Catatan Nemo

Tentang AtjehPost, Yuswardi, dan Saya

“Halo, bang.. Kiban haba,” Yuswardi A Suud menyapa ringan dari ujung telepon selular, dua pekan yang lalu. Ya, ini adalah Yuswardi yang biasa saya sapa Yuh. Ia adalah rekan saya mulai dari ketika ia masih menjadi wartawan TEMPO, kemudian kami sama-sama mendirikan website atjehpost.com (atjehpost.co).

yuswardi-fotoPengusaha loundry ini juga yang kemudian menjadi Pemimpin Redaksi di sejumlah media yang kami dirikan, selain newsportal ada majalah The Atjeh dan The Atjeh Post. Disebabkan sesuatu hal yang tak terhindarkan, setahun lalu kami memilih istirahat.

“Haba got,” saya menjawab.

Lalu kami bertukar cerita. “Kiban haba bidadari kembar, Yuh,” saya bertanya tentang dua putri kembarnya itu.

Ketika kami menutup atjehpost.com (atjehpost.co), Yuswardi adalah orang yang paling patah hati. Tentu saya juga sama. Soalnya, sangat keras dan sungguh fokus kami membangun media ini dari awal. Pontang-panting.

Bahkan sampai meninggalkan keluarga di Jakarta untuk bersama-sama Yuswardi di Banda Aceh menjalankan media online ini.

Itulah sebabnya, ketika atjehpost berhenti tayang, Yuswardi hanya terhibur dengan kehadiran dua buah hatinya. Jadilah ia tak pernah lekang menemani putri kembarnya, tanpa bekerja apapun selain mengontrol perkembangan bisnis pencuciannya itu. Ia memang bertekad mendampingi istrinya mengurus bayi kembar mereka setidaknya hingga si kembar berusia 1 tahun. Kita tahu, satu tahun pertama adalah masa penting bagi pertumbuhan anak. Karena itu, ia memilih berada di sisi buah hatinya melewati momen-momen penting si anak dalam setahun pertama.

“Saya lebih sering di Medan bersama anak-anak dan istri,” kata Yuswardi.

nurlis-fotoLalu saya bercerita, selama setahun ini saya bisa menjenguk empat putra saya setiap bulan di Jakarta. Maklum, saya sekarang bekerja pada kampus-kampus yang didirikan H.Rusli Bintang, ayah anak yatim dari Aceh Besar. Tentu wilayah pekerjaan yang saya lakoni tak jauh-jauh dari profesi saya selama ini, yaitu menulis. Jadilah saya membantu mengembangkan web-web kampus di sini, selain saya menyempatkan diri menulis buku tentang kampus.

Saya bisa mengunjungi anak-anak saya, sebab pusat kegiatan saya berada di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, yang hanya berjarak 45 menit perjalanan udara ke Jakarta. Juga sesekali saya melalui jalan darat yang memakan waktu 4 jam perjalanan dan 2 jam berlayar menyeberangi Selat Sunda.

Nurlis - MulanyaKami lalu bernostalgia. Bercerita tentang awal-mula kami menjalankan media ini lima tahun lalu. Berteleponan dengan penuh semangat untuk membangun media. Waktu itu, seakan-akan semuanya akan gampang kami lalui bersama.

Kemudian saya pun ke Banda Aceh, berduet dengan Yuswardi pada Februari 2011. Bermula di sebuah kedai kopi di pojok Simpang Lima, Banda Aceh. Ketika itu kami ditemani J Kamal Farza, seorang sahabat yang sangat peduli sama kami. Berpindah ke kedai kopi Helsinki juga di dekat simpang lima. Di sini kami dibantu Oki Tiba. Kemudian kami dibantu bang Risman A Rahman, dan bang Jauhari Samalanga.

