Mengenal Marzuki Daham, Bos Pertama Badan Migas Aceh

Mengenal Marzuki Daham, Bos Pertama Badan Migas Aceh

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh telah melantik Marzuki Daham sebagai Kepala Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA) yang pertama pada Senin, 11 April 2016. Siapa dan bagaimana sepak terjang Marzuki Daham sebelumnya?

Marzuki terpilih menduduki posisi itu setelah namanya termasuk dalam tiga orang yang diusulkan Gubernur Aceh pada Februari lalu. Dua nama lain adalah Zulkifli Abubakar dan Lukman Umar. Ketiganya dinyatakan lulus fit and proper test oleh tim seleksi yang diketuai Adnan Ganto dan dibantu oleh Muhammad Abdullah, adik kandung Gubernur Zaini Abdullah yang menjabat sebagai sekretaris tim seleksi.

Sebelumnya, nama Marzuki Daham juga tercatat sebagai Anggota Tim Energi Sumberdaya dan Mineral (ESDM) Aceh yang diangkat lewat SK Gubernur Aceh Nomor 542/323/2013 terhitung sejak April 2013.

Marzuki memang punya riwayat panjang di dunia minyak dan gas bumi. Setamat Sekolah Teknik Menengah (STM) Banda Aceh pada 1975, ia bekerja sebagai karyawan magang di Mobil Oil Indonesia sejak Januari 1977. Setahun kemudian, ia resmi menjadi karyawan Mobil Oil yang mengoperasikan ladang gas Arun di Aceh Utara.

Pada 1986, Marzuki mendapat beasiswa Mobil Oil dan melanjutkan kuliah di Texas A&M University di Amerika Serikat dan menggondol gelar sarjana Teknik Perminyakan (Petroleum Engineering) pada 1990.

Pulang dari Amerika, karirnya di Mobil Oil kian moncer. Pada April 1999 hingga Januari 2002 ia menduduki posisi Global IT Manager&Costumer Service. Ketika Mobil Oil diakuisisi Exxon dan menjadi ExxonMobil, Marzuki menjabat sebagai Koordinator Pengapalan LNG. Jabatan ini dipegangnya hingga Desember 2004.

Ketika Aceh dilanda bencana tsunami pada Desember 2004, Marzuki sempat menjadi relawan di International Organization for Migration (IOM) dan berkantor di Banda Aceh. Namun, setahun kemudian ia kembali ke habibatnya di industri perminyakan.

Sejak April 2006 ia bekerja di Chevron bagian Manajemen Kontrak LNG. Posisi ini didudukinya Juli 2013 sebelumnya akhirnya berlabuh di PT Perusahaan Gas Negara (PGN) LNG Indonesia sebagai VP Commercial and LNG Shipping.

Sebagai Kepala Badan Pengelolaan Migas Aceh, Marzuki berada di bawah Menteri ESDM dan bertanggung jawab kepada Menteri dan Gubernur Aceh dengan masa tugas selama 5 tahun.

Usai dilantik, Marzuki mengatakan akan fokus pada masa transisi tugas dan wewenang dari SKK Migas ke BPMA.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 23 tahun 2015 tentang Pengelolaan Bersama Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Bumi di Aceh, Pemerintah pusat memberikan waktu 6 bulan bagi BPMA untuk menyelesaikan proses transisi. Badan ini nantinya terdiri dari lima unit kerja dan masing-masing unit kerja membawahi  paling banyak 3 sub unit kerja.

Menurut Marzuki ada sekitar 20 orang yang akan terlibat mengisi posisi unit-unit tersebut dengan terlebih dahulu menyeleksi calon pekerjanya. Meski tidak tertutup kemungkinan warga di luar Aceh, dalam perekrutan nanti, dia akan memprioritaskan warga lokal.

Setelah efektif, dia menginginkan cadangan migas Aceh kembali dieksplorasi seperti masa kejayaan Blok Arun puluhan tahun lalu, sehingga akan berdampak besar bagi perekonomian daerah. Sebab blok-blok yang kini masih dioperasikan kontraktor di wilayah Aceh identik dengan blok yang cadangan migasnya mulai berkurang, sehingga dibutuhkan eskplorasi baru. “Misalnya Blok NSO,” kata Marzuki seperti dikutip katadata.co.id.

Dari data Kementerian ESDM ada beberapa blok migas di Aceh yang kini sudah mulai beroperasi, diantaranya blok Krueng Mane yang dioperatori ENI Krueng Mane Ltd, Blok Pase yang dikelola oleh Triangle Pase Inc, Blok A  Aceh yang dikelola oleh Medco Energi. Ada juga blok B dan NSO yang kini dikelola oleh Pertamina setelah diakuisisi dari ExxonMobil.[]

Comments

comments