Laporan Khusus: Terbius Pesona Tujuh Bidadari Perawan

air terjun tujuh bidadari aceh utara

Air terjun tujuh bidadari di Geureudong Pase, Aceh Utara, menjadi primadona baru bagi pecinta alam. Sayangnya, kini ada tangan-tangan jahil yang mulai mengancam debit air. Seperti apa? Simak laporan Adly Jay Lanie yang berkunjung ke sana awal Maret 2016.

***
Di hutan belantara itu, saya berdiri dengan mulut setengah terngaga. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam jalan kaki dalam gelap malam, keesokan paginya di hadapan saya terbentang keindahan yang luar biasa: gemuruh air terjun yang disiram cahaya matahari pagi yang menerobos di sela-sela pepohonan.

Saya terbius pesonanya. Airnya bening. Buihnya seputih kapas. Air meluncur ke bawah dari beberapa titik, lalu menyatu di bawah dalam aliran sungai. Melihat pemandangan itu, saya memuji kebesaran Illahi. Dalam hati saya bergumam, tak salah air terjun ini dinamai Tujuh Bidadari. Berada di sini, saya merasa berada dalam dekapan bidadari. Adem!

Seperti namanya, air terjun itu punya tujuh tingkat. Dari bawah, air terjun melewati tujuh tingkat, mengalir di air bebatuan besar, melintasi akar-akar kayu yang merambat tak beraturan.

Inilah pucuk hulu sungai Keureutoe, sungai yang mengalir dan memberi kehidupan bagi orang-orang yang bermukim dari Paya Bakong hingga ke Lhoksukon, Ibukota Aceh Utara.

Secara administratif, air terjun ini berada di kawasan Pulo Meuria, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara. Jika anda tahu Pante Bahagia, aliran sungai penuh bebatuan di Paya Bakong, air terjun ini berada di atasnya.

Tak tahan hanya memandang, kami akhirnya memutuskan nyemplung ke air terjun. Sejenak, kepala saya hanya dipenuhi kekaguman terhadap ciptaan Illahi ini. Hilang sudah kelelahan yang sempat menjalar ke seluruh tubuh saat dalam perjalanan menuju ke sini. Badan pun kembali bugar. Berada di sini, hilang sudah aneka persoalan hidup. Yang ada hanya decak kekaguman dan kegembiraan. Kita benar-benar terputus dengan dunia luar. Sinyal telepon pun tak mampu menjangkau tempat ini.

Air terjun ini berasal dari sebuah gua di atasnya. Dari mulut gua seukuran sebuah muka ruko itulah air itu mengalir dan terjun ke bawah.

Hasil eksplorasi kami, sekitar 100 meter sebelum mulut gua itu, di dasar air ditemukan banyak unsur belerang, baunya sangat menyengat. Ada pula air panas dalam jumlah kecil yang keluar dari sela-sela karang dan bermuara ke alur yang sama dengan air terjun.

Dugaan kami, itu merupakan bagian dari kawah gunung merapi, Burni Telong atau Burni Geureudong yang masuk dalam kawasan Kabupaten Bener Meriah. Lokasi air terjun ini memang sudah sangat dengan dengan perbatasan antara Geureudong Pase dan Bener meriah.

Di pinggiran air terjun, kami menemukan sebuah gubuk yang sudah ditinggalkan oleh perambah hutan. Di sanalah kami berteduh. Karena kami menginap dua malam, gubuk itu hanya mampu menampung 8 orang, sisanya tidur dalam tenda kemah.

Perjalanan yang Melelahkan

Untuk sampai ke air terjun ini, butuh usaha yang ekstra keras. Kami dari pengurus Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Geureudong Pase (Himagep) yang diketuai Muzakkir Sufi dan saya sebagai Penasehat, berangkat usai salat Jumat pada 4 Maret 2016. Total ada 65 orang yang ikut ekspedisi ini.

Berangkat dari Mbang, ibukota Geuredong Pase, kami menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer. Ketika kami berangkat, matahari sudah beranjak ke Barat. Jarum jam sudah bertengger di pukul 3.30 sore.

