Catatan Nemo

Tak Dinyana Bertemu Akmal Ibrahim

Jadwal penerbangan Garuda pukul 07.00 WIB. Agar tak terlambat, pagi-pagi sekali saya sudah berada di Bandara SIM pukul 05.30. Yuswardi A Suud, Pemimpin Redaksi The Atjeh Post yang hendak mengantar saya ke bandara dengan sepeda motornya, malah saya tinggali di hotel tempat saya menginap selama dua hari di Banda Aceh, sebab saya terburu-buru.

Di Bandara, tak dinyana saya bertemu senior saya. Saya banyak belajar kiat meliput darinya. Ia mantan wartawan Serambi Indonesia, ia terakhir adalah Wakil Pemimpin Redaksi di Serambi Indonesia. Belakangan banting stir, berpolitik hingga menjadi Bupati Abdya (2007-2012). Dialah Akmal Ibrahim yang namanya kembali mencuat dalam bursa calon Bupati Abdya untuk Pilkada 2017.

Ketika masih menjadi Bupati, ia pernah meminta saya berkunjung ke Blang Pidie, Ibukota Kabupaten Abdya. Sekitar tahun 2008. Undangan dari seorang teman, yang juga senior, tentu saya memenuhinya. Saya bermalam di rumahnya selama sepekan. Tentu saya diajak berkeliling Abdya. Jalan sama Bupati tentu asyik. Namun jangan mengira akan menunggangi mobil mewah. Ternyata Bang Akmal (begitu saya menyapanya), mengajak saya berkeliling dengan motor bebek.

Dari pagi sampai sore, keliling keluar masuk kampung. Melihat jalan-jalan, dan perkebunan warga. Menanyakan apa yang ia butuhkan. Kemudian ia langsung menelepon kepala dinas untuk datang dan membantu petani dan pemilik kebun, entah itu bibit, atau kebutuhan lain. Pernah juga, kami membantu mendorong mobil warga yang mogok. Ketika ada mobil pengangkut hasil kebun yang nyangkut, Akmal menelpon staf di kantornya untuk menarik mobil warga. Begitulah sepanjang hari. Selama sepekan yang mengesankan itu.

Setelah itu, saya tak pernah berjumpa dengannya lagi. Kendati demikian, saya mengikuti sejumlah pemberitaan tentang dirinya, yang saya tahu berbagai tuduhan itu adalah nol besar. Termasuk ia sampai mendekam dalam tahanan, yang kemudian ternyata vonis hakim adalah bebas murni. Itupun ia tak mempersoalkannya. Ia memang tahan banting sejak menjadi wartawan dulu.

Di sebuah kedai kopi di bandara, kami pun berbincang-bincang, sambil menyesap kopi. Tak lupa ia bertanya tentang aktivitas saya di wartawan juga di politik. Saya menjelaskan, saya tidak lagi menggeluti dua dunia itu. Di wartawan, saya sudah setahun ini tak aktif lagi.

Saya menjelaskan, saya pernah menjadi salah seorang pengurus di Partai Aceh, namun saya baru mendapat kabar ternyata nama saya juga sudah tak tercantum lagi partai. Sebab saya tidak ada di partai lagi, maka tidak etis saya bicara soal partai.  Saya juga pernah menjadi Ketua Bidang Humas di KONI Aceh, namun kabar yang sampai juga setali tiga uang. Nama saya sudah tak ada lagi di kepengurusan. Maka semua pembicaraan adalah cerminan pribadi saja.

Tentu tak berpanjang-panjang cerita politik lagi. Sebab, saya tidak mewakili dan membawa nama apapun. Jadi bicara lebih secara pribadi. Kami ngolor-ngidul ke sana kemari. Saya bertanya, ia ada kegiatan apa ke Jakarta. “Sebenarnya mau ke Lampung,” kata Bang Akmal.

“Lho, sama Bang. Saya mau ke Bandar Lampung juga. Berarti kita satu arah nih bang,” kata saya sambil bertanya ada kegiatan apa gerangan? “Mau berkunjung ke tempat Bang Rusli Bintang,” jawabnya. “Lho, kok kebetulan, saya juga menuju ke situ. Berarti kita benar-benar searah ya.”

Singkat cerita, kami pun tiba di kampus Universitas Malahayati di Bandar Lampung. Ia sudah ditunggu Bang Rusli Bintang. Kami berbincang-bincang tentang berbagai hal. Mulai dari mobil mogok, hingga “engkoet kerling” jenis ikan yang khas di Abdya.

Selanjutnya, saya dan Bang Akmal berkeliling perpustakaan Universitas Malahayati. “Nggak nyangka saya begini kampus ini sekarang. Di awal-awal pendirian dulu, saya hanya mendengar cerita-cerita Bang Rusli. Saya seperti mendengar orang berhayal. Tapi kenyataannya, ini semua melebihi dari cerita yang saya anggap hayalan dulu,” katanya.

Hari sudah sore. Akmal hendak beristirahat. Saya mengantar ke kamarnya di kompleks Green Dormitory kampus Universitas Malahayati. Kami janjian nanti malam bertemu dan ngobrol-ngobrol lagi. Tentu bersama Bang Rusli juga. Sebuah pertemuan teman lama. []

Comments

comments

Topics