Kurok-kurok Tentara Kutu Tanah di Sabang

PULAU WEH memang anugerah terindah bagi Aceh. Tempat ini laksana kayangan kesepian yang diapit Selat Malaka dan Samudera Hindia. Tak hanya pesona alam tersebar di punggungnya yang seluas 156 kilometer per segi itu saja menjadi penggoda rasa, bawah lautnya juga mampu membangkitkan birahi penyelam mencandai aneka ragam hayati.

Isi perut pulau ini pun mampu mengaduk-aduk kenangan eksotik tentang kurok-kurok. Ini bukan tentang kutu tanah bernama undur-undur yang dalam bahasa Aceh disebut kurok-kurok, melainkan jejak sejarah tentara Jepang yang hingga kini masih ada di sini.

Ketika wartawan The ATJEH menjelajahi surga di ujung Sumatera itu pada awal Oktober 2013, benteng-benteng Dai Nippon masih tersebar di bawah Kota Sabang hingga ke bibir pantai. Di antaranya dapat dimasuki, sebagian lainnya sudah tertimbun tanah dan semak belukar.

Sebetulnya tak ada nama resmi untuk benteng-benteng pertahanan yang dibangun tentara Jepang saat menjajah negeri ini dalam kurun waktu 1942-1945. Hanya saja, pola membangun persembunyian seperti perilaku kutu tanah itulah yang membuat orang Aceh menabalkan nama “kurok-kurok”.

Diperkirakan, Jepang menggali tempat bersembunyi sekaligus untuk mengintai musuh itu setelah menguasai sebagian Asia Tenggara.

Sejarah mencatat, Perdana Menteri Jepang Hideko Tojo menerbitkan perintah menguasai sumber alam di Asia Tenggara. Ini dilakukannya setelah embargo minyak dari Amerika.

Keputusan Hideko diikuti pengiriman bala tentara ke setiap sasaran yang dituju pada Oktober 1941. Kawasan Asia Tenggara yang menjadi target Jepang tak lain adalah Filipina, Malaysia, Singapura, dan Pulau Jawa. Penyerangan bersandi Operasi Selatan ini mengerahkan kekuatan 11 divisi infantri, tujuh resimen tank, serta 795 pesawat tempur.

Pada masa penyerangan itulah tentara Jepang memasuki Pulau Weh. “Awalnya berada di Malaya (Malaysia), Aceh mengirimkan utusan meminta Jepang cepat-cepat masuk ke Aceh. Tujuannya mengusir Belanda karena lama berperang, namun tidak ada yang menang ataupun kalah,” kata Rusdi Sufi, sejarawan dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Jepang mendarat di Aceh pada Maret 1942. Mereka masuk ke tiga wilayah. Mula-mula ke Sabang, lalu Ujong Batee di Aceh Besar, kemudian di Peureulak, Aceh Timur.

Rupanya Aceh keliru berharap bantuan Jepang. Yang terjadi justru Dai Nippon memanfaatkan rakyat Aceh terlibat dalam Perang Asia Timur Raya. “Itulah sebabnya lahir istilah tapeulét asèe tateurimӧng bui,” kata Rusdi. “Meski kenyataannya Belanda terusir dari Aceh.”

Selain berperang, rakyat Aceh juga dipaksa bekerja. “Di Jawa itu disebut romusa, rakyat ini digerakkan untuk bekerja seperti mendirikan benteng-benteng pertahanan, bunker-bunker bahkan sampai lapangan terbang,” kata Rusdi. “Jadi berbicara kurok-kurok di Sabang, itu dibangun ketika mereka berada di Aceh,” katanya.

Menurut Rusdi, Jepang masuk ke Aceh bukan untuk berperang, tapi menjadikannya sebagai wilayah pertahanannya, terutama menghadapi gempuran tentara sekutu (Amerika-Belanda-Inggris) yang memang menyasar Jepang.

***

SIGN POST, awal Oktober 2013. Berada di atas Sabang Hill, untuk menuju kemari perlu mendaki bukit berundak tiga yang dilakap nama berbeda. Di undakan dasar ada Sabang Fair yang tepat di pinggir Teluk Sabang, langsung menghadap Pulau Klah, Rubiah, dan Seulako di seberangnya.

