Kementerian Pariwisata bergerak cepat membentuk Tim Crisis Center setelah gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Mentawai, Sumatera Barat. Maklum, Mentawai adalah salah satu objek wisata populer Indonesia.
“Kami cepat-cepat melakukan pendataan, memantau informasi, menghubungi BNPB Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan koneksi pariwisata terdekat dengan TKP,” ujar Ukus Kuswara, Ketua Tim Crisis Center Kementerian Pariwisata.
Hingga siang tadi, 3 Maret 2016, tim yang bermarkas di lantai 15 Gedung Sapta Pesona di Jakarta itu masih berstatus siaga, meskipun warga di Mentawai dan Padang sudah kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa.
Festival Mentawai Tetap Berlangsung
Bagaimana dengan event Gerhana Matahari Total (GMT) di Mentawai, 9 Maret nanti? Apakah tetap digelar sesuai rencana? Atau ada plan B, untuk mengantisipasi warga dan pengunjung ketakutan? “Tidak, semua berjalan sesuai rencana. Festival Mentawai tetap digelar sesuai rencana,” jawab Raseno, Asdep Pemasaran Nusantara yang asli Padang, Sumbar itu.
Raseno menyebut, buat orang Padang dan Sumatera Barat, gempa bumi itu sudah seperti makanan sehari-hari. Terlalu sering ada bumi bergoyang di sana. “Jadi, masyarakat sudah biasa,” ujarnya.
Tim Crisis Center melaporkan, setelah gempa berkekuatan 7,8 SR terjadi, ada gempa susulan pagi ini dengan kekuatan 5,8 SR. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir gempa tersebut terjadi pukul 07.10 WIB. Lokasi gempa berada di 4.58 LS – 94.56 BT, atau sekitar 598 km Barat Daya Kepulauan Mentawai, Sumbar. Gempa ini terjadi pada kedalaman 10 kilometer. Tidak ada peringatan tsunami akibat gempa ini.
Meskipun komunikasi dengan masyarakat di Mentawai termasuk yang berada di Pulau Siberut Selatan belum sepenuhnya lancar, tapi berdasarkan laporan yang dihimpun Tim Crisis Center Pariwisata, masyarakat di pulau itu telah kembali ke rumahnya dan beraktivitas sebagaimana biasa. Kegiatan pendidikan juga berjalan dengan normal seperti biasa. Sampai siang tadi belum ada laporan korban atau kerusakan yang berarti.
Begitupun masyarakat di Kota Padang (wilayah pesisir). Masyarakat telah kembali beraktivitas sebagaimana biasa meskipun malam kemarin sempat panik dan berduyun-duyun ke tempat yang lebih tinggi untuk mengantisipasi tsunami pasca gempa.
Jalan yang longsor yakni di Panorama Kelok Cindeu, Kelurahan Kayu Kupuh, Kecamatan Gubuk Panjang, Kota Bukittinggi, saat gempa 7,8 SR terjadi, siang ini juga sudah bisa kembali dipergunakan. Petugas telah melakukan pembersihan sisa-sisa longsor.“Tidak ada laporan korban luka ataupun jiwa akibat kejadian ini,” tandas Ukus.
Sebelumnya direncanakan Dinas Pariwisata Mentawai akan mengadakan pertunjukan kesenian, kuliner, permainan tradisional, dan doa bersama lintas agama pada malam sebelum gerhana. “Tapi semua tetap saja, jalan normal,” sebut Ukus yang juga Ketua Forum Sesmen se Insonesia itu.Menteri Pariwisata Arief Yahya terus memantau aktivitas Tim Crisis Center Kemenpar. Sejak Gunung Raung meletus, diikuti erupsi gunung di Barujari (anak Gunung Rinjani, gunung Gamalama, Gunung Sinabung, dan Gunung Soputan.
“Terakhir bom pos polisi Jalan Thamrin dan virus zika. Kami sudah punya standar operating procedure, yang kami adopsi dari UN-WTO United Nation World Tourism Organization. Kami selalu menggunakan global standart,” kata Arief Yahya.[]
Keterangan foto: Salah satu sisi Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat | Foto: anekawisatabahari.blogspot.co.id
Comments
comments











Leave a comment