Edition: atjehpost

  • Atjehpost.com
  • Pemerintah ACEH
  • DPR ACEH
  • BANDA ACEH
  • Foto Atjehpost
  • Video Atjehpost
  • RSS
Mobile

Tentang Kami

  • Tentang Kami

Hubungi Kami

  • Iklan
  • Redaksi
  • Umum
  • Karir
atjehpost.com
  • News
  • Sport
  • Kultur
  • Meukat
  • Gaminong
  • Kesehatan
  • Diwana
  • Tekno
  • Multimedia
  • Oto
  • Saleum
  • Sosok
  • Koreksi
  • Surat
  • News
  • Nanggroe
  • Gampong
  • indonesia
  • global
  • media
  • pendidikan
  • sikula
  • kampus
  • sejarah
  • film
  • musik
  • bola

Wawancara Hashim Djojohadikusumo: Potensi Aceh Sangat Luar Biasa

Sosok ini bukan pengusaha sembarangan. Dia seorang taipan ternama. Salah seorang konglomerat papan atas di Indonesia. Bisnisnya tersebar di 45 negara. Mengapa Hashim sampai tertarik berbisnis di Aceh? Wartawan The Atjeh Times mewawancarainya secara khusus


    • NURLIS E MEUKO
    • Rabu, 03 Oktober 2012 10:41:00 WIB

SETELAH Aceh dalam suasana perdamaian, baru kali ini terdengar ada penguasaha nasional yang bersedia berinvestasi. Dia adalah Hashim Djojohadikusumo. Sosok ini bukan pengusaha sembarangan. Dia seorang taipan ternama. Salah seorang konglomerat papan atas di Indonesia. Bisnisnya tersebar di 45 negara.

Mengapa Hashim sampai tertarik berbisnis di Aceh? Untuk memperoleh jawaban itu, wartawan The Atjeh Times, Nurlis E. Meuko, menemui Hashim di Hotel Hermes, Banda Aceh, Kamis dini hari 27 September 2012.

Bertempat di resto Hermes, saat wawancara berlangsung, Hashim bersama beberapa pengusaha Aceh. Bersama dia, ada juga Wali Kota Langsa, dan Bupati Singkil. Tentu saja mereka bicara soal bisnis dan kemungkinan Hashim untuk ikut juga masuk dua kabupaten itu.

Berikut petikan wawancaranya.

Anda sudah berapa kali ke Aceh?

Saya pertama kali ke Aceh tahun 83, saya berbisnis di Lhoksumawe, bisnis dengan PT Arun, Pupuk Iskandar Muda, Asian Aceh Fertilizer, saya menjual bahan kimia ke perusahaan tersebut.

Menurut Anda bagaimana bisnis di Aceh setelah beberapa kali  ke sini?

Saya lihat potensial Aceh luar biasa, dan saya kaget, terus terang kaget potensinya luar biasa. Kita kan bangun pabrik kilang padi, tapi potensi di Aceh sinyalnya bisa menampung sembilan pabrik kilang di Aceh dengan kapasitas yang sama.

Apakah bisnis di Aceh untuk saat sekarang ini sangat menjanjikan atau bagaimana?

Sangat visible saya lihat. Masalah harga beras di sini kurang lebih sama seperti tempat lain di nusantara.

Tetapi, kalau mengandalkan pasar di dalam Aceh saja dengan kilang padi sebesar itu apakah layak?

Ini bisa kita pasarkan ke luar daerah. Kan Indonesia impor 1 juta ton beras dari Vietnam. Kenapa harus dari Vietnam, sementara dari Aceh kan bisa.

Dalam bayangan Anda, apakah Aceh akan mampu mengekspor beras ke luar negeri?

Kita sudah hitung, kalau tidak salah, konsumsi beras Aceh 400 ribu ton. Hanya setengah dari 9 hektare tadi. Kalau tidak salah, 60 % bisa kita kirim ke luar daerah. 400 ribu ton konsumsi Aceh, 600 ribu ton bisa ke luar negeri, seperti Malaysia.

Anda kan pernah bisnis di berbagai negara (45 negara), tapi mengapa Anda tertarik berbisnis di Aceh?

Karena saya lihat di Aceh potensinya banyak barang dan bahan yang seharusnya bisa diolah. Contohnya saja, kami lagi bangun pabrik karet di Meulaboh, Aceh Barat, dan ternyata di seluruh provinsi Aceh tidak ada pabrik karet modern satu pun, padahal karet banyak di Aceh Barat. Jadi, kenapa saya harus ke Afrika atau ke Kamboja. Perdana Menteri Kamboja memang mengundang saya, tetapi saya berpikir kenapa saya harus ke Kamboja kalau di Aceh juga bisa. Untuk apa jauh-jauh jika yang dekat pun ada.

Yang kedua, yang membuat saya bingung masalah kilang padi. Ini maaf ya, di Aceh padi sebenarnya industri dasar, tapi tidak ada pabriknya, tidak ada pabrik besarnya. Saya rasa ini menguntungkan saya sebagai investor, dan mudah-mudahan bisa menguntungkan Aceh juga.

Menurut perhitungan Anda, minimal berapa tenaga kerja yang akan terserap dalam bisnis di Aceh ini?

