BANDA ACEH - Tenun sebagai salah satu kerajinan tangan masyarakat Aceh kini semakin sulit ditemukan atau kian langka. Padahal kain tenun Aceh yang dikenal dengan sutra Aceh sempat menembus pasaran di Asia dan Eropa. Namun pengaruh modernisasi dan perkembangan budaya yang begitu kuat membuat aktivitas menenun ditinggalkan oleh masyarakat Aceh.
Hal tersebut dikatakan oleh kepala UPTD Museum Aceh, Nurdin AR pada acara Pameran Tenun Tradisional Nusantara di komplek Museum Aceh, Rabu 11 Juli 2012. Ia sangat menyayangkan jumlah penenun tradisional di Aceh saat ini sangat sedikit. Bahkan dikhawatirkan semakin hari akan hilang sama sekali. Padahal bila melihat sejarah, kain sutra Aceh sudah sangat terkenal dan memiliki nilai jual tinggi.
"Tradisi menenun sudah terkenal sejak abad ke XVI. Saat itu dalam kehidupan masyarakat Aceh hampir semua rumah punya alat tenun. Setiap daerah punya peralatan tenun. Fungsi dan kegunaan alat tenun di setiap daerah sama, bentuk dan penggunaan juga hampir sama namun namanya saja yang berbeda," jelasnya.
Di Aceh peralatan tenun tradisional disebut Teupeun. Di daerah lain seperti Makasar dikenal dengan Balira. Nurdin menambahkan, tempo dulu masyarakat membuat pakian sendiri dari kain tenunannya dari kapas, sutera dan serat nenas. Bahkan tak jarang hasil tenunan masyarakat Aceh saat itu diimpor keluar negeri, seperti Cina, India dan Jepang.
Konon kata Nurdin, hasil tenun Nusantara termasuk Aceh di dalamnya beberapa tahun silam laris manis dipasar Asia, Eropa dan Amerika.
"Kita patut berbangga karena disinilah kita menemukan indentitas dan jati diri bangsa yang cukup terkenal. Aceh terkenal dengan sutra Aceh, Sumtra Utara terkenal dengan Ulos, Palembang terkenal Jumputan, Lampung dengan Tapisnya dan NTB dengan tenun Ikatnya," tambah Nurdin.
Sebagai sejarawan serta selaku Kepala Museum Aceh, ia berharap pameran tenun tradisional nusantara ini bisa memberikan motivasi kepada masyarakat Aceh untuk kembali mengembangkan tradisi menenun. []
