WAHYUNI adalah Master psikologi kelahiran Tanoh Gayo, Takengon, 26 Juni 1972. Dua puisi spesial ini dia kirim sebagai tanda kasih sayang pada keluarga. Katanya, puisi inilah simbol keeratannya dengan orang-orang yang berada diseputarnya. Berikut puisi "keluarga" untuk anak dan orang tuanya.
Anak Laki-Lakiku
Malam singkat di tepi ranjang ...
Menyapa Tuhan untukmu anak-anaku
Menjadilah Matahari Jiwa-jiwa…
Dalam luas dunia ..
Menjadilah laki-laki Agung
Bagai batu-batu, sungai, dan gunung
Kuatlah menentang Badai ..
Karena kalian kokoh
Sigap sebagai Laki-laki
Tak membiarkan kekalahan berlarut
Selalu berjiwa pelindung
Malam singkat di tepi ranjang …
Airmata intan bagimu Pangeranku
Jadilah Penyejuk mama
Untuk dunia skala besar
Mengganas pada kesalahan
Memihak kebenaran
Karena kau selalu Imam bagi kebenaranmu.
Darah-darah tubuh mengalir deras
Pada nadi-nadi lemah
Karena kau anaku
Yang telah memperlakukan masa
Dengan tenang dan sabar
Malam singkat di tepi ranjang …
Sujudku melafaz kalimah untuk namamu
Aku ingin dirimu menjadi anak laki-lakiku
Yang santun menyapa Rabbi
Menjaga setiap detik menjadi kekuatan
Hati,pikiran, dan jiwa sebagai kekasihNya
Karena kalian dua anak laki-laki-ku
yang kukuh dan kuat walau sakit
Tetaplah sebagai pejuang yang punya prinsip
Bahwa dirimu adalah laki-laki yang tidak kalah
Dan bertanggungjawab…
Anakku, puisi sederhana Mama
Di malam singkat kala kupandangi kalian
Di tepi ranjang kayu saat matamu terpejam
Terlihat gagah sebagai anak laki-lakiku…
Ya Allah,
Jadikanlah Anakku Kaleegeo patuh pada-MU
Dan selalu berada disisi-MU
Mengikuti seluruh jalan-Mu
Karena dia anak-anak-Ku yang nersujud padaMu semata
Pasar Inpres 2012
Cahayaku
Aku memanggilnya Mak
Karena sayangku padanya
Tak terperi
Darahku miliknya
Hanya sewarna merah
Dengan segaris benang hitam
Hingga tulusmu menyatukannya..
Ikhlas…
Pak
Dirimulah pria berjiwa putih miliku
Benteng dimana aku bersandar
Disampingmu aku tenang
Walau luka-luka menyerangku
Marahi aku, jika salah
Karena Menjadi kerinduanku setiap waktu
Kutau..
Malam dan siang untukku
Kalian tasbihkan hingga berjuta do’a-do’a
berjuta-juta air mata
kalian tempuh perjalanan panjang
Melawati cuaca terik dan hujan
hingga melepuh kaki dan jari
terkadang luka hati
Demi Aku
Aku ingin dihatimu, Mak
Aku ingin berada di jantungmu, Pak
Tanpa kalian apalah makna buana ini
Kalian marah pada kebun
Hanya karena rantingnya menyakitiku
Kalian menolak Laut kala dia mengancamku
Seluruhnya kalian lakukan
Hanya demi aku…
Kutau Mak
Kau sakit kala aku tersakiti
Kulihat matamu memerah
Kala airmataku tumpah
Aku tak mampu menjabarnya dengan kuat
Karena cintamu begitu berani
Menjadikanku harum dimana-mana
Kutahu, Pak
Kau biarkan sebuah warnamu pudar
Untuk pengorbanan kasih sayang ini
Namun tetap tenang, memberiku hidup
Bersama bunga-bunga di lantai itu
Kau tetap arahkan cahaya padaku
Kala diriku rapuh
Dan Inilah aku
Yang tak mampu memberi kalian bahagia itu…
Pasar Inpres, Takengon...
