Geurumbang dan Pantai Lhok Mee

BERJARAK sekitar satu kilometer dari bibir pantai di atas bukit, pucuk-pucuk pohon yang tumbuh di Lhok Mee terlihat menyembul dari laut. Berlatar birunya laut, pucuk-pucuk pohon itu melambai mengikuti gerak angin. Namun begitu jalanan mulai menurun pemandangan tadi ikut menghilang. Wujud pohon itu kembali terlihat setelah tiba di pantai.

Geurumbang! Begitu warga sekitar menyebut nama pohon yang masuk dalam marga Sonneratia ini.

Dibandingkan pohon-pohon lain yang tumbuh di pantai Lhok Mee, Krueng Raya, pohon ini sangat unik karena tumbuh di air laut yang memiliki kandungan garam sangat tinggi. Bukan di rawa-rawa berarir payau yang lazimnya menjadi habitat tanaman sejenis. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Juga menambah eksotisme Lhok Mee yang terkenal dengan pasir putihnya.

Akhir Januari lalu saya menyusuri bibir pantai Lhok Mee untuk melihat geurumbang dari dekat. Sejatinya geurumbang termasuk pepohonan yang berfungsi sebagai penangkal abrasi. Tapi di sini jumlahnya sangat terbatas. Tidak tumbuh di sepanjang garis pantai.

Siang itu air laut sedang surut. Untuk mencapai pohon geurumbang saya hanya melewati air yang sebatas mata kaki. Saat sore hari airnya naik hingga ketinggian sebatas lutut. Penasaran, saya memanjat sebatang geurumbang paling besar yang ada di sana. Diameter batangnya kira-kira sebesar drum minyak. Membentuk tajuk lebar yang rindang dengan ketinggian melebihi sepuluh meter.

Bentuk daunnya lonjong. Bertekstur lembut dan berdaging tapi rapuh. Batangnya juga khas, dipenuhi pepagan (kulit kayu) yang retak membentuk sisik-sisik kasar seukuran dua jari hingga sebesar telapak tangan. Ukuran pepagan mengikuti diameter batang geurumbang. Kulit batangnya berwarna hitam keputih-putihan atau hitam pudar.

Akar-akarnya menancap ke pasir. Ada juga yang menjalar dan menyebar hingga radius lima meter dari pangkalnya. Akar-akar itu memiliki mata; semacam tunas yang muncul bertebaran di atas permukaan pasir. Bentuknya runcing dan tinggi mencapai satu hingga dua jengkal. Tunas-tunas ini disebut akar napas; akar yang tumbuh dan berkembang dengan fungsi sebagai pembantu pernafasan tanaman.

Pantai Lhok Mee berada di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya. Masuk Wilayah Aceh Besar. Garis pantainya yang ditumbuhi geurumbang berkisar lima ratus meter. Itupun berkelompok, tidak tumbuh rapat dan menyebar di sepanjang bibir pantai. Selebihnya sama dengan garis pantai pada umumnya.

Salah seorang warga setempat, Nurmala, 36 tahun, bercerita tentang keunikan geurumbang. Sehari-hari Nurmala mencari nafkah sebagai penjual ikan bakar di Lhok Mee. Pohon yang dikenal dengan nama perepat merah atau pidada merah ini tumbuh di depan pondok ikan bakarnya. Ia menyadari manfaat langsung dari keberadaan pohon tersebut.

Bak geurumbang mempunyai fungsi antiabrasi atau penanggul ombak,” kata Nurmala dalam bahasa Aceh. Menurutnya pohon itu memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis pohon bakau lainnya. “Pohon bangka dan jampee tidak bisa tumbuh di air laut,” kata Nurmala menyebutkan dua jenis pohon bakau yang dikenalnya.

Nurmala yang lahir dan besar di gampong pesisir itu menjadi saksi pertumbuhan geurumbang yang memprihatinkan. Dua puluh tahun silam katanya ia masih melihat deretan pohon-pohon geurumbang yang segar dan rindang. Seiring berjalannya waktu populasi geurumbang di pantai itu menyusut drastis.

“Tidak ada tunas yang hidup, saya tidak tahu cara pohon itu tumbuh, saya hanya melihat pohon yang itu-itu saja tanpa ada anaknya, dan kian hari semakin berkurang jumlahnya,” katanya.

Pascatsunami, saat Nurmala mulai membuka usaha warung ikan bakar di sana, ia sudah melihat lima pohon geurumbang tumbang karena mati dan lapuk. “Itu yang terakhir kali tumbang,” Nurmala menunjuk ke genangan air tak jauh di depan pondoknya.

***

GEURUMBANG memiliki nama latin Sonneratia caseolaris. Termasuk jenis pohon penghuni rawa-rawa di tepi sungai dan hutan bakau. Namun pohon ini mampu bertahan hidup di air yang memiliki kandungan garam sangat tinggi. Seperti halnya yang tumbuh di pantai Lhok Mee.

