TAKENGON - Perempuan Aceh Tengah yang dimotori oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) serta Gerakan Organisasi Wanita (GOW) setempat, menggagas upaya penanganan sampah rumah tangga untuk dapat dimanfaatkan. Dari penanganan sampah tersebut, diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekologis maupun ekonomis.
Terkait dengan gagasan tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Tengah, Ny. Yanna Tanwier mengatakan, sampah rumah tangga merupakan salah satu akar utama dari keseluruhan penanganan sampah dalam masyarakat.
Sehingga, kata dia, apabila perempuan dapat berperan untuk mengelola sampah yang dihasilkan pada masing-masing keluarga, relatif akan lebih mudah menangani persoalan sampah dalam masyarakat.
“Kaum perempuan harus mengambil tempat di depan untuk menjaga kesehatan keluarga. Salah satunya adalah bagaimana menangani sampah yang dihasilkan oleh setiap keluarga," katanya pada Senin 16 Juli 2012 sore.
Sampah organik yang telah dipilah menurut Yanna dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos maupun bahan baku makanan hewan dan lainnya. Sedangkan sampah non organik dapat dimanfaatkan untuk bahan-bahan yang dapat didaur ulang seperti plastik dan kertas.
"Jika pemilahan dilakukan dengan benar, maka akan memberikan dampak ekonomis bagi keluarga dan pada saat yang sama juga akan memberikan dampak ekologis bagi lingkungan," katanya.
Agar pemanfaatan sampah dapat terus dilakukan dengan benar, Yanna mengharapkan sosialisasi kepada masyarakat harus lebih gencar dilakukan dan tidak bisa dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja namun dilakukan secara berkelanjutan.
Karena, menurutnya, sampah yang diproduksi oleh masyarakat akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan hidup yang harus mereka penuhi.
"Gagasan penanganan sampah akan tinggal gagasan jika tidak dipraktikkan. Untuk itu mulailah sekarang juga, mulailah dari keluarga, dan mulailah dari perempuan sebagai pionernya," kata Yanna.
Pj. Bupati Aceh Tengah, Ir. Mohd. Tanwier, MM, menyambut positif gagasan yang dilakukan oleh kaum perempuan di daerahnya. Ia mengatakan, inisiatif tersebut sangat tepat dalam mencermati pengelolaan sampah masyarakat yang membutuhkan perhatian serius.
"Intinya bagaimana kita dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah tersebut," ujar Tanwier.
Tanwier mengatakan, sistem tersebut harus dimulai dari rumah tangga ketika sampah dihasilkan apa yang harus dilakukan.
"Harus diakui, kesadaran masyarakat untuk menjalankan sistem pengelolaan sampah masih relatif kurang. Disinilah kaum perempuan dapat berperan lebih dalam memberikan pemahaman dan penanganan sampah yang lebih baik," kata dia.[]
