Kon Ka Beudoh….

Ini secuil cerita bagaimana pengalaman hidup saya bersama Rusli Bintang, seorang tokoh pendidikan –ia mendirikan empat kampus di empat provinsi, menyusul tiga kampus lagi di tiga provinsi yang berbeda– dari Aceh Besar.

Saya pernah tidur sekamar dengannya selama tiga malam berturut-turut ketika kami di Rotterdam, Belanda. Di malam pertama, saya bermimpi terperangkap dalam hujan deras dan basah kuyub hingga saya terjaga dari tidur lelap.

“Kon ka beudoh, ka suboh. Nyoe matee lam teungeut langsong lam nuraka kah nyan. Ka seumbahyang, bek hana ubah-ubah kah sidroekeuh. Hek kupugo hana kabudoh-budoh (Bangun, sudah subuh. Kalau kau mati saat tidur ini langsung masuk neraka. Kau sembahyang, nggak berubah-ubah kau ini. Capek aku bangunkan, nggak bangun-bangun kau),” kata Rusli Bintang. 

nurlis belanda

Di tangannya ada gelas yang sudah kosong. Ternyata, soal hujan memang saya bermimpi, namun tentang basah kuyub itu kenyataan. Saya disiramnya agar bangun untuk menunaikan shalat subuh. “Ka lagee lam pesantren lon seutot droneuh nyoe lagoe Bang (Saya ikut abang sekarang ini sudah seperti hidup di pesantren).” Saya bicara sambil bangun dan ngeloyor ke kamar mandi mengambil wudhu untuk shalat subuh.

Malam kedua, saya bermimpi hanyut dalam sungai hingga gelagapan dan terjaga. Ketika membuka mata, ya saya menemukan Bang Rusli, di tanganya ada gelas yang airnya tinggal setengah. Saya nggak bertanya apa-apa lagi, langsung ke kamar mandi, dan ambil wudhu lalu shalat subuh.

Malam ketiga, saya mimpi Bang Rusli menyiram saya dengan air. Dan ini sesuai dengan kenyataan, saya langsung bangun ke kamar mandi, ambil wudhu dan shalat subuh. Saya meliriknya, dia hanya tersenyum saja.

Sekarang, hampir setiap subuh telepon genggam saya selalu berdering. Siapa lagi kalau bukan Bang Rusli yang bertelepon. “Ka lheueh ka seumbahyang suboh. Kei jeut ka peungeut, tapi Allah yang kalon kah nyan beuh (Sudah shalat subuh. Aku bisa kau tipu, tapi Allah bisa melihatmu di situ ya),” katanya di ujung telepon.

Bayangkan, di suatu malam saya sedang asyik dalam sebuah klub malam, tiba-tiba telepon berdering. Tentu saja saya langsung cabut dari tempat itu dan mencari masjid untuk shalat subuh. “Hana ka taubat-taubat lagoe kah (Nggak pernah kau taubat-taubat ya),” katanya.

Saat ini saya hampir terbiasa shalat subuh. Ini lompatan kehidupan yang luar biasa bersama Rusli Bintang….. Pada dirinya memang penuh kasih sayang. Seperti kita melihat dia menyayangi anak-anak yatim yang menyapanya “Ayah”.. []

Comments

comments

About the author

Nurlis E Meuko

Add Comment

Click here to post a comment