BERPAKAIAN warna putih rapi, kumis tebal melintang di atas bibirnya. Dia duduk sambil melahap masakan di sebuah rumah makan padang di Jakarta. Dia menebar senyum kepada setiap orang yang menyapa dan menyalaminya. Dialah pria yang akrab di sapa Cek Mad yang dua pekan lalu telah mendengar putusan Mahkamah Konstitusi yang telah mensahkan dirinya sebagai Bupati terpilih di Aceh Utara periode 2012-2017.
Bernama lengkap Muhammad Thaib, pada Pilkada Aceh Utara yang lalu dia berpasangan dengan Muhammad Jamil. Dukungan penuh dari Partai Aceh membuat pasangan ini meraup 171.130 suara (64,12 persen) dari 266.870 suara sah dalam Pilkada Aceh Utara yang digelar 9 April lalu. Ini adalah salah satu kemenangan yang terbesar bagi calon bupati di seluruh Aceh yang berlangsung secara serentak untuk 17 daerah.
Berikut adalah petikan wawancara dengan Cek Mad:
Anda kelihatan mendapat dukungan banyak di Aceh Utara?
Iya, saya berterimakasih pada rakyat Aceh Utara. Ini menjadi amanah yang tentu tidak mudah dalam menjalankannya. Tapi kan harus bisa, apalagi masyarakat Aceh Utara memang butuh perbaikan kesejahteraan, itu yang harus saya lakukan untuk rakyat di sana.
Mengingat Anda kan bekas kombatan, dan soal ekonomi itu adalah disiplin ilmu tersendiri serta membutuhkan keahlian?
Saya memang bukan orang pintar. Dan saya tak mau juga sok pintar. Tetapi kan banyak orang pintar di Aceh Utara yang nanti bisa kita ajak membangun daerah. Kita akan pilih ahli-ahli sesuai bidangnya dan meminta menerapkan ilmunya untuk kesejahteraan rakyat di Aceh Utara. Saya yakin banyak sekali yang akan membantu nantinya.
Apakah akan ada perombakan besar-besaran di tubuh pemerintah Aceh Utara nantinya?
Menurut saya begini, bagi pejabat yang memang memiliki kapasitas yang bagus, cerdas, dan mau membangun Aceh Utara tentu nggak perlu khawatir. Pejabat yang pengabdian kepada masyarakatnya bagus, sudah pasti saya membutuhkannya. Namun bagi orang-orang yang tak memikirkan rakyat tentu tak sepatutnya lagi menduduki jabatan itu. Ya kita cari orang-orang yang mampu di posisi itu. Jadi saya dipilih rakyat Aceh Utara adalah untuk mempedulikan nasib rakyat, bukan nasib pejabat. Intinya, orang-orang yang memiliki kemampuan tak perlu khawatir, sebab mereka pasti akan diberdayakan untuk masyarakat.
Selama ini, di Aceh utara masalah yang paling mendasar adalah interennya. Internal pemda tidak profesional, jadi dari tahun 2002 sampai tahun 2005 tidak profesional, bupati kemaren tidak profesional, dalam menempatkan posisi tenaga di dinas juga saya lihat tak sesuai kapasitasnya.
Kita nanti akan memakai mekanisme uji kelayakan terhadap para pejabat. Jadi orang yang mampu tidak perlu khawatir, dalam hal ini kita siap untuk memberdayakan mereka yang siap pakai.
Bagaimana dengan nasib para kombatan-kombatan nantinya?
Pertama-tama yang harus saya katakan, mantan kombatan-kombatan di Aceh Utara yang mendukung saya adalah orang-orang yang peduli pada nasib rakyat Aceh Utara. Mereka adalah orang-orang yang tidak semata-mata mementingkan diri sendiri. Kendati demikian, saya tentu harus memperhatikan mereka juga.
Tentu banyak sekali cara untuk memperhatikan itu. Misalnya, dengan mendidik mereka mandiri, membuka bengkel, hal-hal sederhana yang sesuai dengan kemampuan mereka. Intinya, mereka harus kita perhatikan dengan mendidik untuk mandiri. Selama ini mereka kan terabaikan.
Terus bagaimana dengan mereka yang menyeberang atau dengan orang-orang yang mendukung kandidat lain?
Saya kira tak ada yang harus dikhawatirkan. Malah saya akan merangkul semuanya. Saya akan mengajak bersama-sama membangun Aceh Utara. Sekarang kan bukan Pilkada lagi, jadi waktunya adalah membangun Aceh Utara, jadi marilah bersama-sama. Tak perlu lagi politik Pilkada terbawa-bawa, kita sama-sama masuk ke babak baru membangun Aceh Utara.
Baiklah, boleh dibahas sedikit tentang rancangan program ekonomi yang akan Anda terapkan di Aceh Utara?
Kunci pembangunan ekonomi yang paling penting di Aceh Utara adalah pertanian dan perkebunan. Jadi inilah yang harus kita perkuat, tak perlulah kita menjual mimpi-mimpi, sebab hanya dua bidang itulah dulu kita perkuat di Aceh Utara, lagipula di situlah rakyat berada selama ini.
Nah, salah satu jalan yang akan ditempuh pemerintah, misalnya, pemerintah daerah harus memperkuat BUMD hingga bisa membeli hasil kebun dan pertanian milik rakyat. Salah satu cara memperkuat BUMB, tentu pemerintah bisa memikirkan duit untuk BUMD itu bagaimana mendapatkannya.
Lalu, setelah itu BUMD itu kita ikat dengan komitmen untuk membeli hasil kebun dan pertanian rakyat. Jadi, hasil perkebunan dan pertanian rakyat tak lagi lari ke luar daerah dengan harga murah.
Tentu semuanya harus kita tempuh sesuai dengan peraturan yang ada. Harus tetap memperhatikan hukumnya, tak boleh kita melaksanakan sesuatu yang kemudian melanggar hukum. Kita harus cari aturan yang mampu membentengi ekonomi rakyat.
Bagaimana dengan nelayan?
Masalah utama para nelayan kita di Aceh Utara ini adalah pukat-pukat harimau yang datang mengeruk perut laut. Pengganggu nasib nelayan tradisional itu malah datangnya dari luar negeri. Nah ini langkah pertama yang akan kita lakukan bagaimana caranya menghentikan tindakan pukat harimau itu. Jika itu tidak kita halau, nelayan kita akan tetap saja kesulitan. Nelayan-nelayan asing yang masuk daerah itu memakai kapal modern, sedangkan nelayan-nelayan kita cuma memakai sampan dengan mesin temple.
Setelah itu teratasi, maka akan mudah bagi nelayan untuk mendapat kesejahterannya. Jadi yang harus kita selesaikan adalah inti masalahnya dulu.
Kembali ke masalah awal, Anda digugat oleh lawan politik Anda, apakah tidak menyimpan dendam?
Itulah yang jangan kita lakukan. Saya sudah menganggapnya selesai, kan sudah ada putusan Mahkamah Konstitusi, jadi tak ada persoalan lagi. Kalau kita sama-sama mentaati aturan hukum, nggak ada persoalan lagi. Biasalah itu dalam demokrasi, kan upaya hukum adalah sebuah jalan yang bagus. Saya pun sudah nggak pernah membicarakan masalah-masalah itu lagi. Saya lebih suka membahas kebersamaan untuk membangun Aceh Utara. []
