Digital Life Headline2

Pertanyakan Simpati Dunia untuk Turki, Bule Ini Bikin Netizen Nangis

simpati dunia untuk turki

Namanya James Taylor. Dari namanya bisa ditebak, ia bukan asli Turki. Ia mengaku sudah 18 bulan tinggal di Ankara, Turki, dan merasa nyaman di sana.

James Taylor menarik perhatian media Barat setelah sebuah postingannya di Facebook menggugat minimnya solidaritas untuk Turki setelah sebuah ledakan bom mengoyak pusat kota Ankara pada 14 Maret lalu. Serangan itu membunuh sedikitnya 24 orang dan melukai 125 orang lainnya.

“Pemboman malam ini terjadi di salah satu pusat keramaian di pusat kota, tempat di dimana banyak bus berhenti dan orang-orang menunggu untuk pulang ke rumah, atau yang baru keluar rumah untuk duduk dan bersantai di taman sembari menikmati secangkir teh,” tulis James.

Ia lantas membandingkan dengan reaksi orang-orang yang menaruh simpati besar ketika 12 orang terbunuh dalam serangan terhadap Charlie Hebdo di Paris. Dunia beraksi keras. Kecaman mengalir dari delapan penjuru angin. Bahkan muncul slogan “Je Suis Charlie.” Saya adalah Charlie.

Begitu juga ketika Paris kembali diserang pada November 2015 yang mengakibatkan 130 orang terbunuh dan ratusan lainnya terluka, simpati dunia melahirkan #PrayForParis.

“Anda adalah Charlie, Anda adalah Paris. Akankah Anda menjadi Ankara?,” gugat James Taylor, 23 tahun, dalam sebuah postingan di Facebook hari Minggu lalu.

James mencoba membangkitkan emosi masyarakat dunia dengan meminta mereka membayangkan seandainya itu terjadi di tempat mereka dan menimpa orang-orang yang mereka cintai. “Para korban ini tidak berbeda. Hanya saja kebetulan kali ini menimpa orang Turki,” tulis James.

“Dapatkah anda bayangkan berada di sana? Dapatkah anda bayangkan tempat yang anda lalui setiap hari, tempat pemberhentian bus yang biasa Anda gunakan, juga jalanan yang biasa anda seberangi lalu tiba-tiba dilenyapkan? Dapatkah Anda bayangkan para korban? Para remaja yang sedang menghentikan bus untuk pulang ke rumahnya, kakek nenek yang sedang berjalan di tengah kota, juga orang-orang yang menunggu taksi setelah melewati hari yang panjang untuk tertawa dan bersosialisasi di bawah cahaya matahari,” tambah James.

James juga menyebutkan, berbeda dengan apa yang dipikirkan orang banyak, Turki bukanlah Timur Tengah. Ankara bukan kawasan perang, melainkan kota modern yang normal, sama seperti ibukota lainnya di Eropa, dan Kizilay adalah jantungnya, pusat kota.

“Apakah karena Anda tidak menyadari bahwa Ankara tidak berbeda dari kota-kota itu? Apakah karena Anda pikir Turki adalah negara mayoritas Muslim seperti Suriah, Irak, atau negara Timur Tengah lain yang dilanda perang saudara sehingga Anda merasa tak perlu peduli atas apa yang terjadi di Turki?” gugat James lagi.

“Turki adalah negara yang luar biasa dengan orang-orang yang menakjubkan. Saya tidak pernah merasa lebih diterima, lebih bahagia dan lebih aman daripada yang dapatkan di sini,” tambahnya lagi.

Postingan itu lalu menyebar menjadi viral dan menarik perhatian media Barat seperti huffingtonpost.com di Amerika dan The Independent di Inggris.

Ketika diakses hari ini, Jumat, 18 Maret 2016, postingan itu telah dibagikan oleh lebih 118 ribu orang dan mengundang komentar dari hampir 16 ribu orang. Sejumlah komentar mendukungnya, bahkan ada yang meneteskan air mata.

“Ankara adalah rumah saya, yang sudah berjalan 18 bulan, dan akan terus menjadi rumah saya,” tulis James.

Serangan pada 14 Maret 2016 adalah ledakan ketiga yang terjadi di ibukota Turki sejak Oktober 2015. Bulan lalu, kelompok militan Kurdi mengklaim menyerang konvoi militer dan menewaskan 28 orang.

Pada Oktober 2015, 103 orang terbunuh dan 250 lainnya terluka ketika pelaku bomĀ  bunuh diri menyasar sebuah aksi demonstrasi damai. Itu adalah serangan paling mematikan dalam sejarah Turki.[]

Comments

comments