Kalau di Meulaboh, kita kan ada perkebunan sendiri, dan kita akan tanam 10.200 hektare, terus kita akan menampung produksi karet 71 hektare yang sudah ada. Nah, berapa yang bisa terserap, kalau di pabrik itu berapa ratus, di persemaian sudah 300 tenaga kerja yang terserap. Kita mau tanam 100 hektare tiap bulan, 1.200 per tahun.  Tiga ratus orang pekerja  full time di persemaian, kita ambil orang setempat, sedangkan kalau di kilang padi akan kita tampung 150 orang (untuk satu kilang padi).

Sambutan Pemerintah Aceh sendiri bagaimana?

Sangat memudahkan, dari Pak Gubernur (Zaini Abdullah) dan Wakil Gubernur (Muzakir Manaf) sangat membantu, bahkan selalu bertanya apakah yang bisa dibantu untuk dipercepat, malah mau cepat-cepat. Saya kira sangat mendukung.

Bagaimana pula soal keamanan berinvestasi di Aceh?

Saya rasa tidak masalah, bahkan lebih bahaya di Jakarta, malam-malam tawuran, sampai- sampai Menteri Pendidikan harus turun tangan dalam tawuran anak sekolah. Dari sini bisa dilihat lebih bahaya mana, Jakarta atau Aceh? Dan staf saya orang asing merasa nyaman di Aceh. Sudah beberapa kali ke Aceh, malam-malam ke Meulaboh, tapi tidak ada apa-apa.

Jika begitu, apakah Anda berkeinginan mengajak pengusaha Aceh yang sukses di luar Aceh untuk membantu Aceh?

Seharusnya itu saya yang bertanya. Kok orang Aceh tidak lebih aktif, terus terang saja saya bertanya, saya ke sini, mengapa pengusaha Aceh harus ke London.

Boleh berbagi tips untuk Aceh agar maju dalam segi ekonomi?

Mungkin satu yang saya lihat dan dengar dari orang Aceh sendiri, yaitu kekurangan sumber daya manusia. Saya kira masyarakat Aceh harus terbuka untuk menerima bantuan dari luar, bukan dari luar negeri saja, dari luar daerah juga. Ini mungkin harus  dilakukan dan ini kan saling menguntungkan. Dari kesehatan juga kurang dokter dan perawat. Ini bukan hanya di Aceh, tapi tempat lain di luar Aceh harus sama, harus lebih terbuka.

Janganlah memandang orang asing itu sebagai musuh, atau asing itu mengganggu kedaulatan Aceh. Saya kira kita harus terbuka dengan orang asing. Saya tidak lihat bangsa lain lebih nasionalis dari bangsa Jepang. Misalnya saja ketika berpakaian. Di luar mereka memakai pakaian Barat, tapi di rumah memakai kimono. Mereka juga sangat terbuka untuk menyerap ilmu dari luar.

Sebaliknya, umumnya orang Indonesia curiga dengan orang asing. Seharusnya, orang Aceh harus terbuka dan menyerap dan mencuri ilmu dari luar. Korea Selatan dan Jepang saja tidak malu-malu.

Saya kira Aceh itu seharusnya meniru Korea dan Jepang. Kita harus terbuka untuk menyerap ilmu dan ide-ide baru. Jangan menutup diri, tetapi tetap ada jati diri, Jepang dan Korea itu hebat.

Mana yang Anda pilih, apakah Korea Selatan atau Jepang yang layak dijadikan contoh bagi Aceh?

Terus terang saya kagum dengan Korea daripada Jepang.  Jepang kan sudah mulai pembangunan 150 tahun lebih, Korea adalah jajahan Jepang. Tahun 1960, menurut Bank Dunia, Korea Selatan dari segi ekonomi berada di bawah Indonesia, Ghana, dan Nigeria.

Sekarang tahun 2012, bisa Anda lihat sendiri. Perusahaan mana yang paling keras bersaing dengan produk Apple? yaitu Samsung, bukan Jepang, Jerman, Perancis, Inggris, atau Rusia. Apple dan Samsung bersaing terus. Kalau saya orang Korea Selatan, saya bangga. Dulu mereka miskin semua.

Nah, apa yang bisa kita belajar dari mereka, yaitu pendidikan. Mereka lebih mengutamakan pendidikan. Korea Selatan tak punya hutan, batubara, minyak, dan gas, bahkan tidak punya apa-apa. 75 persen wilayahnya batu, 30 persen untuk cocok tanam, tapi sekarang mereka maju.


  • jual vespa tahun 61 modifikasi

  • Mobil Dijual | PT. Capella Daihatsu

  • Paper Mellon, Interior Design & Wallpaper Support

  • Dijual: Mesin penetas telur baru

  • Khansa Gallery | Menjual Aneka Pakaian

  • Promo Spesial 2013

  • Trend Dunia Berbisnis Dari Rumah

  • Cappucino Cincau | New Experience New Taste

  • Ikutilah..! Darul Arqam Dasar.

  • BBC Sport Shop

  • Informasi pemasangan iklan : Hubungi Rinza / Nova di : 0651 805 4119 / 0811 680 1983








    • Baca Juga :

    The Headline

    • aceh

      Pangeran William jagokan Bayern di Liga Champions

      Ini merupakan pertama kalinya Dortmund dan Bayern berhadapan di final.
    • AP Media | Jalan Jendral Sudirman VIII No. 2, Geuceu Iniem, Banda Raya, Banda Aceh, Telp: 0651 805 4119, Fax: 0651 805 1222. Jakarta: Jalan RP Suroso No. 14, Cikini, Jakarta Pusat, Telp: 021 319 24716, email: theatjehpost[at]gmail.com