Spesies mangrove ini berhasil tumbuh di lingkungan air laut karena memiliki beberapa bentuk adaptasi yang khas. Umumnya terkait upaya bertahan hidup dalam kondisi salin (bergaram), bertahan dalam lumpur anaerob dan tidak stabil serta untuk perkembangiakan.

Tanaman ini memiliki nama berbeda-beda di tiap daerah. Dalam bahasa Melayu ada yang menyebutnya alatat dan berembang. Di Banjarmasin dikenal dengan nama pedada, perepat merah, dan rambai. Serta bogem, betah, bidada dan kapidada dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Kemudian ada juga sebutan bhughem, poghem dalam kehidupan masyarakat Madura, wahat merah, warakat merah di Ambon, serta posi-posi merah di Ternate. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan mangrove apple. Di Aceh pohon ini dinamai geurumbang.

Lazimnya sebatang pohon, geurumbang juga memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Selain sebagai penangkal abrasi di pinggir sungai atau laut. Sebagian masyarakat Indonesia dan penduduk di belahan dunia lainnya, memanfaatkan buah geurumbang untuk dimakan. Daunnya yang muda kerap menjadi lalapan.

Buahnya sering dimakan mentah, atau dimasak sebagai campuran ikan. Di Kalimantan Selatan buah ini dijadikan bahan ramuan bedak dingin. Kayunya memiliki kualitas rendah, sering dijadikan sebagai kayu bakar. Akar napasnya relatif lunak dan banyak mengandung rongga renik, kerap digunakan sebagai pengganti gabus untuk membuat tutup botol dan bagian dalam sol sepatu.

Dosen Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, Feri Suryawan, M. Si, mengatakan geurumbang memiliki jumlah biji yang banyak. Biji-biji itu terkumpul dalam rongga buah. Jumlahnya bisa lebih dari 400 butir.

“Geurumbang berkembangbiak melalui buah yang matang. Tumbuhan seperti ini banyak ditemui di daerah barat – selatan Aceh,” ujar dosen yang pernah melakukan penelitian khusus tentang mangrove di Aceh ini.

Pohon geurumbang menurutnya mudah ditemui mulai dari kawasan Lhoknga di Aceh Besar hingga ke pesisir Aceh Barat. Usia pohon ini sedikit lebih panjang dari usia mangrove pada umumnya.

“Usianya bisa mencapai 10 hingga 20 tahun. Ketinggiannya juga bisa mencapai 15 meter,” kata dia.

Selain itu juga terdapat di beberapa titik lainnya di kawasan pantai timur Aceh. Namun di daerah ini umumnya didominasi mangrove jenis lain.

“Tak semua jenis mangrove ada di Aceh. Yang paling umum ditemukan adalah Rhizophora atau bangka serta satu lagi geurumbang,” ujarnya.

***

Duta Mangrove Aceh, Martunis, punya kenangan tak terlupakan dengan pohon bakau. Sembilan tahun silam ia pernah terseret tsunami. “Saya selamat karena bertahan di atas pohon mangrove setelah terlebih dahulu diseret tsunami,” kata remaja kelahiran 10 Oktober 1997 ini. Waktu itu kisahnya sempat diberitakan media internasional. Adik angkat Ronaldo ini juga mengungkapkan keberadaan geurumbang yang kian langka. “Sudah seharusnya kita kembali melestarikannya,” ujarnya.

Dilihat dari sisi ekonomis keberadaan geurumbang dan hutan bakau lainnya sangat berguna bagi masyarakat. Hutan bakau memiliki peranan penting untuk perkembangiakan ikan, udang atau kepiting serta biota lainnya. Manfaat inilah yang dirasakan Mustafa, 34 tahun, warga Gampong Bak U Sibak, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Mustafa sudah menjalani profesi sebagai pencari kepiting di hutan bakau sejak masih di bangku SMA. Menurutnya ada perbedaan menyolok antara masa sebelum tsunami hingga sesudah tsunami melanda Aceh di pengujung Desember 2004 silam.

“Dulu bak bangka jauh lebih lebat dan kepiting jauh lebih banyak. Dulu sekali turun cari kepiting bisa mencapai ratusan ribu. Sedangkan sekarang hanya puluhan ribu rupiah,” ujar Mustafa. Tak bisa dipungkiri pascatsunami banyak hutan bakau di daerah pesisir yang rusak parah.

Geurumbang telah menjadi ikon pantai Lhok Mee. Tak hanya geurumbang yang tumbuh di sana. Juga ada pohon ketapang, waru dan kelapa. Ada juga jenis tumbuhan pantai lain yang dalam bahasa lokal disebut beum. Setelah seharian berada di Lhok Mee, menjelang matahari terbenam saya pun meninggalkan pantai indah itu. | Majalah The Atjeh

Comments

comments