TAKENGON - Siapa Amna Zalifa, SH, MH.? itulah pertanyaan sebagian banyak urang Gayo ketika namanya disebut menjadi salahsatu pemberi kata-kata menyangkut hak cipta Gayo pada acara Panggung Rindu Akustika Ivan Wy yang digelar hari ini, Sabtu 12 Mei 2012, pukul 20.00 Wib, di Warung Wahana Apresiasi (Wapres), Jalan Mahkamah, depan eks bioskop Gentala, Takengon.
Ketika bertemuThe Atjeh Post di Wapres, Amna menjelaskan, dirinya akan memberi masukan kepada seluruh urang Gayo tentang karya cipta seni, termasuk melindungi seni-seni berkarakter tinggi sepertiSaman Gayo, Didong,Guel, dan lain-lain. "Kita dorong semua kesenian itu ada perlindungan hukum," kata Praktisi hukum Amna Zalifa.
Dikatakan perempuan lulusan S2 Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala ini, di Gayo saat ini diperlukan lembaga untuk perlindungan hakcipta, sejarah, dan cerita Gayo, karena Gayo menyimpan beragam kekayaan yang menyangkut budaya dan adat.
"Sudah saatnya gayo ada perlindungan hukum, terutama menyangkut karya-karya seni yang ada di pedalaman Aceh," jelas Amna.
Amna Zalifa, perempuan kelahiran Takengon 20 Pebruari 1969 selain aktif sebagai dosen hukum di kampus Muhammaddyah Takengon, Amna juga tercatak sebagai koordinator LBH Apik utnuk wilayah Gayo. Selain itu, dikenal sebagai praktisi hukum yang kerap memberi pemahaman hukum kepada masyarakat pedalaman, terutama untuk kaum perempuan.
Direncanakan malam ini, Amna zalifa termasuk salah satu yang dimita penitia untuk berbicara hak cipta seni di Gayo, dan diharapkan akan melahirkan sebuah pemikiran untuk masa depan seni budaya hukum. Selain Amna, turut menjadi pembicara Gayo, fotografer Firdaus Chalid.[]