Lalu berkantor di ruko yang menjadi tempat usaha loundry Yuswardi di Darussalam. Sempat juga berkantor di ruko Simpang Surabaya, pindah lagi ke rumah Yuswardi di Lampaseh, lagi-lagi pindah ke Keutapang, kemudian ke Peuniti. Di sini kami sudah diperkuat oleh Ihan Nurdin, Murdani Abdullah, dan Boy Nasruddin Agus. Bahkan sudah ada editor bahasa, Safriandi Rosmanuddin.

Kisah kami berhenti sejenak di Lamteh Ulee Kareng. Sekian lama kami bersama, sungguh banyak pengalaman yang terlalui. Menuai banyak kegembiraan, juga nestapa. Ramai yang suka, juga tak terhitung yang antipati. Banyak cinta, juga banyak benci. Laksana dua jalan, kesenangan atau derita, menuju pintu kebebasan atau penjara.

Teman-teman kami kini memulai kisahnya dengan mendirikan media masing-masing. Adapun Yuswardi memilih tak beraktifitas lain selain menemani putri kembarnya. Hingga kemudian kami berteleponan lagi.

Tatkala bercerita tentang atjehpost.com, saya sangat memahami perasaan Yuswardi. Saya sungguh bisa membaca tutur kata yang disampaikannya, memahami intonasi suaranya, dan juga bisa memasuki hatinya itu seperti apa. Itulah sababnya, saya langsung bertanya padanya, “apakah mau menjalankan atjehpost lagi?”

Ia bukannya menjawab. Malah balik bertanya tentang keadaan saya. “Bagaimana dengan keluarga abang, dan persoalan yang sedang abang hadapi,” kata Yuswardi.

“Tidak ada masalah. Semua persoalan pasti ada jalan keluarnya. Hanya saja bagaimana cara kita menyikapi dan menyelesaikannya,” kata saya. “Jangan berfikir tentang saya, jika memang siap untuk menjalankan media lagi jalanilah. Pakailah nama atjehpost, sebab merknya juga terdaftar atas nama kita di Kementerian Hukum dan HAM,” kata saya.

Saya sedikit pun tak merisaukan akan kebijakan redaksi atjehpost jika Yuswardi yang menjalankannya. Saya memahami alur berfikir pada dirinya. Ia adalah seorang sahabat. Ia adalah orang yang jujur dan ikhlas dalam menjalankan sesuatu, termasuk ketika kami sama-sama menjalankan media ini.

Namun, saya mengatakan, bahwa tidak bisa terlibat secara penuh bersamanya. Artinya, ia harus menanggung beban manajemen, kebijakan redaksi maupun bisnisnya. “Jika memungkinkan, maka suatu hari nanti saya datang ke atjehpost di Banda Aceh,” kata saya. “Saya sedang terikat dengan pekerjaan, selain juga melanjutkan kuliah di Universitas Batam.”

Saya mengatakan, cobalah menjalankan media sesuai dengan ide-ide yang selama ini dijalankannya. “Jika selama ini di sisi isu politik ada saya yang menjalankannya, maka coba jalani media yang tanpa politik praktis,” kata saya.

“Saya yakin banyak pembaca atjehpost yang membaca konten-konten lain selain politik. Selain itu, sangat banyak juga media-media online di Aceh yang bermain dalam konten politik. Cobalah keluar dari situ. Carilah ide-ide lain, kamu pasti memahaminya. Untuk saat ini, saya hanya bisa membantu memberi masukan-masukan saja, tidak mungkin total di media.”

Yuswardi sungguh sepakat dengan konsep itu. “Iya bang,” katanya. Sesungguhnya, saya sangat paham, justru ia bisa bergerak dalam ruang fikirannya. Dalam ide-ide yang akan dilahirkannya untuk media ini, ide yang kadang menggelitik dan menarik. Ia adalah seorang yang cerdas dan sungguh setia dalam bersahabat.

Pembicaraan kami melalui telepon seluler hanya berlangsung 15 menit saja. Namun kami berbagi banyak cerita, dan membahas masa depan.

Selamat berkarya Yuswardi. []



Comments

comments