Edition: atjehpost

  • Atjehpost.com
  • Pemerintah ACEH
  • DPR ACEH
  • BANDA ACEH
  • Foto Atjehpost
  • Video Atjehpost
  • RSS
Mobile

Tentang Kami

  • Tentang Kami

Hubungi Kami

  • Iklan
  • Redaksi
  • Umum
  • Karir
atjehpost.com
  • News
  • Sport
  • Kultur
  • Meukat
  • Gaminong
  • Kesehatan
  • Diwana
  • Tekno
  • Multimedia
  • Oto
  • Saleum
  • Sosok
  • Koreksi
  • Surat
  • News
  • Nanggroe
  • Gampong
  • indonesia
  • global
  • media
  • pendidikan
  • sikula
  • kampus
  • sejarah
  • film
  • musik
  • bola

Doktrin Nasionalisme A. Hasjmy dalam Novel

Bicara soal Aceh dalam bingkai Indonesia selalu menarik. Perjalanan panjang Aceh, dalam sumbangsihnya untuk Ibu Pertiwi, telah melahirkan berbagai cerita yang ditulis banyak orang, baik bentuk fiksi maupun nonfiksi, sastra maupun nonsastra.


    • HERMAN RN
    • Minggu, 13 Mei 2012 01:15:00 WIB
HERMAN | Kover buku Nasionalisme dan Sastra

ENTAH mengapa, bicara soal Aceh dalam bingkai Indonesia selalu menarik. Perjalanan panjang Aceh, dalam sumbangsihnya untuk Ibu Pertiwi, telah melahirkan berbagai cerita yang ditulis banyak orang, baik bentuk fiksi maupun nonfiksi, sastra maupun nonsastra.

Dalam berbagai penelitian ilmiah, tulisan tentang sejarah Aceh-Indonesia seakan tidak lepas dari konflik dan pertikaian. Gelar bahwa “Aceh pembangkang” pun nyaris tersemat untuk Negeri Serambi Mekkah. Hal ini dimulai dengan pergerakan DI/TII yang dikemudi oleh Daud Beureueh. Redamnya gejolak DI/TII pun belum berarti Aceh diam. Pada tahun 1973, giliran Hasan Tiro memimpin gerakan. Kali ini dengan nama Aceh Merdeka (AM) yang kemudian sempat disebut-sebut dengan Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan selanjutnya pascaperjanjian damai Helsinki gerakan ini melebur diri menjadi Komite Peuralihan Aceh (KPA).

Gerakan-gerakan itu mempertaruhkan soal nasionalisme, perkara kebangsaan, marwah dan harga diri Tanah Air. Lantas, bagaimana nasionalisme dipertaruhkan lewat karya sastra?
A. Hasjmy mungkin dapat dijadikan salah satu ‘mata panah’ dalam melihat kenasionalismean sastrawan Aceh. Hasjmy bukan hanya seorang sastrawan. Dilahirkan di Montasik, Aceh Besar, 28 Maret 1914, ia sempat menjabat sebagai Gubernur Aceh, rektor pada Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, dan terkenal juga sebagai ulama, serta banyak menerima penghargaan dari Pemerintah Indonesia. Lantas, apa nasionalisme Hasjmy saat mengarang?

Kiranya semakin pantas Wildan meneliti kepengarangan Hasjmy dari sisi nasionalisme, kendati tinjauannya pada beberapa novel saja. Hasjmy memang dikenal sebagai penulis novel yang produktif pada masanya, di samping cerpen dan puisi. Dari tujuh novel Hasjmy yang diteliti oleh Wildan, ditemukan bahwa semuanya mengandung unsur nasionalisme (hlm.4).

Lebih menarik jika mau merunut sejarah kepengarangan A. Hasjmy. Ia sudah menulis dalam lima periode. Pertama, zaman penjajahan Belanda (1914-1942). Saat itu, Hasjmy masih menempuh pendidikan dan belajar berorganisasi. Namun, ia mampu menghasilkan lima buah novel, 30-an cerpen, dan dua antologi puisi. Kedua, zaman penjajahan Jepang (1942-1945), Hasjmy menghasilkan sebuah novel Suara Azan dan Lonceng Gereja. Novel ini digarapnya secara sangat serius hingga sampai menjalin asmara dengan seorang gadis kristiani. Padahal, kala itu ia sudah disibukkan aktivitas sebagai guru, kepala polisi, selain tercatat juga sebagai redaktur salah satu surat kabar.

Ketiga, zaman revolusi (1945-1949). Kala ini Belanda masih melakukan agresi terhadap Indonesia, tetapi tidak menyurutkan semangat Hasjmy berkarya. Di sela-sela sebagai Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan menghadiri berbagai even atas nama utusan Indonesia, ia sempat membuat antologi puisi Djalan Kembali yang berisi 48 puisi (hlm.47).

Keempat, akhir Orla (1950-1966), Hasjmy melahirkan kumpulan novel Asmara dalam Pelukan Pelangi, yang berisi tiga novel pendek, bersama tiga sastrawan Indonesia. Saat-saat genting ia mendapat imbas DI/TII ini, Hasjmy masih mampu menghasilkan roman perjuangan Ally Gadis NICA. Bahkan, ia sangat piawai berpikir bagaimana mewujudkan sebuah perguruan tinggi di Aceh. Maka, kehadiran Kopelma Darussalam boleh dikatakan sebagai buah pikiran A. Hasjmy, sebagaimana dituangkannya dalam novel Bermandi Cahaya Bulan.

