Ada Tongkat Sultan Iskandar Muda di Masjid Labui

MASJID Raya Labui terletak di Kecamatan Pidie merupakan salah satu masjid tua di Aceh yang menyimpan nilai sejarah. Salah satu peninggalan sejarah adalah mimbar dari kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Cina sekitar tahun 1612 M.

Seiring berjalanya waktu, pengurus Masjid Raya Labui terus mempercantik mimbar tersebut dengan cara melapisi cat warna emas pada mimbar. Sehingga mimbar itu selalu nampak baru bagi siapa yang melihatnya. “Usia mimbar tersebut telah mencapai ratusan tahun. Karena mimbar itu diletakkan di dalam masjid sejak awalnya dibangun Masjid Raya Labui oleh Po Teumeureuhom,” kata Sekretaris Masjid Raya Labui, Tgk Muhammad, kepada Serambi, Kamis (15/8).

Masjid Raya Labui awalnya bernama Masjid Raya  Po Teumeureuhom. Bangunan pertama terbuat dari kayu beratap rumbia. Kemudian dindingnya terbuat dari batu bercampur kapur. Waktu itu Po Teumeureuhom, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) bersama masyarakat membangun masjid tersebut secara bergotong royong. Masyarakat bersedia berdiri sekitar 30 kilometer untuk mengangkut batu secara estafet, dari Kecamatan Muara Tiga ke Labui. Po Teumeureuhom sempat mendatangkan arsitek dari Cina untuk membangun masjid yang kemudian dilestarikan menjadi cagar budaya.

Ketika itu, aktivitas di dalam masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan Islam. Banyak santri berasal dari Pidie, Aceh Barat, dan  Aceh Timur menimba ilmu agama di Masjid Raya Po Teumeureuhom. Masjid yang etaknya lebih kurang 4 km sebelah barat Kecamatan Kota Sigli, pada masa Poteumeureuhom pernah dijadikan sebagai masjid kerajaan Pedir atau masjid kabupaten.

Tak hanya itu, kata Muhammad, saat itu Po Teumeureuhom juga membangun benteng pertahanan atau disebut dengan diwai yang melingkari masjid tersebut. Kini, diwai tersebut telah diruntuhkan seiring dengan dibangunnya bangunan baru masjid tersebut.

labui 1 labui 2 labui 3Saat Gubernur Aceh dijabat Prof Syamsuddin Mahmud, kata Muhammad, pernah berkunjung ke Masjid Raya Labui. Ketika itu masih bernama Masjid Raya Po Teumeureuhom. “Pak Gubernur minta supaya bangunan masjid itu dibangun baru, dengan syarat tidak membongkar bangunan lama masjid tersebut. Alternatifnya masjid lama kami geser ke samping bangunan masjib baru,” kata Muhammad.

Saat Nurdin AR menjabat sebagai Bupati Pidie. Nurdin adalah orang yang meletakkan batu pertama pembangunan baru masjid itu. Nurdin AR juga mengganti nama masjid dari Masjid Raya Po Teumeureuhom menjadi Masjid Raya Labui. Renovasi Masjid Raya Labui, kata Muhammad, telah dilakukan tiga kali. “Saya teringat renovasi kedua pada masa Kerajaan Kalee oleh Fakeh Ali. Kemudian, masa Pak Nurdin menjadi Bupati Pidie, arsiteknya Ir H Asballah Tgk Abdullah Asyek asal Pidie,” katanya.

Tongkat Po Teumeureuhom

Masjid Raya Labui sampai kini masih memiliki tongkat kuningan berukuran panjang 1,2 meter dan berat lima kilogram serta bentuknya beruas-ruas seperti batang tebu. Tongkat tersebut ditinggalkan Raja Aceh Iskandar Muda, saat singgah di masjid tersebut untuk menghimpun kekuatan perang.

Saat itu Iskandar Muda menempuh jalan darat menggunakan gajah putih. Tongkat yang dikenal dengan tongkat Po Teumeureuhom pernah diambil Ulee Balang Bambi, tetapi kemudian tongkat tersebut dikembalikan ke mimbar masjid tersebut. Bagi masyarakat Kemukiman Busu, Masjid Po Teumeureuhom berfungsi sebagai tempat ibadah dan balai pengajian. Di Masjid ini juga sering dilangsungkan akad nikah pengantin baru. | sumber: serambinews.com | foto: safariku.com

Comments

comments