Headline2 Nature

Romantika di Amor; Kisah Pahit Perempuan Kopi Gayo

JEMARI perempuan muda itu menari-nari, berpindah dari satu pohon kopi ke pohon lain. Setiap buah kopi yang sudah merah, tak luput dari sentuhan tangannya. Dalam sekejap, biji-biji kopi itu berpindah ke sebuah ember di tangan kirinya.

Pagi itu, Sasmita, perempuan muda pemetik kopi itu, seolah berpacu dengan waktu. Setiap embernya penuh, segera saja ia kosongkan, lalu kembali lagi untuk memenuhi ember berikutnya.

Aku bertemu Sasmita dalam balutan kabut tipis pada sebuah pagi pertengahan Desember lalu. Ia tak sendirian. Bersama kakaknya, Asiah, 28 tahun, ia memetik kopi di ladang Acong, seorang kepala sekolah di kampungnya. Sesekali tangannya menyeka keringat yang mengucur dari dahinya.  Saat sedang memetik kopi, Sasmita seperti melupakan hal-hal lain dalam hidupnya.  Ia tak banyak bicara. Senyumnya hanya sesekali mengembang ketika aku mencoba menggodanya.

Pada usia yang baru 21 tahun, Sasmita harus menerima kenyataan berpisah dengan suami yang menikahinya saat umurnya masih 14 tahun. Anak satu-satunya hasil pernikahan dini itu ikut diboyong sang suami, meninggalkan Sasmita bersama kakaknya dan kedua orang tua mereka di rumah gubuk berlantai papan dan berlantai tanah.

“Kalau tidak kerja begini, dari mana uang untuk makan. Kalau dulu masih ada suami, sekarang kalau tidak cari sendiri dari mana duitnya,” kata Asiah,  sang kakak yang juga bernasib sama dengan Sasmita, ditinggalkan suaminya tiga tahun lalu.

Kebun-kebun kopi di sekitar rumahnya adalah tempat Sasmita dan Asiah bergantung hidup. Sayangnya, musim panen kopi hanya datang setahun sekali, dari bulan Desember hingga Maret. Pada bulan-bulan lain, mereka praktis tak punya pekerjaan lain.

Sebagai buruh pemetik kopi, Sasmita dan Asiah mendapat upah sesuai hasil kerjanya. Makin banyak yang dipetik, makin banyak pula uang yang diperoleh. Saban hari, mereka rata-rata bisa memetik antara 5 sampai 6 kaleng isi 10 kilogram. Setiap kaleng mereka mendapat upah Rp15 ribu.

“Kalau lagi musim panen begini hasilnya lumayan, bisa dapat sampai 70 ribu rupiah sehari. Cukuplah untuk makan,” kata Sasmita sambil terus memetik kopi.

Celakanya, tak setiap musim panen hasilnya melimpah.  Jika sudah begitu, mereka hanya pasrah pada nasib. Sebagai buruh harian, mereka tidak mendapat tunjangan apa pun. “Jika sedang sakit ya tidak kerja. Kalau tidak kerja berarti tidak ada uangnya. Jadi buruh dilarang sakit,” kata Sasmita sambil tertawa getir.

***

BUKIT Amor. Begitulah nama kampung tempat Sasmita dan Asiah tinggal. Termasuk dalam wilayah Kecamatan Mesidah, Bener Meriah, bukit ini bertengger di ketinggian 1350 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian seperti itu, Amor serupa daratan yang melayang antara langit dan bumi.

Tak ada penjelasan yang gamblang tentang mengapa bukit itu dinamai Amor, nama yang mengingatkan pada Dewa Cinta  dalam mitologi Yunani. Beberapa warga yang kutemui menggelengkan kepalanya saat kutanyakan asal-muasal nama kampung itu. Yang pasti, desa di atas bukit itu menyimpan banyak cerita tentang ladang-ladang kopi yang menyebar di setiap jengkal tanahnya. Kebun-kebun kopi yang dinaungi pohon lamtoro terhampar mulai dari pekarangan rumah, lereng-lereng bukit, juga di puncaknya.

Dari atas bukit Amor, terhampar puncak-puncak bukit lain yang berpadu padan dengan lembah. Beberapa puncak bukit ditutup kabut. Ketika matahari menghilang dan malam turun, kabut menyebar hingga ke rumah pondok di ladang, mengantar  hawa dingin yang menusuk tulang.

Aku tiba di Amor setelah sebelumnya singgah di Pondok Baru, Ibu Kota Kecamatan Bandar, Bener Meriah.  Jarak Pondok Baru ke Amor sebenarnya tak jauh, hanya sekitar 15 kilometer. Namun, butuh waktu hampir dua jam untuk tiba di sana. Selain topografi daerah yang turun naik, jalanan juga belum sepenuhnya beraspal. Beberapa kali motor yang kutumpangi terjebak kubangan lumpur. Ketika menemui tanjakan, sepeda motor merangkak dengan suara meraung-raung.