Kelima, masa Orba (1966-1998). Ketika ini, ia mengalamai rangkap jabatan, selain sebagai Gubernur Aceh, juga Plt Rektor IAIN Ar-Raniry. Akan tetapi, ia mampu menghasilkan novel Meurah Johan, Sultan Aceh Pertama, dan Tanah Merah, Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

Doktrin Nasionalisme

Sebenarnya, selain tujuh novel yang dikaji oleh Wildan, ada beberapa karya A. Hasjmy yang lain, yang tak kalah menarik. Karya itu antara lain Sayap Terkulai (roman perjuangan, 1930-an) dan Cinta Mendaki (roman filsafah). Kedua naskah ini hilang pada Penerbit Balai Pustaka di zaman penjajahan Jepang. Ada juga Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (roman sejarah 1940). Roman ini disita oleh Belanda karena alasan politik. Tersebut pula Dewi Fajar (roman politik, 1943) yang tidak berhasil ditemukan oleh Wildan.

Untuk mencermati doktrin nasionalisme dalam karya sastra, Wildan mengamati beberapa hal: otonomi nasional, tentang kebebasan-kemerdekaan-kemandirian; kesatuan nasional, soal kesatuan wilayah-bangsa-bahasa-ideologi-sistem pertahanan-kesatuan budaya; dan identitas nasional, mengenai organisasi pergerakan-simbol kepahlawanan-simbol budaya (59-100).

Dari langkah-langkah itu, Wildan berkesimpulan bahwa secara umum novel A. Hasjmy mengemban doktrin nasionalisme keindonesiaan, bukan nasionalisme keacehan, kendati Hasjmy lahir dan besar di Aceh. Adapun teknik penyampaian doktrin nasionalisme A. Hajmy, dari hasil kajian Wildan, adalah melalui teknik surat-menyurat, teknik pidato, catatan  harian, penyisipan puisi, dan catatan kaki.

Meski demikian, sebagai seorang ulama dan dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang kental, misi A. Hasjmy dalam penyampaian nasionalisme-nya mengemban misi keagamaan, misi kemakmuran, misi pedidikan, dan misi demokrasi politik.

Dengan demikian, buku ini sangat bermanfaat bagi para peneliti selanjutnya yang hendak menelaah soal nasionalisme, terutama dalam karya sastra. Hal ini penting, mengingat hadirnya karya sastra zaman sekarang bagai jamur tumbuh di musim hujan. Jumlah karya sastra di suatu zaman tentu tidak dapat dijadikan indikator majunya karya sastra di zaman tersebut. Kemajuan sastra Indonesia boleh jadi di belakang, pada zaman sebelumnya.

Buku ini bermanfaat juga bagi guru, akademisi, dan sastrawan. Hanya saja, ditinjau dari sisi fisik, warna sampul buku terlalu gelap. Jika buku ini dipajang pada rak buku, sulit menjangkau kecepatan mata pengunjung sehingga dari sisi marketing mungkin sedikit lambat terjual. Terlepas dari itu, Wildan telah melakukan sebuah tinjauan terpenting dalam ranah sastra, yakni keluar dari kajian tema, alur, atau amanat secara umum, melainkan memberi tinjauan lebih spesifik, yakni nasionalisme dalam sastra secara rinci.[]

Judul Buku    : NASIONALISME dan SASTRA

Penulis          : Dr. Wildan, M.Pd.
Penerbit         : GEUCI
Cetakan I       : Juli 2011
Isi                    : xiv + 24 : 16 x 24 cm
Harga             : Rp70.000,-
 

Herman RN, cerpenis dan pengkhidmad sastra lokal


  • Mobil Dijual | Dealer Resmi Daihatsu Aceh

  • Kue Adee Kak Nah, Meuraksa

  • New Remix Family Karaoke

  • Bakpia Banda | Melayani Pemesanan Jumlah Besar

  • LANJA Butik

  • PRIMAGAMA | Terdepan Dalam Prestasi

  • Promo Spesial 2013

  • Dokumentasikan Event Spesial Anda Bersama Indie Foto Video

  • Promo Spesial 2013

  • Cappucino Cincau | New Experience New Taste

  • Informasi pemasangan iklan : Hubungi Rinza / Nova di : 0651 805 4119 / 0811 680 1983








    • Baca Juga :

    • Banda Aceh terpilih sebagai lokasi seleksi ke Al Azhar Mesir
    • Menteri Azwar Abubakar bertemu mahasiswa Aceh di Turki
    • Besok ada diskusi Mengembalikan Penyair Istana di Sultan Selim
    • Kajati serahkan 24 mobil operasional untuk Kejari di Aceh
    • Komisi F DPR Aceh selesai bahas Raqan kesejahteraan sosial pasal per pasal

    The Headline

    • aceh

      Ini kata koordinator event usai konser Zivilia dan Five Minutes tadi malam

      "Tour kita dilakukan di seluruh Indonesia, untuk di Aceh ada 4 daerah yaitu, Banda Aceh, Takengon dan Lhokseumawe," katanya.
    • AP Media | Jalan Jendral Sudirman VIII No. 2, Geuceu Iniem, Banda Raya, Banda Aceh, Telp: 0651 805 4119, Fax: 0651 805 1222. Jakarta: Jalan RP Suroso No. 14, Cikini, Jakarta Pusat, Telp: 021 319 24716, email: theatjehpost[at]gmail.com