Mendaki melalui jalan beraspal di lereng-lereng bukit nan hijau akan bertemu resort Sabang Hill’s. Agaknya, nama inilah yang kemudian melekat pada undakan kedua. Pada kelokan berikutnya, perjalanan berakhir di bangunan berpagar besi pintu terkunci. Berkonstruksi beton dua tingkat, di belakangnya ada tower dilengkapi lampu, kabel, dan antena menunjuk langit.

Di pagar samping kanan pintu terpajang pamflet putih terikat kawat. “Pos Angkatan Laut. Dilarang masuk bagi yang tidak berkepentingan,” begitu tulisan yang tertera di situ. Sampai di sini, wartawan The ATJEH bersama tim dari Sabang Heritage Society berhenti melangkah.

Zulhelmi Bakri, kru Sabang Heritage Society, menunjuk ke sisi kiri pintu masuk pos. Tampak timbunan tanah dan rerumputan liar menjalari beton-beton kokoh yang mirip fondasi bangunan. “Dulu di sini juga banyak benteng Jepang. Berfungsi sebagai pengiriman sinyal sekaligus pos pengamanan pintu Teluk Sabang,” kata Albina Arahman, Ketua Sabang Heritage Society.

Sekarang tempat itu digunakan sebagai Pos Angkatan Laut. “Makanya wajar kalau ada larangan masuk seperti itu,” kata Albina.

Saat kami ngobrol sembari mata mengitari belukar, terlihat seorang petugas melangkah keluar dari pos angkatan laut. Tersenyum ramah, dia membuka pintu pagar dan mempersilakan kami masuk. Dari bahasa tubuhnya, kelihatannya sudah akrab dengan Albina dan kru senior Sabang Heritage Society, Didi Mustariadi, yang juga ikut bersama kami.

Albina memulai perbincangan singkat dengan tentara itu. Sejurus kemudian, si tentara tersenyum ke arah wartawan The ATJEH dan menyodorkan tangan kanannya. Menjabat tangan lekat dan kuat, khas keakraban prajurit angkatan bersenjata. “Saya Khairol Anwar,” ia memperkenalkan namanya.

Anggota Pos Angkatan Laut Satuan Radar itu sehari-hari berada di Sign Post, Sukakarya, Sabang. “Sudah tujuh tahun saya berada di sini,” kata pria berasal dari Jawa Timur ini lagi. Dari ceritanya, rupanya dia salah seorang tentara yang menyisir hampir seluruh bunker peninggalan Jepang di Sabang. “Kami lakukan sejak April lalu,” katanya.

Mulanya, kata Khoirul, mereka hanya membersihkan semak belukar di kawasannya bertugas. “Agar rapi,” katanya. “Saat itulah kami menemukan bunker-bunker yang tertimbun tanah, letaknya berdekatan,” kata Khoirul sembari menunjuk dua bunker yang ada di kawasannya bertugas. Khoirul mengangguk saat wartawan The ATJEH mengajaknya menelusuri bunker yang sudah pernah dijelajahinya.

Saat kami menyisir sisi kiri pos angkatan laut, matahari perlahan masuk ke balik pulau Seulakoe menyisakan semburat jingga. Kami menyiapkan headlamp, lalu menyusup ke balik semak-semak. Saat berjalan menuju pintu masuk, bunker begitu sunyi. Terdengar patahan ranting terpijak, juga gesekan dahan beradu dedaunan yang ditingkahi suara jangkrik.

Tepat di sisi lereng bukit, ada tanah landai selebar gang menjadi simpang masuk dua bunker di kiri dan kanan. Khairol mengarah ke bunker sebelah kiri. Lalu menuruni tangga ke lorong bawah tanah yang berujung pada dua ruangan dikelilingi beton kokoh dari konstruksi batu gunung.

Begitu tiba di ruangan 4×2 meter itu, udara pengap menyergap. Gerah. Bulir-bulir keringat bercucuran. Oksigen terasa tipis membuat nafas sedikit tersengal. “Padahal ruangan dibuat untuk dijejali seregu pasukan Jepang,” ujar Khairol.

