BANDA ACEH – Sekretaris Umum Yayasan Sambinoe Cut Fahma Dahlia sore tadi melaporkan tindakan penarikan paksa mobil operasional yayasan yang berada di tangannya ke Polresta Banda Aceh. Aksi penarikan mobil Picanto KIA BK 204 JC itu terjadi siang tadi, Kamis, 26 April 2012.
Ditemui di Kantor Polresta Banda Aceh, Fatma mengatakan, selama tiga tahun terakhir, mobil Picanto warna hitam itu dipakai nya sebagai Sekum Sambinoe. Mobil tersebut, kata dia, merupakan sumbangan dari Yayasan Artha Graha atas proposal yang diajukan pihak Sambinoe.
“Selama ini tidak ada perjanjian jangka waktu pemakaian mobil itu,” kata Cut Fatma.
Menurut Cut Fatma, Sambinoe tidak bisa menarik mobil tersebut, tapi sampai sekarang, masing-masing pengurus memang mendapatkan kendaraan operasional. Apalagi sampai sekarang dirinya mengaku masih sebagai Sekum Sambinoe.
“Belum ada surat pemberhentian apapun atas diri saya,” kata Cut Fatma. Meskipun ia mengaku pernah menerima surat dari Darwati A Gani yang memberitahukan bahwa Sambinoe vakum untuk sementara waktu.
Pada 25 Maret 2012 lalu, Cut Fatma mengaku pernah menerima SMS dari Darwati yang meminta dikembalikannya mobil tersebut. “Saya tidak menjawab, karena itu tidak resmi.”
Ia juga mengaku merasa heran, kenapa yang diminta hanya mobil yang dipakai dirinya sebagai Sekum Sambinoe, sementara pengurus yang lain menurutnya masih memakai kendaraan operasional Sambinoe.
Kronologis menurut Cut Fatma Dahlia
Sekitar pukul 13.00 WIB, saat itu Cut Fatma sedang berada di rumah bersama dengan dua anaknya. Tiba-tiba, dari luar rumah terdengar suara gedoran pintu. Anaknya datang membuka pintu, begitu dibuka sejumlah pria langsung masuk ke dalam rumah. Menurut Cut Fatma, mereka yang datang sebanyak enam orang. Salah satunya dikenal Fatma bernama Didi Riyadi, adik Ketua Umum Yayasan Sambinoe, Darwati A. Gani.
“Mobil mau kami ambil, perintah dari ibu Darwati,” kata Cut Fatma menirukan para laki-laki yang datang ke rumahnya siang itu.
Cut Fatma menolak memberikan kunci mobil.Mereka kemudian membuka paksa pintu mobil, dengan mencongkel kaca. Mobil kemudian didorong ke luar halaman rumah. Kemudian menurut Cut Fatma, mereka juga merusak kunci stir mobil, dan memanggil tukang kunci untuk menghidupkan mobil.
Kepada tukang kunci yang tiba di lokasi, Cut Fatma mengatakan “jangan dibuka, karena mobil ini masih bermasalah.” Karena tahu mobil tersebut bermasalah, tukang kunci tersebut pergi meninggalkan lokasi.
Tak lama kemudian Kapolsek Ulee Kareng tiba di lokasi. Dia meminta surat perintah pengambilan mobil. Mendengar permintaan itu, keenam pria yang awalnya ingin mengambil mobil pergi meninggalkan lokasi. Menurut Cut Fatma, mereka membawa serta Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang kebetulan berada di dalam mobil. Mobil tersebut kemudian dibawa ke Polsek Ule Kareng.
Tak berapa lama kemudian, beberapa kerabat Cut Fatma datang ke rumahnya, di Jalan Salihin, Lam Geulempang, Ule Kareng, Banda Aceh. Yang hadir termasuk anggota DPRA, Abdullah Saleh.
Ketua Umum Yayasan Sambinoe Darwati A Gani belum dapat dimintai konfirmasinya. The Atjeh Post yang mencoba mengontak ke telepon genggam nya tak mendapat jawaban meski terdengar nada masuk. Begitu juga SMS yang dilayangkan tak berbalas.[]
