Perkembangan zaman tidak menggoyahkan pimpinan Pesantren Al-Istiqamah Darul Muarif mempertahankan kemurnian tradisional (salafi) di dayahnya. Pesantren yang terletak di sekitar sembilan kilometer arah timur Banda Aceh ini lebih cenderung mempertahankan kurikulum khusus kitab kuning bagi para santri.
Teungku Muhaffah atau kerap dikenal dengan sebutan Teungku Ahmad Mamplam, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Istiqamah Darul Muarif, mengatakan dayah itu sengaja menjaga kemurnian salafi sebagai sebuah ciri khas pesantren tradisional sehingga sama sekali tidak mengajarkan ilmu umum.
“Makanya kami tidak menerima santri yang sekolah di luar dan tidak boleh mondok (menginap) di luar pesantren,” ujarnya ketika dijumpai The Atjeh Post, Rabu 20 Juni 2012.
Kata Teungku Muhaffah, itu dilakukan untuk mendidik para santri lebih fokus mendalami ilmu agama. Apalagi di Pesantren Al-Istiqamah Darul Muarif diterapkan sistem belajar mengajar mulai dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 23.00 malam.
Ada tujuh kelas yang dibagi untuk para santri sesuai dengan tingkatan masing-masing. Di kelas-kelas tersebut akan diajarkan ilmu Matan Taqrib (Fiqh), Matan Sanusiah (Tauhid), Al-Qaiyubi Wal Amirah (Mahalil Imam Nawawi), Matlub (Saraf), Alfiah Imam Malik (Nahwu), Jauhari Maknun (ilmu Bayyan), Qiyatul Ushwulul (Usul Fiqh) dan dibantu dengan kitab-kitab lain yang sesuai dengan tingkat kelas santri.
Enam ratus orang santri telah terdaftar di pesantren ini dengan kategori 400 antaranya adalah santri laki-laki dan 200 lainnya perempuan. Mereka berasal dari berbagai daerah. Baik dari Aceh maupun luar daerah. “Ada yang berasal dari Jambi, Malaysia dan Riau,” ujarnya.
Para santri di dayah itu tergabung pada kafilah masing-masing. Di antaranya Kafilah Pondok Aceh Besar, Kafilah Aceh Barat Selatan, Ikatan Santri Aceh Pidie, Ikatan Santri Aceh Utara, Ikatan Santri Aceh Timur dan Ikatan Santri Malaysia bersaudara serta Ikatan Santri Riau. Sementara untuk tenaga pengajar, pesantren ini memiliki 100 orang staf pengajar.
Awalnya, cerita Teungku Muhaffah, banyak yang enggan belajar di pesantren yang mempunyai luas tanah 2,5 hektare ini karena tidak ada ijazah dan pengakuan dinas. Tapi lulusan pondok pesantren yang didirikan sejak 1996 itu sudah banyak yang malang melintang di Aceh. "Bahkan ada di antaranya menjadi anggota DPR RI," kata Teungku Muhaffah.
Sekarang, dayah itu sudah mengantongi izin belajar dari Departemen Agama. Adanya izin tersebut membuat pesantren "dibidik" masyarakat luar sebagai tempat menuntut ilmu agama. Bahkan, kata Muhaffah, banyak santri yang belajar di pesantrennya berasal dari Malaysia.
Ada kisah menarik pada awal pendirian pesantren Al-Istiqamah Darul Muarif ini. Dulunya, Teungku Muhaffah menolak keras pemberian bantuan sarana belajar mengajar yang berasal dari pemerintah. Hal itu disebabkan ketidakjelasan asal dana untuk membeli fasilitas-fasilitas tersebut.
Menurut Teungku Muhaffah, pesantren pertama didirikan pada 1996 oleh Teungku Muhammad bin Zamzami di atas tanah seluas 2,5 hektare. “Hanya tanah kosong yang dipenuhi pohon mangga. Karena itulah beliau sering dipanggil dengan sebutan Teungku Ahmad Mamplam,” ujar Teungku Muhaffah.
Selain berdiri di atas lahan penuh pohon mangga, semua alat-alat pesantren yang dibeli saat itu juga berasal dari penjualan buah mangga oleh Teungku Muhammad bin Zamzami.
Seiring jelasnya anggaran dana yang masuk ke kantung Pemerintahan Aceh, membuat pendirian pimpinan pondok pesantren ini melunak. Sehingga perlahan mereka mulai menerima bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah untuk memajukan pesantren.
Berkat bantuan itu, kini pesantren tersebut telah memiliki fasilitas memadai untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Fasilitas yang ada di antaranya ruangan kantor, perpustakaan, ruang komputer, sepuluh balai pengajian, dan puluhan kamar untuk para santri serta guru.
Bagi yang ingin belajar di pesentren itu, kata Teungku Muhaffah, sama sekali tidak dibatasi usia. Hanya saja mereka yang ingin belajar tersebut harus memenuhi satu syarat, yaitu bisa membaca Al Quran.
“Karena kita di sini tidak belajar baca Al Quran tapi langsung belajar kitab. Untuk biaya, kita hanya mengutip biaya listrik saja sebesar Rp10 ribu setiap santri per bulannya.”[]
