Di tepi Republik ini pernah ada serentetan perlawanan melawan kolonial yang dicatat sejarah. Namun, peranan sebagian pejuang kemerdekaan itu tak begitu dianggap oleh sejarah. Kisah mereka hilang tanpa teks, seperti jejak kuburan mereka yang entah di mana.
+++
Belasan bendera merah putih kecil tergantung pada seutas tali di atas trotoar, Kamis pekan lalu. Bentuknya segitiga, petak, hingga setengah bundar dengan aneka ukuran. Pemilik bendera adalah seorang ibu penjual bensin eceran di Jalan Teuku Umar Seutui. Sebagian bendera ia gantung di pagar Kerkoff Peucut di belakangnya. Kerkoff merupakan kompleks kuburan prajurit Belanda yang tewas dalam Perang Aceh.
Beberapa pengendara sepeda motor berhenti membeli bensin. Tidak ada yang menanyakan bendera. Biasanya, kata si penjual, menjelang 17 Agustus banyak pengendara sepeda motor berhenti membeli bendera untuk dipasang di kendaraan.
Menjelang sepekan perayaan kemerdekaan 17 Agustus 1945, sebagian Kota Banda Aceh sudah berhias dengan merah putih. Di Banda Aceh, pengibaran bendera kebangsaan ini pertama kali dilakukan seorang Residen Aceh bernama Teuku Nyak Arif. Ia melakukannya pada 23 Agustus 1945 setelah mendapat kabar kalau Soekarno-Hatta sudah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Nyak Arif pun mengelilingi Kutaraja (Banda Aceh-red) dan membawa sehelai bendera. Ketika itu para pemuda menempelkan berita proklamasi di setiap dinding dan tembok kota, termasuk gerbong kereta api.
Sebelumnya, dua hari setelah proklamasi, Teuku Nyak Arif diangkat sebagai Residen Aceh pertama. Berdasarkan ketetapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Nyak Arif berada di bawah Mr. T.M. Hasan sebagai Gubernur Provinsi Sumatera.
Teuku Nyak Arif lahir pada 17 Juli 1899 di Ulee Lheue. Ia anak Panglima Sagi XXVI Mukim, Teuku Sri Imuem Muda Nyak Banta. Nyak Arif memulai pendidikan dasar di Banda Aceh. Lalu, ia melanjutkan ke sekolah guru di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada 1908. Dari sana ia merantau ke Jawa dan mengenyam pendidikan di Sekolah Pangreh Praja di Banten.
Karier politik Nyak Arif dimulai ketika pada umur 18 tahun ketika bergabung dalam National Indiche Partij. Ini gerakan politik nasional yang dibangun tiga serangkai Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Dua tahun kemudian, Nyak Arif menjadi Ketua National Indische Partij cabang Banda Aceh. Pada 6 Mei 1927, Nyak Arif diangkat sebagai anggota parlemen Hindia Belanda (Volksraad) mewakili Aceh.
Rusdi Sufi, dalam bukunya Profil Ulama dan Umara Aceh menuliskan pada 14 Juli 1927 Teuku Nyak Arif pernah berpidato keras dalam sidang Volksraad. “Pemerintah harus memperhatikan perasaan dan hati rakyat,” ucapnya.
Ia pun menyampaikan ide-ide kebangsaannya. Menurutnya, kesatuan nasional merupakan prasyarat mutlak mencapai kemerdekaan Indonesia. Karena omongannya yang keras, tak pelak ia kerap berdebat sengit dengan perwakilan Belanda di Volksraad.
Nasionalisme Nyak Arif pernah membawanya terlibat pertempuran. Ia memimpin penyerbuan ke tangsi militer Jepang di Lhoknga, Aceh Besar. Pada 1 Desember 1945, Jepang minta berunding untuk mencegah pertumpahan darah lebih besar. Hasilnya, semua pasukan Jepang harus meninggalkan Lhoknga.
Selain urusan mengusir penjajah, Nyak Arif juga sempat tidak harmonis dengan ulama PUSA pimpinan Daud Bereueh dan Husein Al Mujahid. Syamaun Gaharu diminta Husein Al Mujahid melepaskan kepemimpinannya di Tentara Rakyat Indonesia.
Gaharu meminta pendapat Nyak Arif. Sang Residen menyarankan Syamaun Gaharu melepaskan jabatan itu. Alasan utama Nyak Arif demi persatuan karena negara baru seumur jagung. Ia berpikir perdamaian lebih penting ketimbang perang memperebutkan jabatan.
Naasnya, sepekan setelah itu Nyak Arif dan adiknya, Teuku Abdul Hamid, ditangkap di rumahnya di kawasan Lamnyong oleh Laskar Mujahiddin pimpinan Husein Al Mujahid yang didukung Tentara Perlawanan Rakyat.
Setelah ditangkap, mereka dibawa ke Takengon. 6 Mei 1946, Teuku Nyak Arif menghembuskan nafas terakhir di Takengon. Jenazahnya dibawa pulang ke Lamreung, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, untuk dimakamkan. Kompleks makam itu sampai sekarang tetap terawat dengan baik.
Kondisi ini berbeda dengan Imum Lueng Bata yang berjuang sebelum Teuku Nyak Arif. Makam salah satu orang kepercayaan Sultan Aceh ini tidak jelas di mana. Sebagai saksi sejarah perjuangan sang imum, hanyalah Masjid Jami’ yang kini masih berdiri di Lueng Bata, Banda Aceh. Di masjid ini dulu imum mengumpulkan pengikutnya untuk menyusun strategi menumpas Belanda.
