Edition: atjehpost

  • Atjehpost.com
  • Pemerintah ACEH
  • DPR ACEH
  • BANDA ACEH
  • Foto Atjehpost
  • Video Atjehpost
  • RSS
Mobile

Tentang Kami

  • Tentang Kami

Hubungi Kami

  • Iklan
  • Redaksi
  • Umum
  • Karir
atjehpost.com
  • News
  • Sport
  • Kultur
  • Meukat
  • Gaminong
  • Kesehatan
  • Diwana
  • Tekno
  • Multimedia
  • Oto
  • Saleum
  • Sosok
  • Koreksi
  • Surat
  • News
  • Nanggroe
  • Gampong
  • indonesia
  • global
  • media
  • pendidikan
  • sikula
  • kampus
  • sejarah
  • film
  • musik
  • bola

Saat Profesor AS Menulis "Dangdut Stories"

Menurut Weintraub, dangdut tak berbeda dengan jenis musik lain. Dia berproses mengikuti perubahan selera masyarakat, sehingga menuntut ide-ide kreatif dari seniman dangdut.


    • Rabu, 25 April 2012 02:00:00 WIB
dangdu.net

Musik dangdut ternyata menarik perhatian seorang profesor dari Amerika Serikat. Ia adalah Andrew Weintraub, yang kemudian menulis buku berjudul "Dangdut Stories" dan dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Dangdut, Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia"

Menurut Weintraub, dangdut tak berbeda dengan jenis musik lain. Dia berproses mengikuti perubahan selera masyarakat, sehingga menuntut ide-ide kreatif dari seniman dangdut.

"Musik selalu berproses, mengikuti lingkungan dan keadaan sosial yang berubah. Ide-ide pun harus berubah. Selalu ada proses,” kata Weintraub dalam peluncuran buku hasil karyanya di gedung Pascasarjana, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Selasa, 24 April 2012

Alasan Weintraub menulis buku tersebut dilandasi kecintaannya terhadap musik dangdut. Sejak 1984, saat masih berkuliah program sarjana, ia mulai mendengarkan musik dangdut dan melakukan penelitian. Hal ini terus dilakukannya hingga ia menjadi guru besar musik di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat.

Dalam bukunya tersebut, Weintraub lebih banyak menceritakan perjalanan musik dangdut sejak kemunculannya di era 50-an hingga kini. Tak ingin bukunya mirip sejarah kontemporer, Andrew juga menyertakan hasil wawancara dengan para penyanyi dangdut yang pernah terkenal di eranya, seperti Rhoma Irama, Elvi Sukaesih dan Elia Kadam.

Ia juga mengulas tentang polemik antara dua penyanyi dangdut, Rhoma Irama dan Inul Daratista terkait "goyang ngebor". Termasuk pro kontra goyangan penyanyi dangdut yang dianggap seronok bagi kelompok tertentu, tapi dimaklumi oleh kelompok lain.

Dalam bukunya, Weintraub juga masih mempertanyakan anggapan bahwa dangdut merupakan musik nasional. Pasalnya, menurut penelitian yang dilakukannya, dangdut lebih banyak digemari masyarakat di kawasan Indonesia bagian barat. Di bagian timur, dangdut tidak begitu digemari.

“Dangdut itu kebanyakan di Indonesia Barat. Walaupun ada dangdut di Maluku, namun tidak begitu populer,” katanya. [vivanews.com]


  • Khansa Gallery | Menjual Aneka Pakaian

  • Bima Business School, Menerima Mahasiswa Baru

  • PVC Indo Plafon & Partisi

  • MISFALAH

  • Mobil Dijual | Dealer Resmi KIA Mobil Aceh

  • RUmah Menawan di DEPOK

  • Ie Kafe, Aneka makanan minuman dan meeting room

  • Jambo Geumuloh, Makan Sambil Mancing Ikan

  • Hip Burger, Bedakan rasanya, rasakan bedanya

  • jual vespa tahun 61 modifikasi

  • Informasi pemasangan iklan : Hubungi Rinza / Nova di : 0651 805 4119 / 0811 680 1983








    • Baca Juga :

    • Pesta musik rock berlangsung sukses di Lhokseumawe
    • 21 Band ramaikan "We Do a Party" di Lhokseumawe akhir pekan ini
    • Impian Ulfa Khaliqa untuk Patarana band
    • Power Metal bawakan atmosfer berbeda di Hammersonic 2013 hari pertama
    • Burgerkill dan Dead Vertical tampil garang di Hammersonic 2013 hari pertama

    The Headline

    • aceh

      Diduga dukung Wildan, situs Polri kembali diretas

      Sampai berita ini diturunkan, yaitu Sabtu (18/5) pukul: 20:40 WIB, situs tersebut masih tidak bisa diakses.
    • AP Media | Jalan Jendral Sudirman VIII No. 2, Geuceu Iniem, Banda Raya, Banda Aceh, Telp: 0651 805 4119, Fax: 0651 805 1222. Jakarta: Jalan RP Suroso No. 14, Cikini, Jakarta Pusat, Telp: 021 319 24716, email: theatjehpost[at]gmail.com