Erasmus Universiteit Rotterdam dan Gedung Bung Hatta

Pendiri Universitas Batam (Uniba) H Rusli Bintang mengunjungi kampus Erasmus Universiteit di Rotterdam, Balanda, sebulan lalu. Ini bukan sebuah kunjungan resmi, ia hanya ingin melihat lebih dekat seperti apa sebetulnya sebuah kampus di kawasan Eropa itu didesain.

Ia memilih Erasmus lantaran perguruan tinggi ini termasuk salah satu yang terbaik di Eropa bahkan di dunia. Misalnya, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di Erasmus adalah yang terbesar dan salah satu pusat medis terkemuka akademik dan pusat-pusat trauma di Belanda. Begitu juga dengan fakultas ekonomi dan sekolah bisnisnya.

Adalah Belanda School of Commerce (Nederlandsche Handels-Hoogeschool atau RSA) yang menjadi dasar keberadaan Universitas Erasmus ini. Berdiri sejak 1913, RSA hadir berkat dukungan komunitas bisnis di Rotterdam.

Kemudian pada 1939, nama RSA menjadi Belanda School of Economics (Nederlandse Economische Hogeschool – NEH). NEH terus berkembang.  Pada 1960, berdiri fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, diikuti filsafat, sejarah dan seni, dan administrasi bisnis.

Sementara itu, pada 1966 pemerintah setempat juga telah mendirikan FK Rotterdam. Kemudian, pada 1973, NEH dan FK Rotterdam digabung menjadi satu dengan nama Erasmus University Rotterdam. Erasmus adalah nama seorang tokoh yang dianggap berjasa pada Rotterdam. Bahkan namanya saja disebut Desiderius Erasmus Roterodamus (atau Desiderius Erasmus dari Rotterdam). Pria ini lagir  di Gouda, 27 Oktober 1466 – meninggal di Basel, Swiss, 12 Juli 1536 pada umur 69 tahun. Ia adalah seorang filsuf, humanis dan ahli teologi Belanda.

Di Rotterdam, kami mengunjungi dua kampus Erasmus. Masing-masing terbagi dalam tiga domain. Di kampus pertama yang terletak di Woudestein di sebelah timur kota Rotterdam menjadi domain untuk ekonomi dan manajemen; dan domain hukum, kultur, sosial. Sedangkan domain kesehatan dan farmasi berada di kampus Hoboken Erasmus MC di sebelah barat kota. Erasmus MC inilah yang dulunya bernama FK Rotterdam.

erasmus-mc-3.jpgKampus pertama yang kami kunjungi adalah Erasmus MC. Ini kampus sangat megah. Gedung akademik menyatu dengan rumah sakit. Gedung-gedungnya berwarna putih ditingkahi warna biru yang menjadi pemanis. Didesain mirip gerbong-gerbong kereta api bersusun bertingkat-tingkat. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Di dalamnya ada rumah sakit dengan fasilitas kelas satu di dunia. Di sini juga menjadi tempat mahasiswa fakultas kedokteran belajar. Selain fasilitas rumah sakit, dan laboratorium yang sangat lengkap, yang paling menonjol adalah perpustakaannya. Di desain begitu luas, dan nyaman.

Kemudian di kampus yang terletak di Woudestein bernuansa berbeda. Begitu masuk areal kampus, banyak sekali tempat parkir sepeda. Di trotoar, bahkan disediakan tempat-tempat parkir khusus untuk sepeda. “Pemerintah di negeri Belanda sangat memanjakan orang-orang bersepeda dan pejalan kaki,” kata Rusli. Barangkali itulah sebabnya budaya hidup sehat itu menjalar ke berbagai sisi kehidupan di sini. (Klik Tautan Ini untuk Melihat Foto-fotonya)

Saat berkeliling areal kampus, tiba-tiba Rusli menunjuk sebuah gedung berwarna coklat di kempleks kampus Erasmus ini. “Coba lihat gedung itu. Nah, itulah gedung Bung Hatta,” katanya. Gedung berlantai 17 ini diresmikan pada 2013. Memiliki 372 kamar berfungsi sebagai apartemen mahasiswa. Inilah satu-satunya gedung yang namanya diambil dari tokoh atau alumni yang bukan orang Belanda. Bung Hatta yang dimaksud memanglah Mohammad Hatta yang adalah Wakil Presiden RI yang pertema. Ia pernah pernah belajar ekonomi di Universitas Erasmus antara tahun 1921 sampai 1932.

erasmus-universitas-20.jpgRusli memang suka mengunjungi kampus-kampus, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia ingin melihat sejumlah model pendidikan di berbagai penjuru dunia. Ia juga akan mengambil contoh yang bagus dari kampus yang dikunjunginya untuk diterapkan di kampus-kampus yang didirikannya. Misalnya, perpustakaan yang dilihatnya di Erasmus yang cukup menarik, ia ambil menjadi model untuk kampusnya, walau kemudian ia memodifikasi dengan kearifan lokal.

Ini sudah terwujud di perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung, sebuah kampus yang juga ia dirikan. Ia juga berencana mewujudkannya juga di kampus-kampus yang telah didirikannya seperti Universitas Abulyatama di Aceh, dan Institute Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Saat ini, Rusli sedang mengembangkan pembangunan kampus Universitas Batam. Ia akan mengambil beberapa model di Erasmus untuk diwujudkannya di Universitas Batam. Termasuk di antaranya adalah fasilitas rumah sakit yang saat ini sedang dibangun di Universitas Batam. []

Comments

comments

About the author

Nurlis E Meuko

Add Comment

Click here to post a comment