Pemimpin Kemukiman Lueng Bata ini bernama asli Teuku Nyak Radja. Ia anak Teungku Chik Lueng Bata. Dulunya Lueng Bata daerah bebas dan berada langsung di bawah kesultanan.
Lueng Bata kala itu menurut Teuku Nukman, 68 tahun, cucu Imum Lueng Bata, menjadi salah satu daerah tempat Sultan Mahmud Syah mengungsi.
Sultan Mahmud Syah mangkat pada 29 Januari di Pagar Aye, (masih di wilayah Kemukiman Leung Bata) dan beliau juga dimakamkan di Cot Bada, Aceh Besar.
Menurut Kepala Museum Aceh, Nurdin A.R., gelar Imum Lueng Bata memang teuku, bukan teungku. Kata Imum itu tidak mengacu kepada imam masjid. “Sebutan nama lain dari Imam Masjid Raya saat itu Panglima Masjid Raya,” ujar Nurdin.
Masjid Raya dimaksud Nurdin ialah Baiturrahman yang sekarang dikenal warga Aceh. Ada sebuah pertempuran di masjid ini yang berkaitan dengan Imum Lueng Bata, yakni matinya Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler.
Kohler mati di depan masjid karena ditembak seorang sniper atau penembak jitu. Sejarah merawi, penembak jitu tersebut pengikut Imum Lueng Bata. Namun, Nukman menampiknya. “Banyak orang dan juga media tidak menuliskan siapa sebenarnya penembak misterius Jenderal Kohler,” ujarnya. Penembak jitu tersebut, kata dia, memang Imum Lueng Bata.
Nukman menduga karena saat itu suasana tidak kondusif, para pengikut sepakat melindungi pimpinannya. “Maka, penembak Kohler juga dirahasiakan. Lagi pula namanya juga sniper, kan pastinya sifatnya rahasia,” ujar Nukman.
Jarak Imum Lueng Bata dengan Kohler, kata Nukman, sekitar 100 meter. Ia menilai hanya senjata seadanya yang dipakai Lueng Bata untuk menembak. Teuku Njak Radja hanya melepaskan satu tembakan dan tepat mengenai lensa keker Kohler. Peluru tembus ke dada dan Kohler meregang sembari berkata, “Oh God ik ben getroffen (Oh Tuhan Aku Kena)”.
Yang tidak diketahui Nukman hingga sekarang adalah tempat Imum Lueng Bata dikubur. Referensi sejarah menyebutkan Imum Lueng Bata meninggal dalam pengejaran tentara Belanda, tetapi tak jelas lokasinya. “Ada yang berpendapat kalau beliau meninggal di Geulumpang Minyeuk, Pidie. Hanya Allah yang tahu artinya mengapa beliau tidak diketahui makamnya. Mungkin agar beliau tetap terlindungi dari pengejaran Belanda saat itu,” ujar Nukman.
***
Penentang Belanda yang sosoknya hampir dilupakan juga ada di Nagan Raya. Namanya Teungku Padang Si Ali. Ulama ini bernama asli Habib Muhammad Yasin bin Habib Abdurrahim. Teungku Padang Si Ali bersama para pejuang lain melawan Belanda yang masuk ke negeri Seunagan.
Padang Si Ali dimakamkan di Desa Rambong, Seunagan, Nagan Raya. Nama desa itu juga disebut Pulo Ie. Makam itu kerap diziarahi pengunjung. Di dekat kompleks makam, kini tinggal Cut Wan Fatimah 90 tahun, cucu Teungku Padang Si Ali.
Namun menurut Faisal Al Qubsi, menantu Wan Fatimah, keturunan Teungku Padang Si Ali juga berada di Gampong Peuleukung.
Terkait banyaknya cerita yang tidak terpublikasi tentang perjuangan Habib, Faisal mengatakan hal itu bukan untuk dipublikasi. “Jadi, adanya kesengajaan atau tidak cerita perjuangan terhadap kafir serta memajukan Islam oleh seorang habib kerap disembunyikan,” ujarnya. Ia menganggap wajar bila cerita Teungku Padang Si Ali tidak terpublikasi dengan baik.
Namun berdasarkan catatan sejarah, Teungku Padang Si Ali diperkirakan lahir pada 1870. Di Seunagan, dibantu anaknya Tengku Putik atau Sayed Abdurrani. Kala itu negeri Seunagan dipimpin Teuku Raja Keumangan.
Padang Si Ali juga melakukan perlawanan terhadap Belanda di rimba Aceh Barat bersama Pocut Baren. Pada 1902 hingga 1904 Padang si Ali bersama Teuku Raja Tampok menghadang kesatuan-kesatuan Marsose Divisi II yang dipimpin Kapten Campioni dan Mathes.
Pada Januari 1905 Teuku Raja Keumangan berdamai dengan Belanda. Keumangan khawatir melihat kekuatan penjajah yang kian kuat. Namun, Teungku Padang dan Teungku Putik serta pejuang lainnya tak patah semangat. Mereka tetap berjuang melawan Belanda hingga Januari 1911.| MUJAHID ARRAZI | MUHAJIR ABDUL AZIZ | IKLILUDIN ARAS | RUSMAN RAFIUDDIN | TAUFAN MUSTAFA
