Majalah TEMPO 1972; Marsose-marsose di Banda Aceh

KATA orang: andaikan sekarang ada 10 pejabat tinggi yang punya sifat seperti Sultan Iskandar Muda, raja Aceh di awal abad 17, keadilan akan berjalan beres. Sang Raja memiliki dua orang putera. Salah-seorang bernama Meurah Pupok.

Seperti juga Ali Khan yang gemar balapan mobil, si Meurah Pupok gemar pacuan kuda. Tetapi nasib sial menyerang Meurah nan ganteng. Dia tertangkap basah ketika sedang begituan dengan seorang isteri rakyat biasa. Yang menangkap sang suami sendiri, di rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke tubuh sang isteri yang serong.

Akan Meurah Pupok, si suami melaporkannya langsung kepada sang ayah. Dan di depan rajanya sang suami kemudian berharakiri. Sultan, yang oleh rakyatnya dihormati sebagai raja bijaksana dan adil, jadi berang. Meurah Pupok disusulnya di gelanggang pacuan kuda. Si anak hidung belang ini dipancungnya sendiri, di depan umum. Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak, Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala.

Kuburan kaphe. Tapi dimana Meurah Pupok dikuburkan? Makamnya terselip di tengah kuburan Belanda di Banda Aceh. Dan seperti juga kuburan Belanda yang luas itu, makam Sultan Iskandar Muda sendiri yang terletak di dekat museum Rumoh Aceh, menjelang Pekan Kesenian Aceh II tempo hari telah dipugar. Dua tahun lalu makam itu dibangun kembali – setelah diobrak-abrik pihak Belanda. Dan sebagai penghormatan, ketika makam selesai dipugar berdentumlah 7 kali bunyi meriam.

Pemugaran-pemugaran itu bukan tak ada hubungannya dengan peringatan 100 tahun Perang Aceh-Belanda, yang akan dilaksanakan 26 Maret tahun depan. Orang Aceh pernah bilang: “Meunjo han ek to peuget, bek tak peuhina ureung nyang ka mate” : Artinya: Kalau tak sanggup memeliharanya, janganlah dihina orang yang sudah mati. Karena itulah, 2.200 marsose alias tentara kerajaan Belanda yang ditanam di kuburan kaphe itu (sebutan orang Aceh untuk alias kafir) – juga tidak diganggu atau digusur. Bahkan di sekitarnya telah pula dijadikan kuburan orang-orang Kristen dan Katolik sekarang ini.

Ditendang-tendang. Diluar makam marsose yang letaknya di jalan Teuku Umar itu, ada pula kerkhof – yang oleh orang Aceh biasa disebut Peucut – berisi beberapa tokoh jenderal Belanda. “Pekuburan ini barang bukti yang mahal sekali harganya”, kata Wakil Gubernur Marzuki Nyakman. Paling tidak pengunjung makam nanti bisa melihat betapa banyaknya Belanda yang gugur oleh rencong Aceh.

Jenderal-jenderal seperti Demmeni (t 1886) dan de Moulin (1896) memang tidak dikubur di Aceh, tapi di Batavia. Tapi J.H.R. Kohler yang tewas dalam ekspedisi pertama (1873) ada dikubur di Peucut. Bahkan namanya ada tercantum di depan gerbang makam – di gerbang mana tanda salib yang terletak di puncak, masih tetap terpelihara.

Adapun tugu makam Mayor Jenderal Pel yang juga berdiri di dalam situ, tidak memberi bukti bahwa di bawah itulah tubuhnya ditanam. Pel dikubur di salah-satu sudut Peucut yang tidak diketahui kini di mana. Pel ini, lantaran begitu dibenci rakyat, bukan jasadnya saja yang harus diamankan. Bahkan patungnya yang ada di tugu itu-pun dibuat orang menjadi bopeng.

Begitu pula halnya perwira pilihan Belanda yang bernama Darlang. Ia meninggal di Jakarta, tapi daiam surat wasiat dia minta ditanam di Aceh. Orang ini pernah memenggal dua orang lasykar Aceh, lantas kepala mereka ditendang-tendangnya di depan orang banyak di pasar. Karena itulah, patung Darlang, yang hingga kini masih berdiri tidak lagi punya- kepala – sudah dikampak dan hilang. >

Tapi berbeda dengan Pel dan Darlang adalah A. Ph. van Aken. Orang ini pernah jadi Gubernur Aceh di tahun 1938. Biarpun ineninggal di Jakarta, dia juga minta dikubur di Aceh. Rakyat Aceh rupanya suka menerima jasad Aken, orang Belanda yang pernah mendirikan Mesjid Raya Baiturrahman.

Bahkan di atas nisannya terpampang dengan jelas dan resik: “Tugu kuburan ini dianugerahkan oleh penduduk Aceh”. Tentu dalam bahasa Belanda. Akan pemugaran kuburan-kuburan ini, konon telah ada kontak antara Pemerintah Daerah Aceh dan Pemerintah Belanda. Salah-satu cara yang sangat bagus untuk mengawetkan bukti-bukti sejarah. []

Comments

comments