Di sini kami memadamkan headlamp. Lampu pijar putih yang tergantung di langit-langit benteng menerangi ruangan. “Kabel dan saklarnya tersambung langsung ke pos radar,” kata Khairol.

Khairol menjelaskan, ruangan ini sudah mereka bersihkan. Gundukan tanah di beberapa sisi ruangan menandakan ruangan ini belum sepenuhnya selesai digali. Di sudut kanan, sebuah pipa besi setinggi pinggang menyembul dari dalam tanah.

Berbalut karat dengan ujung bengkok berpenutup lubang, pipa ini mirip periskop kapal selam. “Itu alat komunikasi antarbunker,” kata Khoirul. “Biasanya dalam bunker bawah tanah zaman dulu, alat komunikasi antara satu bunker dengan bunker yang lain adalah melalui pipa.” Pipa itu, kata Khairol, mengindikasikan kemungkinan ada ruangan lagi di bawah ruangan ini.

Satu lagi ruangan berukuran 1×0,5 meter yang tanpa langit-langit. Dari sini kita dapat melihat menembus ke permukaan tanah. Udara bebas masuk ke dalam. Di dinding menempel bangkai tangga besi. “Ini ruangan komando. Sekaligus menjadi salah satu jalur akses keluar dari bunker jika ada hal-hal yang mendesak,” Khairol menjelaskan.

Setelah 20 menit berada dalam ruangan ini, begitu keluar berasa sungguh lega udara segar. Sebentar menyeka keringat, kami lalu masuk ke bunker satu lagi. Ruangnya berbeda dibanding dengan yang pertama tadi. Dinding-dinding bangunannya lebih kokoh. Dibuat bukan dari coran batu gunung, melainkan bersak-sak semen 50 kilogram utuh yang sengaja dikeraskan. Melihat konstruksi dindingnya ini, ledakan granat atau mortir tak akan menggoyahkan bunker ini.

“Bunker bawah tanah Jepang memang salah satu benteng pertahanan yang tangguh. Konstruksinya terbuat dari bahan yang benar-benar kuat,” kata Khairol. “Mereka membangunnya tidak main-main. Benar-benar khusus untuk persiapan perang besar. Itu bisa kita lihat dari ketebalan dindingnya, kedalaman bunkernya, dan titik-titik akses masuknya.”

Di sini juga ada dua ruangan yang terpisah yang sudah diberi lampu penerang. Menurut Khairol, bentuk ruangan ini mirip penjara bawah tanah. “Ruangan yang agak besar dan yang sudah kami kasih lampu di dalamnya adalah ruang penjaranya, sementara ruang yang lebih kecil itu lebih kepada ruang jaga atau ruang perlengkapan pasukan,” katanya.

Uniknya di dalam tembok pemisah dua ruangan itu ada lorong gelap yang lebarnya cuma 50 sentimeter. “Kalau sesempit itu tak mungkin dibuat untuk jalur ke luar masuk pasukan. Karena untuk gerak pasukan walaupun di bawah tanah, setidaknya memiliki lebar tak kurang dari satu meter,” katanya. “Kami menduga lorong sempit itu adalah penjara berdiri bagi tahanan berat.”

kurok-kurok3

Keluar dari bunker ini, Khairol mengajak naik ke lantai dua pos radar tempatnya bertugas. Di sini dia kembali bercerita soal pengalamannya membersihkan bunker bersama teman-temannya sesama tentara.

Menurut perkiraan Khairol, di lokasi itu ada sepuluh bunker. “Waktu menyisir pada tahun pertama ngepos di sini, kami temukan bunker sekeliling pos ini. Semuanya dibangun dalam formasi melingkar dalam dan punya jalur akses yang saling berhubung,” katanya.

Dia mengatakan, di dalam bunker senjata juga yang letaknya di lereng sebelah barat pernah ditemukan sekitar 4 atau 5 rantai amunisi kaliber 5,7 mm. “Kalau sebelah timur, semuanya ada bunker-bunker intai tersendiri. Cuma semuanya juga sudah tertimbun tanah. Kita hanya bisa lihat lubang-lubang senjata intai dari luar saja. Itu pun untuk keliling semuanya, kita harus membersihkan semua jalurnya dulu,” kata Khairol.

