POLEM: Hai, Dolah ! Bek ka publoe sangak sinan. Mana kopi untuk saya ? (Merepet sendiri ) Nasib....nasib..., Kalau saya tau begini pada akhirnya takkan pernah mau saya bersusah payah membantunya dulu dimasa sulit.
DOLAH: Ini kopinya, Polem. Pakon droeneuh uroe nyoe, Polem ? Apa ada masalah dengan Da Buleun semalam, ya ?
POLEM: Dolah ! Engkau ini masih aneuk manyak khep pusat, kenapa sudah terlalu berani bicara seperti itu deungon orang tua ? Dasar anak tidak beradab engkau ini. Nyoe kutampa ngon seulop jepang nyoe bak muka keuh baro ka teu peu droe keuh ( Dolah lari terbirit-birit ).......
APA KAOY: Assalamualaikum, Polem. ( Setelah dijawab salam ) Koq selalu ada pertengkaran deungon si Dolah, Polem ?
POLEM: Saya ini sedang berhati sedih dan kecewa. Datang ke mari untuk minum kopi Sambil menenangkan diri. Tapi si Dolah bukannya menyuguh kopi, malah bermain-main deungon saya.
APA KAOY: Seubeunarnya ada masalah apa lagi sehingga membuat Polem sampai bersedih dan kecewa ? Apakah Da Buleun merajuk lagi semalam? Hahaha....
POLEM: Alahai Apa kaoy bak meutuah, droeneuh pih sama cit deungon si Dolah. Saya bukan sedang bermasalah deungon Mak aneukmiet.
APA KAOY : Lalu deungon siapa juga, Polem ?
POLEM: Itu geuchik baka. Dulu sebelum jadi geuchik siang-malam tak pernah jauh dari saya.Kadang-kadang sampai larut malam masih di rumah saya bikin seurategi di rumah saya. Mak aneukmiet saya pun sampai kewalahan tiap malam suntuk menyiapkan kopi untuk dia dan orang-orangnya nyang seulalu ikut.
APA KAOY: Terus, ada apa pula deungon Geuchik Baka sekarang, Polem ?
POLEM: Dulu hampir semua orang mencemoohnya ketika ia mencalonkan diri jadi Geuchik. Saya bersusah payah membujuk dan meyakinkan orang sekampung untuk memilihnya. Ternyata si Baka nyan memang dasar orang tak tau diuntung, “ Lagee leumo rhot lam mon, ban ka lheuh ta peuteungoh tanyoe jipok “ .
APA KAOY: Apa nyang dia lakukan terhadap Polem ?
POLEM: Parui lon, adik perempuan daripada isteri saya itu kan seorang janda miskin ? Nah, si janda itu butuh surat keterangan miskin dari Geuchik untuk mengurus bantuan modal usaha nyang dijanjikan oleh suatu lembaga di Kecamatan. Tapi si geuchik Baka tak mau teken itu surat kalau tidak membayar uang materai sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Artinya si Geuchik Baka itu tidak menghargai saya, tidak punya rasa terimakasih.
APA KAOY: Tak perlu heran, Polem. Orang-orang nyang demikian itu memang sejak dulu sudah ada dalam masyarakat kita, disekitar kita dan dimana saja. Makanya dalam hadih maja pun Nek Tu kita sudah menyindir, “ Raket bak pisang galah bak rangkileh // Meunyo ka lheuh ji jeumeurang keu pue jih lom raket paleh “.
POLEM: Kalau peurangai macam itu dia pertahankan terus, biar saja si Geuchik Baka itu meupaloe deungon doa-doa para inong janda dan aneuk yatim lam Gampong nyoe.
APA KAOY: Sudahlah Polem. Jangan terlalu mengikuti emosi. Soal meupaloe terhadap seorang itu bukan kita nyang tentukan. Allah itu Maha adil, Maha tau segalanya dan Maha Bijaksana. Hari sudah hampir siang, mari Polem kita berangkat ke tempat kerja kita masing-masing. Ini ada hiem dari saya untuk hari ini :
Ma jih ta geusuk-geusuek
Aneuk jih ta gidong-gidong
Nah, apakah jawabannya ?
Hiem edisi yang lalu :
Apa Kaoy tukang meu bileung
Sibu leun padum uroe
Jawabannya adalah : Sibu leun hana meu uroe-uroe, siat ka lheuh