Sepeda motor yang kami kendarai hanya bisa mencapai jalanan berbatu sepanjang 9 kilometer. Sisa 6 kilometer, dengan rute menanjak hingga kemiringan 65 derajat, harus ditempuh dengan berjalan kaki. Hari itu, perjalanan kami seiring dengan turunnya hujan. Walhasil, kami harus mendaki jalanan berlumpur. Untunglah, kami sudah menyiapkan diri dengan sepatu boat sehingga langkah terasa lebih ringan.

Hari itu, perjalanan kami sempat terhadang pohon tumbang dan jalanan yang tertutupi longsoran.

Jalan ini biasanya hanya bisa dilewati oleh kendaraan tertentu seperti motor trail atau Jonder (sejenis traktor yang sudah dimodifikasi) untuk mengangkut kayu.

Dari cerita seorang warga, kami tahu, jalan berlumpur itu dibuka oleh pengambil kayu yang juga penemu air terjun itu pertama kali. Kalau tidak salah, air terjun ini pertama diketahui publik setelah konflik bersenjata berakhir.

Untuk mencapai air terjun, kami harus menyeberangi aliran krueng (sungai) Keureutoe. Anda tidak disarankan berkunjung ke air terjun ini saat musim hujan. Resikonya terlalu besar. Jika Krueng Keureutoe meluap, bisa dipastikan anda tidak bisa mencapai tempat ini. Begitu pula jika sudah terlanjur tiba di air terjun, Anda tidak bisa pulang.

Karena itu, disarankan anda membawa stok logistik lebih, untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal di luar dugaan seperti terhadang banjir luapan, atau kendaraan mogok di tengah hutan. Apalagi, lokasi berkumpulnya manusia lain berjarak sekitar 9 kilometer. Itu pun bukan perkampungan penduduk, melainkan barak hunian karyawan PT Satya Agung yang membuka kebun sawit di sana. Barak itu dilengkapi dengan sebuah warung.

Hari itu, perjalanan melelahkan itu berakhir pukul 20.30 WIB. Hari sudah gelap. Kami pun bergegas membakar api unggun dan mempersiapkan tenda untuk beristirahat.

Mulai Dirambah untuk Kebun

Setelah beberapa tahun berlalu, kini muncul pemandangan yang bikin hati was-was. Lokasi sekitar air terjun, kini mulai dirambah oleh masyarakat untuk membuka kebun setelah sebelumnya ditinggal oleh pelaku illegal logging lantaran tidak ada lagi kayu-kayu pilihan yang mereka butuhkan.

Saat berada di sana, kami menemukan kebun sengon dan pala di sekitar area air terjun, menggantikan pohon-pohon besar penampung air. Jika ini dibiarkan berlanjut, dalam waktu 10 tahun lagi, kami yakin debit air di sana akan lenyap. Karena itu, kami berharap agar destinasi ini segera ditetapkan sebagai cagar alam yang harus dilindungi oleh pemerintah. Dengan begitu, keindahan air terjun Tujuh Bidadari dapat dinikmati anak cucu kita hingga puluhan tahun mendatang.

Kami berharap agar Dinas kehutanan atau Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh segera turun ke lokasi bersama BPN untuk melakukan mapping dan menetapkan air terjun sebagai kawasan konservasi, dan membuat batasan bagi masyarakat yg ingin membuka kebun agar tidak melewati Krueng Keurtoe, agar keberlangsungan ekosistem disana tetap terjaga.

Dua hari di sana, kami pulang dengan hati gembira bercampur was-was. Gembira lantaran terbius pesona Tujuh Bidadari. Was-was karena keselamatannya terancam.

Air Terjun Bidadari adalah bidadari cantik dan langka di bumi Aceh Utara. Karena itu, rawatlah dia agar lestari sepanjang masa.[]

Foto: Air Terjun Tujuh Bidadari/ Koleksi Adly Jay Lanie


Artikel terkait:

Air Terjun Tujuh Bidadari Diusulkan Jadi Cagar Alam

Peta Menuju Air Terjun Tujuh Bidadari Aceh Utara

Video: Indahnya Air Terjun Tujuh Bidadari di Aceh Utara

Bagaimana Mencapai Air terjun Tujuh Bidadari

Galeri Foto Ekspedisi Himagep ke Air Terjun Tujuh Bidadari

Comments

comments

About the author

Yuswardi A Suud

6 Comments

Click here to post a comment