keempat, 5 November 1993, dihadiri oleh Prof. Sambas Wirakusumah sebagai pengganti Juhara.

rusli-bintang-wisuda-abulyatamarusli-bintang-mbak-tutut

Di setiap wisuda, para elite negeri ini yang hadir selalu didampingi oleh anak-anak yatim yang memang khusus diundang Rusli ke kampus. Di sini mereka mendapat santunan dari kampus dan para mahasiswa yang telah lulus. Rusli mewajibkan kampusnya untuk mengundang anak-anak yatim di setiap acara apa pun. Bahkan, semua lembaga yang didirikannya itu juga memberi beasiswa untuk anak yatim, serta menyantuni biaya hidup dan kebutuhan pendidikannya.

Ketika Yayasan Abulyatama yang kini diketuai oleh Dr. Muhammad Kadafi menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. pada 5 April 2015, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof Mohammad Nasir menghadirinya dan berbaur dengan anak-anak yatim di sana. Didampingi Rusli dan Rektor Abulyatama Ir. R. Agung Efriyo Hadi, Ph.D., Nasir duduk bersimpuh makan bersama anak-anak yatim.

Di kampus ini Nasir melihat sendiri perkembangan Universitas Abulyatama. Secara akademik, Universitas Abulyatama juga sudah berkembang dengan baik. Dari semula cuma ada Fakultas Keguruan dan Pendidikan, Teknik, Ekonomi, dan Pertanian, sudah bertambah beberapa fakultas lagi, di antaranya Fakultas Hukum, Perikanan, Kesehatan Masyarakat, dan Kedokteran. Di Aceh untuk universitas swasta hanya Universitas Abulyatama yang memiliki Fakultas Kedokteran.

Kegiatan akademik itu didukung dengan berbagai fasilitas, seperti laboratorium, perpustakaan, sarana olahraga, asrama, kantin. Semuanya berada di atas areal yang sudah bertambah dari 10 hektare, kini sudah menjadi 50 hektare.

Kini, selain Abulyatama dan Malahayati, Rusli Bintang juga mendirikan Institute Kesehatan Jakarta dan Universitas Batam.

Pengalaman hidup telah membuat pria berusia 66 tahun itu  paham benar arti pendidikan dan makna berbagi untuk sesama.[] Tamat

Catatan: Tulisan Ini Adalah Penggalan Kisah Dalam Buku “Inspirasi, Spirit & Dedikasi” karya Nurlis E. Meuko dan editor Yuswardi A. Suud.

Comments

comments

About the author

Yuswardi A Suud

6 Comments

Click here to post a comment