Travel

Menpar Arief Yahya: Gunakan Arsitektur Nusantara untuk Homestay

Menpar Arief Yahya

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya seluruh bangunan di 10 Top Destinasi Prioritas dan lainnya harus mengikuti arsitektur khas lokal.

“Kemenpar akan berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-PR) dan Kemen BUMN, untuk membangun homestay dan toilet bersih di setiap destinasi, dengan arsitektur khas masing-masing daerah,” kata Menpar Arief Yahya.

Menurut Menpar, arsitektur homestay toilet harus memperkuat posisi destinasi. Kerjasama Kemenpar, Kemen PU-PR dan Kemen BUMN, termasuk Bank Tabungan Negara (BTN), akan diformalkan dalam Rapat Koordinasi Kemenpar dan digulirkan di Jakarta Convention Center.

“Pengunjung ke Borobodur dari Yogyakarta, misalnya, sudah bisa merasakan obyek wisata yang dituju dengan melihat arsitektur sekeliling,” kata Menpar. “Caranya, bangunan di sepanjang jalan harus disesuaikan dengan arsitektur Borobudur.”

Jadi, masih menurut Menpar, Borobudur tidak seperti alien. Bangunan dengan arsitektur berbeda sendirian, atau terkepung bangunan berarsitektur modern.

Situasi serupa juga harus terlihat di Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan lainnya. Ia juga menyebut contoh paling bagus di dalam negeri, yaitu sekitar Pantai Utara Jawa; Demak, Kudus, Pati, Rembang, dan Jepara.

“Di kota-kota ini, atap rumah penduduk banyak yang berbentuk wayang kulit, populer dengan sebutan Genting Kudusan,” katanya. “Ada pula genting kelir, genting pengapit kiri dan kanan, dan genting bulusan.”

Gagasan menampilkan arsitektur Nusantara di setiap destinasi wisata muncul saat Menpar Arief Yahya melakukan perjalanan darat di Stasiun Huangshan ke Hongcun Village di Republik Rakyat Cina. Hongcun Village adalan kampung tua, berusia sekitar 500 tahun dan tercatat dalam The World Cultural Heritage Site UNESCO tahun 2000.

Sepanjang perjalanan, Menpar Arief Yahya terkesan oleh arsitektur bangunan, dengan segala ornamennya, yang menjadi simbol keaslian wilayah. Sesampai di Hongcun Village, Menpar Arief Yahya mendapat penjelasan bagaimana setiap bangunan terjaga.

Hampir seluruh bangunan di desa itu; eksterior dan interior, masih asli dan berasal dari era Dinasti Ming dan Qing. Saluran air desa wisata itu juga masih asli; kecil tapi mengalir, dan bermuara di kolam besar, yang oleh warga dijuluki Danau Nanhu.

Danau dibangun tahun 1607. Sekeliling danau ditumbuhi pepohonan, dengan jalur untuk memotong bambu. Dari situ, pengunjung bisa masuk ke jalan kecil, selebar 1,5 meter, di dalam desa dengan 140 rumah asli yang dilindungi undang-undang.

Comments

comments