Khairol sepakat jika dikatakan bunker itu dibuat untuk basis-basis pertahanan di beberapa titik strategis. Untuk kawasan Sabang, ia menjadi pintu gerbang perairan internasional. “Wajar kalau mereka juga memilih daerah ini sebagai salah satu basis pertahanannya,” katanya.

Dari letak bunker-bunker ini pula dapat dipahami bahwa struktur pertahanan Jepang itu selalu berlapis. “Di sini contohnya. Antara Sabang Fair, Sabang Hill, dan Sign Post ini, jika kita sisir antara tiga tempat ini penuh dengan bunker dan lubang intai,” katanya.

Lalu Khairol meminta kami melihat ke arah pinggir jalan di dekat pos. “Lihat lebih teliti,” katanya sambil menunjuk sebuah deretan bangunan beton yang hampir ditutupi rumput liar. “Bangunan itu, dikira fondasi awal bangunan yang tidak jadi dikerjakan. Sebetulnya itu adalah benteng Jepang tadi,” katanya.

“Sudah beberapa bulan lalu, waktu kami bersihkan, di dalamnya memang ada beberapa jalur masuk ke bawah. Tapi sama seperti yang tadi semuanya sudah tertimbun tanah. Cuma sekarang itu sudah tertutup lagi, karena rumput liar sangat cepat tumbuhnya. Seminggu dibabat, minggu depannya tumbuh lagi.”

Soal bagaimana membangun bunker sekokoh itu, Khairol berkeyakinan tentara Jepang menggunakan pola kerja paksa. “Banyak rakyat Indonesia yang jadi korbannya. Saya kira semua tahu tentang ini.”

Sambil mendengar cerita Khairol, wartawan The ATJEH menyaksikan panorama maha indah terpampang di seluruh penjuru mata angin dari Sign Post ini.

Di barat, matahari mengufuk di balik perbukitan Nol Kilometer yang berada di seberang teluk. Bias semburat jingganya seperti mengapung di riak air laut yang mengubah warna teluk dari biru menjadi kuning keemasan.

Memandang ke selatan, terlihat Pulau Rondo yang berjarak 15 mil dari Teluk Sabang. Mengapung sendirian di tengah samudera persis seperti batu hitam di titik jauh garis horizon.

Di timur, perairan Selat Malaka mulai gelap. Dua lampu kapal berkedip-kedip tampak seperti sedang berlayar beriringan. Di utara, puncak Bukit Cot Labu berselimut awan. Lampu-lampu bangunan di Kota Atas, Kota Bawah, Sabang Fair dan beberapa daerah lain sudah mulai menggantikan peran matahari yang menua.

Tepat saat kumandang azan magrib bermula, kami beranjak turun dari pos radar dan pamit dari sini. Ketika malam, kurok-kurok Jepang itu seperti ditelan kegelapan. Kami akan menelusuri lagi kurok-kurok Jepang saat siang.

***

MENGHADAP Teluk Sabang, taman ini membelakangi tiga bangunan: Kantor Detasemen Polisi Militer, Mess Pamen Samudera (Rumah Administratur Sabang Maskapai 1899), dan Double House (Rumah Ganda). Dua nama terakhir adalah bangunan tua masa penjajahan Belanda yang kemudian dimanfaatkan Jepang menjadi pusat komando militernya.

Terletak di Jalan Diponegoro, Kota Atas Sabang, diramaikan aneka pepohonan yang rimbun dan menyejukkan. Rerumputan masih basah oleh embun yang masih tersisa di pagi Rabu awal pekan Oktober itu. Lokasinya strategis di atas bukit. Di bawahnya, atap ruko dan perumahan penduduk di pusat perbelanjaan jelas terlihat.

Di tengah taman ada sesuatu yang tak biasa. Di situ teronggok tembok berlumut seperti tak berfungsi, tampak seperti setangkup beton kokoh yang keberadaannya terasing dan tanpa perencanaan.

Melihat lebih dekat, akan tampak jelas tangkupan lubang yang menganga selebar semeter. Ada tangga yang tersedia untuk menuruni lubang gelap ini. Sinar matahari pagi yang berpendar dari sela-sela rimbun dedaunan hanya mampu menerangkan setengah anak tangga teratas saja. Selebihnya, remang kemudian gelap.

