JAKARTA-Pemerintah Indonesia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pertemuan menteri luar negeri ASEAN yang gagal menghasilkan pernyataan bersama. Hal itu diutarakan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pernyataan khususnya di hadapan sejumlah wartawan, di Jakarta, Senin 15 Juli 2012.
Menurut SBY, kegagagalan mengeluarkan pernyataan bersama dalam pertemuan tingkat menteri ASEAN pertama terjadi dalam sejarah berdirinya ASEAN. "Terus terang, sebagai salah satu pemimpin negara ASEAN, saya kecewa dan prihatin," ujarnya.
Kata SBY, apa yang baru saja terjadi dalam pertemuan itu bisa menimbulkan gambaran yang keliru tentang ASEAN. Mestinya, tambah SBY, serumit apa pun masalah selalu ada titik temu dan selalu ada konsensus.
"Serumit apa pun mestinya bisa dibangun satu konsensus yang akhirnya diwujudkan dalam joint komunike, deklarasi, bahkan banyak yang jadi agreement," kata SBY lagi.
Sebelumnya, para menteri ASEAN dalam pertemuan yang berakhir pada akhir pekan lalu di Phnom Penh Kamboja gagal mencapai kesepakatan yang mencakup acuan sengketa sejumlah anggota dengan Cina dalam soal sengketa wilayah Laut Cina Selatan
Saat ini Filipina Selatan, Malaysia, dan Brunei, terlibat konflik dalam klaim teritorial kawasan yang kaya minyak di Laut Cina Selatan. Para pejabat ASEAN dalam pertemuan itu mengatakan anggota menginginkan pernyataan bersama di akhir pertemuan yang mencakup acuan sengketa sejumlah anggota dengan Cina itu. Namun, kesepakatan itu gagal mereka wujudkan.
Filipina menuduh Kamboja-sekutu dekat Cina-mencegah agar sengketa itu disinggung. Namun, Menteri Luar Negeri Kamboja, Hor Namhong, mengatakan semua anggota ASEAN bertanggung jawab atas kegagalan mengeluarkan pernyataan akhir itu.
"Saya telah meminta agar isu komunike bersama dikeluarkan tanpa menyinggung sengketa Laut Cina Selatan... Namun, sejumlah anggota beberapa kali menekankan agar isu Scarborough Shoal (kawasan di Laut Cina Selatan) dicantumkan," kata Hor Namhong.
Presiden Yudhoyono mengaku telah mengatakan kepada para delegasi bahwa pertemuan menteri luar negeri ASEAN bukan pengadilan dan bukan tempat untuk menjatuhkan keputusan terkait sengketa.
Presiden Indonesia, meminta Kamboja mampu memainkan perannya untuk bisa mendorong munculnya sikap ASEAN terkait soal Laut Cina Selatan yang akan dibawa dalam dalam pertemuan pemimpin ASEAN bersama negara mitra mereka.
"ASEAN harus punya posisi yang kokoh, kuat, dan jernih, dengan semangat kebersamaan, saya yakin masih ada jalan untuk betul-betul mengelola persoalan Laut Cina Selatan dengan sebaik-baiknya," kata SBY.
Pemerhati masalah luar negeri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, Adriane Elizabeth, menyebutkan tidak adanya kesepakatan dimunculkan dalam pertemuan tingkat menteri akhir merupakan sesuatu yang biasa dan realistis. "Sebuah pertemuan, jika tidak mencapai kesepakatan itu memang realistis bahwa ada masalah dalam tubuh ASEAN yang tidak bisa selalu ditutupi dengan kesepakatan bersama," ucapnya.
Sebelumnya, forum para menteri ASEAN menyepakati peraturan maritim dan mengajukan usulan itu agar disepakati Cina. Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan Beijing akan mempertimbangkan bila usulan itu dianggap layak. Indonesia bersama Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura merupakan negara yang mempelopori terbentuknya ASEAN pada tahun 1967. | sumber:bbc
beritadaerah.com
Sayed Cell, Menjual Aneka HP
Promo Spesial 2013
TB MARA
PT Ashkabila Tour & Travel
Mobil Dijual | Dealer Resmi Daihatsu Aceh
Rita Suezno, Fashion Designer & Boutique
PT. ANANDA TRAVEL, Solusi Cepat Untuk Penerbangan Anda
Mobil Dijual | Dealer Hino Banda Aceh
Aceh Estate, agen jual beli properti terpercaya
Radio Binkara | Just Enjoy Your Music
Informasi pemasangan iklan :
Hubungi Rinza / Nova di : 0651 805 4119 / 0811 680 1983