Menelusuri Pemilik Alamat Banda Aceh di Skandal Mirip Panama Papers

Dunia sedang heboh dengan bocornya dokumen yang menyebut nama sejumlah pejabat tinggi negara, pengusaha, dan perusahaan yang diduga menyimpan aset di luar negeri untuk menghindari pajak. Ketika terkuak ke publik, dokumen itu langsung menyengat sejumlah petinggi negara.

Di Islandia, Perdana Menteri  Sigmundur David Gunnlaugsson mengundurkan diri, Selasa, 5 April 2016, menyusul aksi demonstrasi lantaran namanya tercantum dalam dokumen Panama Papers. Di Chilie, Ketua Transparancy International setempat dituntut mundur. Sementara di Pakistan, Perdana Menteri Nawaz Sharif membentuk tim khusus setelah nama tiga anaknya juga tercantum di sana.

Panama Papers ini bikin heboh setelah konsorsium wartawan investigasi dunia International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) merilis bocoran data awal April lalu. Untuk proyek ini, ICIJ menggandeng ratusan jurnalis di lebioh 80 negara yang mulai bekerja dalam diam sejak awal 2015. Di Indonesia, Tempo adalah satu-satunya media yang terlibat. Lantaran masih dalam proses verifikasi, nama-nama orang dan perusahaan selengkapnya akan dipublikasikan pada Mei 2016.

Sebelumnya, pada 2013, ICIJ merilis data mirip Panama Papers. Namanya Offshore Leaks 2013. Seperti Panama Papers, data ini juga berisi nama individu dan perusahaan yang diduga mengemplang pajak dengan mendirikan perusahaan di negara bebas pajak dan menyimpan uangnya di sana. Dalam Offshore Leaks inilah tercantum 2.961 pemilik uang asal Indonesia. Setiap nama yang tercantum di Offshore Leaks 2013 akan dicantumkan juga nama perusahaan Offshore yang dijadikan tempat menyimpan uang.

Namun, kini beredar pesan berantai yang menyertakan link nama-nama dari Offshore Leaks 2013, namun disebut sebagai data Panama Papers. Salah satu media besar di Indonesia, misalnya, menyebutkan data 2.961 pemilik uang itu adalah bagian dari Panama Papers. Tentang perbedaan dua dokumen ini bisa dilihat lebih lengkap di sini: Heboh Panama Papers dan Offshore Leaks, Ini Bedanya).

Sedangkan daftar lengkap Offshore Leaks 2013 yang dipublikasikan sejak Februari 2014 dapat diakses di sini: The Secret List of Off-Shore-Companies, Persons and Adresses, part 72, Indonesia

Nah, dalam data Offshore Leaks inilah tercantum sebuah alamat milik warga Banda Aceh. Detailnya: Jalan Supratman No. 23, Peunayong, Banda Aceh. Sayangnya, lantaran nama orang dan alamatnya dituliskan dalam kolom terpisah, tidak diketahui siapa pemilik alamat itu.  mega-utama-banda-aceh-panama-papers2
Penelusuran ATJEHPOST.COM pada Rabu, 6 April 2016 menemukan, alamat itu adalah milik CV Mega Utama, perusahaan yang menjual komputer dan peralatan teknologi informasi. Terletak di deretan pertokoan di kawasan Peunayong, perusahaan ini bertetangga dengan Percetakan Bima dan Bima Komputer.

Pelacakan lewat situs lelang online menemukan perusahaan ini beberapa kali memenangkan pengadaan peralatan teknologi informasi di level provinsi dan kabupaten. Adapun Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) perusahaan ini adalah 02.631.053.2-101.000.

ATJEHPOST.COM lantas mencoba meminta konfirmasi dari seorang lelaki keturunan Tionghoa yang sedang bertugas di sana. Lelaki yang duduk di kursi pimpinan itu mengatakan tidak tahu menahu tentang munculnya alamat toko miliknya di dokumen itu. “Saya tidak tahu itu,” katanya. Ia juga membantah punya perusahaan di luar negeri untuk mengemplang pajak.

Ketika ditanyai nama lengkapnya, ia menjawab,”buat saja CV. Mega Utama.”[]

Comments

comments

About the author

Yuswardi A Suud

1 Comment

Click here to post a comment