The ATJEH ditemani dua crew Sabang Heritage Society menuruni anak tangga selebar 105 sentimeter masuk ke dalam lubang dengan kemiringan 50 derajat itu. Memakai headlamp menyorot 26 anak tangga agar tak terjerambab ke dasar benteng sedalam empat meter di bawah tanah.

Lantai dasar dari beton berbelok ke arah barat. Berada di sini seperti di dalam pipa beton berbentuk balok yang terkubur di dalam tanah. Keringat mengucur membasahi dahi, udara berasa panas. Aromanya seperti bau tanah kering yang baru diguyur hujan.

Berjalan lima belas langkah, jalan berbelok lagi ke selatan. Beberapa meter ke depan bertemu lorong di sisi kanan. Di lorong masuk ada engsel rusak di tiang kanan tembok. Mentok di ruang 1 x 1 meter, mendongak ke atas langsung tembus permukaan tanah. Di dindingnya menempel rongsokan tangga besi.

Di sisi kiri dan kanan lorong ini, ada tembok setebal 30 sentimeter menjadi penyekat memisahkan dua pasang ruangan yang saling berhadapan. Keempat tak berpintu.

Dua ruang pertama yang saling berhadapan masing-masing berukuran 2,5 x 2,2 meter. Di dindingnya menempel 4 baut membentuk formasi persegi. Sementara dua ruang lain hanya berukuran sepertiganya.

Di setiap kamar ada lubang angin berdiameter 20 sentimeter di langit-langit yang dicor dengan ketebalan 1,5 meter. “Dari empat ruangan ini, diduga dua ruangannya sebagai ruang utama, dan dua lainnya tempat perlengkapan,” kata Zulhelmi Bakri, kru Sabang Heritage Society.

Tak berapa jauh melangkah dari empat ruang ini, ada tangga menuju pintu akses ke luar terowongan. Bunker ini sebelumnya sudah tertimbun, anggota Sabang Heritage Society menggalinya lagi pada Juli 2011. Namun setelah bersih, ada saja warga yang membuang sampah ke bunker ini.

Dari permukaan tanah, hanya tiga lubang udara sebagai penanda bahwa di area taman kota ada bunker pertahanan peninggalan Jepang.

Setelah menyusup ke dalam bunker taman kota, kami menuju ke Cot Bak U yang berada di sebelah tenggara Sabang. Di sini juga ada jejak pertahanan Jepang yang berada di lahan seluas 700 meter persegi yang dibatasi pagar pohon kedondong yang diikat kawat berduri.

Berada di ketinggian Teluk Sabang terlihat jelas terhampar. Pemandangan yang mencolok di lahan kosong ini hanyalah bangunan yang berupa konstruksi beton terlantar. “Bangunan ini bekas kantor meteorologi Jepang, kata orang-orang sekitar sini. Itu makanya, penduduk daerah ini menyebutnya dengan Bunker Meteo,” kata Didi.

Daun pintu dan jendelanya sudah lenyap dari kantor ini. Ruangannya kosong. Kotoran kambing dan sapi yang telah kering berserak memenuhi lantai. Melongok melalui pintu belakang terhampar bekas bunker besar dengan tembok kokoh. Sekilas terlihat seperti gundukan tanah dipenuhi rerumputan, jalaran putri malu, dan beberapa pohon besar.

Sama seperti bunker lainnya, ada tangga menuju bawah tanah. Di dasarnya tepat menghadap bunker utama. Adapun parit selebar 1,5 meter menjadi akses ke bunker lain yang mengitari lokasi ini. Parit sedalam 1,8 meter ini penuh semak belukar.

Bunker utama berdinding kokoh setebal 50 sentimeter. Di dalamnya ada empat ruang tersekat beton setebal 30 sentimeter.

Pada dinding ruangan di depan pintu utama ada lukisan dua wajah manusia yang warnanya sudah lusuh. Kendati demikian, goresannya masih jelas. Hidung, mata, bibir, dan telinga mirip wajah orang-orang Jepang kebanyakan. “Kami percaya lukisan goresan tangan tentara Jepang,” kata Didi.

