Kontes Model di Aceh; Hotel Grand Nanggroe Minta Maaf

Pengelola Grand Nangroe Hotel akhirnya meminta maaf karena telah menjadi tempat penyelengaraan Kontes Indonesia Model Hunt 2016 yang dinilai menyalahi syariat Islam yang berlaku di Banda Aceh. Mereka berjanji lebih selektif dan hanya menyewakan tempat untuk kegiatan yang tidak bertentangan dengan hukum syariat Islam.

“Sebenarnya hotel ini sudah bersyariah, kita hanya menunggu peraturan syariah yang lebih upgrade lagi dari Pemerintah Kota Banda Aceh,” tutur Manajemen Grand Nanggroe Hotel, Safaruddin, sebagaimana dikutip Dream dri laman resmi Walikota Banda Aceh, Kamis 3 Maret 2016.

Safaruddin menambahkan, manajemen Grand Nangroe Hotel siap menerima sanksi apabila di kemudian hari menyewakan tempat untuk kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam.

Pada hari Minggu pekan lalu, Walikota Banda Aceh, Illiza Sa`aduddin Djamal menggerebek Kontes Indonesia Model Hunt 2016 yang diselenggarakan di Grand Nangroe Hotel. Acara itu dibubarkan karena dinilai tak sesuai dengan syariat Islam yang diterapkan di Banda Aceh.

Menurut Safaruddin, saat penggerebekan kontes model itu, manajemen hotel tidak berada di tempat, karena sedang berlibur. “Mereka sebenarnya tidak mengetahui acara tersebut, dan ternyata melanggar syari’at Islam.”

Safaruddin mengaku, hingga saat ini panitia penyelenggara kontes tersebut belum melunasi biaya sewa tempat. “Bahkan ketua panitianya sudah tidak berada di Banda Aceh lagi,” tambah Safaruddin.

Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Banda Aceh, Tgk H Karim Syeh, mengimbau semua pihak agar tidak melanggar syariat Islam dalam menyelenggarakan setiap kegiatan.

“Banda Aceh adalah Kota Madani, isinya pelaksanaan Syariat Islam secara utuh dan berkewajiban melaksanakan syariat. Sedangkan pemerintah wajib memberi perlindungan terhadap pelaksanaan syariat Islam,” ungkap Tgk Karim Syekh.

Dia mengatakan, hotel juga harus memberi kemudahan untuk pelaksanaan syariat Islam. “Hotel tidak boleh menjadi tempat maksiat, maisir, khamar, narkoba hingga kegiatan berbau LGBT dan mewajibkan buku nikah bagi tamu yang membawa pasangan.”

“Warga Banda Aceh sangat sensitf terhadap isu-isu ini. Sebelum sensitifitas itu muncul, maka redamlah,” harap Tgk Karim.

Sementara itu, Wali Kota Illiza mengatakan aturan terkait aktifitas wisata di Banda Aceh termasuk pelayanan hotel-hotel di Banda Aceh yang harus sesuai syariat sudah dijalankan.

“Kita ingin hotel harus bersyariah, mereka harus menyesesuaikan dengan kekhususan Aceh yang menerapkan syariat Islam, seperti pakaian pegawainya, menyediakan Al-Quran dan Sajadah di kamar,” ujar Illiza. | sumber: dream.co.id

Comments

comments