Headline1 People

Nasib Miris Ibu Almarhum Ishak Daud

ibu ishak daud
Ibu almarhum Ishak Daud/viva.co.id

Mata Nuriah (75) berkaca-kaca ketika mengusap debu di foto anaknya. Rindu itu pun semakin membuncah ketika ia memeluk bingkai foto sederhana tersebut.

Nuriah merupakan ibu kandung dari Ishak Daud. Di seantero Aceh, dahulu nama Ishak Daud begitu dikenal. Bagaimana tidak, soalnya Ishak Daud adalah panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Timur dan Tamiang.

Ya, kelompok yang disebut-sebut berpasukan senjata lengkap dan dianggap hendak mendirikan negara baru itu memang dipimpin anaknya. Ishak Daud lah yang menjadi panglima tertinggi GAM untuk wilayah Peureulak dan Tamiang Aceh.

Cerita Nuriah, Ishak Daud dilahirkan pada 12 Januari 1960. Ia tewas di Peureulak Aceh pada 5 September 2014 di umur yang ke-44 tahun. Lantaran disergap oleh TNI.

“Mungkin kini tidak ada yang mengingat lagi Ishak Daud,” kata Nuriah sembari memeluk foto anaknya, Rabu 20 April 2016.

Nuriah mengaku, sepuluh tahun usai perdamaian konflik GAM dan pemerintah, secara politik GAM sudah diakui pemerintah lewat penunjukan kepala daerah dari GAM.

Namun, ternyata itu tidak memberikan apresiasi apa pun kepada mereka yang dahulu pernah menjadi keluarga GAM. Fakta itu dirasakan betul oleh Nuriah. Dua periode gubernur yang sejatinya merupakan pentolan GAM rupanya melupakan perjuangan para mantan GAM.

“Saya merasa perjuangan anak saya sia-sia. Orang-orang sudah lupa bagaimana anak saya berjuang,” kata Nuriah.

Kini, Nuriah hidup di rumah sederhana hasil bantuan bencana korban tsunami. Ia hidup menjanda setelah ditinggal mati suaminya.

“Kini kami cuma bisa berziarah di makam almarhum. Sepuluh tahun perdamaian Aceh, tidak memberi kabar baik untuk keluarga kami,” tutur Nurjanah, adik kandung dari Cut Rostina, istri Daud Ishak.

Ya, nama Ishak Daud tenggelam tanpa bekas. Nama besar panglima tertinggi GAM yang meninggalkan seorang anak laki-laki dan perempuan ini, meredup seiring waktu.

Cerita ketangguhan Ishak Daud akhirnya jadi kenangan pahit bagi keluarga. Nasib yang dulu diperjuangkan hingga berdarah, tetap tak menemukan akhirnya.[] Sumber: viva.co.id/ilham zulfikar

Comments

comments

Topics