Keluar dari bunker utama ini, kami menyusuri parit masuk ke bunker sayap kiri. Bunker pertama berupa beton kokoh tertanam di bawah gundukan tanah. Di dalamnya dua ruangan dengan dinding beton setebal 30 sentimeter.

Ruangan disekat dinding beton tersendiri ini telah menjadi sarang tokek. Dinding terluar membentuk setengah lingkaran dengan dua lubang intai di sisi barat yang bisa mengintip hamparan Teluk Sabang.

Keluar dari sini, kami menyusuri parit menuju bunker lain. Namun sudah tertutup timbunan tanah.

Naik ke atas gundukan yang menutupi langit-langit bunker utama, terpampang pemandangan sangat indah. Teluk Sabang menghampar laut seperti merasuk daratan. Kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan mirip peti putih mengapung di laut tenang.

Dari sini, Pulau Klah dan Rubiah tampak berbaris dengan ujung Pulau Sabang menyembul di belakangnya. Di sebelah utara, puncak Gunung Cot Labu menghijau, di bawahnya Danau Aneuk Laot seperti kolam dikelilingi perbukitan.

Atap-atap bangunan di kota Sabang yang berwarna-warni terlihat di selatan. Di timur, perkebunan penduduk menyembunyikan letak lapangan terbang Maimun Saleh yang berjarak satu kilometer dari bunker ini. “Bisa dikatakan tempat sebagai pertahanan udara dan laut,” tutur Didi.

Puas menyusuri bunker Cot Bak U, kami melintasi Jalan Tinjau Alam menuju Danau Aneuk Laot. Ini jalanan licin menurun berkelok-kelok di antara lereng perbukitan. Di beberapa bagian lereng kami mendapati empat gua buatan yang semuanya tertimbun tanah.

Dari keempat terowongan ini, dua di antaranya bisa dimasuki sejauh lima meter ke dalam. Sesekali tanah bergetar. Itu terjadi saat kendaraan berbadan besar melintas. Kami sadar, terowongan ini berada di bawah jalan utama lintas Balohan-Kota Sabang. “Dulu, saya sering mendengar di Lapangan Terbang Maimun Saleh ada terowongan yang bisa tembus ke jalan Tinjau Alam, yaitu di daerah sini,” katanya.

Setelah itu, kami turun melintas Danau Aneuk Laot menuju Kota Bawah. Di Jalan Perdagangan, kami singgah di Rumah Makan Perkasa Utama. Bukan hendak makan siang. Didi menunjuk teras pertokoan rumah makan yang berupa beton semen licin. Tapi jika melihat lebih teliti maka tampak susunan papan di salah satu sudut lantai. “Nah, ini penutup lubang bawah tanah,” katanya.

Pemilik rumah makan, Rohani, membenarkan di situ pintu untuk lorong bawah tanah. “Tapi, saya tidak pernah masuk,” katanya.

“Katanya ada ruang-ruang khusus. Dulu ada yang bilang di dalamnya ada belanga, dan beberapa barang lain. Ada juga yang katakan melihat tulang belulang,” katanya.

Didi mengatakan, pintu keluar terowongan itu berada di belakang rumah makan. Sayangnya, tempat yang ditunjuk kini sudah dipenuhi ruko.

Lalu, kami beranjak ke arah Bank Mandiri yang tak begitu jauh dari rumah makan milik Rohani. “Di belakangnya ada bunker,” kata Didi. Sesampai di belakang Bank Mandiri, ada area yang telah menjadi tempat pembuangan sampah. Kami harus melompati bangkai anjing untuk masuk. Tepat di antara akar pohon asam, tampak lubang tertimbun tanah, puing, dan ranting. Tampak juga di situ beling. Sampah plastik berserak.

Di antara sampah yang hampir menutupi seluruh bunker beton, masih terlihat di beberapa sisinya sejumlah lubang berdiameter 20 sentimeter. “Persis seperti lubang udara di bunker depan Hotel Samudera, bukan? Ya, beginilah kondisinya,” kata Didi.

Selebihnya, di ujung tembok yang membujur di atas permukaan tanah terdapat beton berbentuk tabung besar. Ditutupi beton berbentuk lingkaran, mempunyai empat lubang dari besi bulat berdiameter 5 sentimeter.

Di salah satu sisi beton berbentuk tabung besar ini terdapat lubang persegi panjang berukuran 20 x 10 cm. Mengintip ke dalam hanya ada kegelapan. Namun, sudah cukup membuktikan tabung ini adalah lubang pengintai yang memiliki beberapa lubang moncong senjata di beberapa sisinya.

Dari sini, dapat dipastikan kawasan Teluk Sabang bisa diawasi secara sembunyi-sembunyi.

Didi dan beberapa narasumber yang dihubungi The ATJEH meyakini ada sejumlah bunker yang saling terhubung. Masalahnya, banyak bunker yang tertimbun tanah dan rusak. ”Ya beginilah kondisinya sekarang,” kata Didi.

***

MENYUSURI timur laut Sabang melalui jalanan pinggir pantai terdapat benteng pertahanan Jepang berupa pilboks yang semuanya menghadap laut. Di sepanjang jalur tiga titik benteng yang terletak di tiga daerah berbeda, yaitu pilboks di Tapak Gajah, Ie Meulee, dan Anoi Itam.

Semua benteng memiliki bentuk yang hampir mirip. Berupa bangunan berdinding tebal dan pintu masuk lebar satu meter dengan formasi bangunan poligon di atas area seluas sekitar 50 meter persegi.

Di kawasan Tapak Gajah, satu benteng tampak telah dipugar. Di depannya didirikan tugu dengan tulisan Japanese Coastal Fortress di atasnya. Benteng ini terletak di pinggir pantai menghadap Selat Melaka. Hamparan laut tenang terlihat dari lubang depan benteng seperti mulut besar yang menganga.

Dari posisinya, ini merupakan lubang bidik meriam yang cuma tinggal jejak dudukan berupa 16 pacakan baut di lantai dasar berbentuk lingkaran. Dari kedudukan ini, bisa ditaksir pula moncong meriam diarahkan ke samping kanan dan kiri mengikut bentuk lubang bidik benteng.

Di daerah Sumur Tiga Desa Ie Meulee, sebuah benteng pertahanan laut pasukan Jepang tampak masih kokoh. Terletak di sisi kiri sebuah tikungan Jalan Ujong Kareung, tepat di sudut sebidang tanah yang penuh pohon kelapa. Di samping benteng, berdiri rumah penduduk. Benteng ini juga menghadap Selat Melaka yang letaknya di atas Pantai Sumur Tiga yang terkenal dengan pasir putihnya.

Dari atas benteng, menghampar gugusan pasir putih yang memanjang dengan riak ombak yang tenang. Nyiur melambai-lambai oleh terpaan angin dari arah selat. Pemandangan yang sangat mempesona ini sirna saat masuk ke dalam benteng yang lantainya penuh kotoran kambing. Bekas dudukan meriam tertanam di lantai. Namun, benteng ini kini telah difungsikan menjadi kandang kambing.

Di seberang jalan, sebuah kios ditunggui seorang ibu yang sedang asyik bercengkerama dengan anaknya. Saat The ATJEH memintai keterangan benteng tersebut, ia menggeleng. Namun ketika disampaikan ruangan benteng sudah penuh dengan kotoran kambing, sambil tersenyum ia menjawab, “Jadi tempat tinggal manusia kan sudah tidak mungkin lagi.”

Selebihnya ia tidak tahu menahu tentang sejarah benteng tersebut. Ia seperti malu memberi keterangan ditambah enggan mengatakan namanya.

Benteng yang terletak di kawasan Anoi Itam kondisinya lebih baik. Terletak sekitar 13 kilometer dari kota Sabang, kawasan perbukitan dan pinggir Selat Melaka ini telah menjadi salah satu destinasi wisata.

Menuju ke lokasi benteng haruslah melalui sebuah bukit landai pinggir laut yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan. Masuk melalui jalan berbatu dari Jalan Ujong Kareueng sebagai jalur akses utamanya, kami memutar melewati sebuah jalan setapak.

Sampai di ujung, di padang rerumputan ada jalan menanjak yang sudah dipaving. Di samping kiri jalan, sebuah gundukan berdinding beton dengan atapnya yang ditumbuhi rumput lebat tampak seperti bersembunyi di antara beberapa pepohonan besar. Ada sebuah pintu di dinding beton tersebut. Masuk ke dalamnya, kita sadar ini adalah ruangan pengintai yang menghadap ceruk laut yang letaknya menyempil antara dua karang besar.

Keluar dari lubang ini, kami menyusuri jalanan setapak di atas lereng bukit karang yang langsung membatasi laut dengan daratan. Di jalanan ini, menjaga langkah adalah keharusan jika tidak ingin tergelincir ke laut. Bebatuan karang tajam siap menunggu di bawahnya. Di kawasan ini setidaknya ada dua lubang intai yang terdapat dalam ceruk lereng bukit.

Dari jalan setapak, lubang intai ini hanya bisa dilihat dari luar karena jalur akses masuknya telah tertutup dengan akar pepohonan besar. Kedua lubang intai ini terletak di sisi teluk-teluk kecil yang letaknya tersamar rimbunnya pepohonan dan banyaknya batu karang.

Jalan setapak yang kami lalui berujung pada bukit kecil yang hanya ditumbuhi pohon kelapa, kedondong, angsana, dan cemara. Di atas bukit ada sebuah benteng berdiri kokoh dengan muka depan terbuka seperti mulut lebar menganga ingin menangkap angin yang berhembus dari Selat Malaka.

Melihat bangunan benteng itu, kami tidak lagi mengikuti jalan setapak beton. Padang rumput yang hijau adalah jalur alternatif untuk segera sampai ke atasnya.

Masuk ke dalam benteng ada sebuah meriam teronggok di depan pintu . Dengan panjang 2,5 meter, pantat meriam berada di luar benteng dan moncongnya malah mengarah ke dalam.

Kelihatannya, meriam ingin dipindahkan, tetapi belakangan dikembalikan lagi. “Lihat saja, ini kan dudukan meriam yang sebenarnya, jadi kalau meriamnya sudah tidak di tempat semula, ya ini memang sudah ingin dipindahkan,” kata Didi.

Berada di sini seperti sedang berdiri dalam sebuah mesin perang. Mulut bangunan membentuk setengah lingkaran, moncong meriam dapat menyisir tiga arah mata angin, selatan di samping kanan, timur di depan, dan utara samping kiri. Sementara di belakang, basis pertahanan berwujud batu karang, adapun pepohonan menjadi kamuflase menyembunyikan benteng sebelah barat.

Dari atas benteng berbentuk poligon ini, pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata. Matahari yang mulai mengufuk di sebelah barat menyiram sinarnya ke hamparan biru laut Selat Malaka.

Cahaya matahari yang menerpa bangunan seperti datang dari balik perbukitan yang memunggungi lapangan terbang Maimun Saleh. Tanah miring menjorok ke laut, hijau rerumputan diterpa cahaya matahari petang, berakhir di batu karang yang cadas. Di sela-sela karang tumbuh pohon cemara yang mengerdil seperti dibonsai.

Panorama di selatan berupa laut lepas yang di ujungnya daratan seberang. Ulee Lheue tampak serupa garis, dan di baliknya puncak Seulawah Agam tegak mengerucut menggunjing langit. Sementara di utara, perbukitan yang berisi lubang-lubang intai menyembunyikan kedalaman Laut Andaman.

Kami melanjutkan perjalanan menuruni tangga menurun dari paving beton. Gugusan karang setinggi pinggang menjadi dinding jalan menurun dipayungi rimbunnya daun pepohonan di kanan dan kirinya. Masih di sekitar jalan ini, ada salah satu ceruk karang yang dimanfaatkan menjadi satu ruangan. Diduga sebagai ruangan perbekalan atau ruang komando tentara Jepang.

***

KENDATI merancang pertahanan dengan pasukan tempur yang kuat di masa itu, akhirnya bala tentara Jepang kembali juga ke negeri matahari terbit.

Mereka bukan kalah bertempur di Sabang, melainkan dihumbalang sekutu yang mengebom Hirosima dan Nagasaki pada Agustus 1945. “Mereka angkat kaki dari Sabang karena mendapatkan perintah menyerah dari Kaisarnya, Hirohito,” kata Rusdi. | Majalah The Atjeh

Comments

comments