Bagi masyarakat Bener Meriah, Amor identik dengan daerah tertinggal.  “Sekarang sudah lumayan. Tahun 2005, ketika saya mulai buka kebun di sini, butuh setengah hari dari Pondok Baru ke sini,” kata Acong, pemilik kebun kopi tempat Sasmita bekerja.

Acong adalah sosok yang ramah.  Berprofesi sebagai kepala sekolah di Pondok Baru, ia punya dua hektare ladang kopi di Amor.  Akhir pekan adalah waktunya berkebun. Hari itu, ia menawarkan saya menginap di rumah adik perempuannya. Dari kebun Acong, letaknya beberapa kilometer ke depan.

Tawarannya kuterima. Malam telah turun ketika kami bergerak menyusuri jalanan tanah yang licin usai diguyur hujan. Gelap. Tak ada lampu jalan sebagai penerang. Satu-satunya cahaya pemandu jalan adalah lampu sepeda motor  yang kami tumpangi.

Beberapa kali sepeda motor terpeleset saat melintasi jalanan yang menanjak. Jika sudah begitu, Acong turun mendorong sepeda motor. Aku mengikutinya dari belakang dengan nafas tersengal-sengal. Sesekali aku merapatkan jaket yang sebenarnya telah terkancing hingga ke ujung leher. Hawa dingin seperti memperpendek nafasku.

Meski jaraknya hanya sekitar tiga kilometer, butuh waktu setengah jam bagi kami untuk tiba di tempat yang dituju.  Di sebuah pertigaan, kami berbelok ke kiri menyusuri jalanan menurun.

Kami berhenti di sebidang tanah datar yang di atasnya berdiri sebuah rumah gubuk. Itulah satu-satunya rumah di sana. Di sekelilingnya tumbuh batang-batang kopi. Di belakang dan samping kiri rumah lahannya adalah lahan miring serupa lereng bukit.  Jaraknya hanya sekitar 5 meter dari dinding rumah. Di sisi kanan ada bukit kecil yang juga dipenuhi batang-batang kopi setinggi 1 hingga 1,5 meter.

Di dalam rumah, dekat balai-balai kayu, beberapa orang duduk di ruang tengah mengelilingi api unggun yang dibakar di lantai tanah untuk mengusir dingin. Salami, adiknya Acong, dan suaminya menyambut kami dengan ramah. Menghilang beberapa saat ke belakang, Salami kemudian muncul dengan membawa beberapa gelas kopi.

“Ini menu wajib di sini. Gulanya ditambah sendiri sesuai selera,” kata Salami sambil menyodorkan gelas kopi yang meruapkan aroma khas, menggugah selera.  Tak lupa ia menyarankan agar kopi segera diminum. Benar saja, meski asapnya masih mengepul, kopi itu tak terasa panas di lidah.

“Di sini dingin, jadi kalau kopinya harus langsung diminum saat masih panas,” sambung Salami sambil menebar senyum.

Malam itu, ditemani api unggun dan suara jangkrik dari ladang, kami mengobrol hingga tengah malam. Karena hanya ada tiga bangku kecil  di dekat api unggun, kami bergantian duduk meriung, mendekat ke api unggun untuk mengusir hawa dingin.

Acong banyak bercerita tentang suka duka menjadi petani kopi. Juga sepotong cerita kelam tentang masa lalu bukit Amor.  Acong berkisah, ladang-ladang kopi di Amor sempat telantar sekitar tahun 2000 sampai 2005.  Ketika itu, gerilyawan gerakan pembebasan Aceh menjadikannya sebagai salah satu lokasi persembunyian. Maka, Amor pun menjadi target incaran tentara pemerintah.

Saat itulah ladang-ladang kopi di bukit Amor  berhenti berproduksi. Orang-orang memilih menghindar, mencari tempat lain yang terbebas dari salak senjata dan sewaktu-waktu bisa memakan korban. Ketika gerilyawan memilih berdamai dengan pemerintah pada Agustus 2005, perlahan ladang-ladang kopi kembali menghijau. Amor kembali berseri. Ladang-ladang terus bertambah.

Orang-orang dari luar Amor, seperti dari Pondok Baru, berburu ladang baru di Amor. Mereka membeli tanah, membuka ladang baru di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Yang tak punya waktu merawat kebunnya biasanya menyerahkannya kepada orang lain dengan sistem bagi hasil separuh untuk yang merawat, setengah lagi untuk pemilik kebun. “Ladang yang dikelola Salami ini punya keluarga kami juga, tapi hasilnya dibagi dua,” kata Acong.

Tepat tengah malam, kami memutuskan beristirahat, tidur di atas balai-balai kayu tanpa kasur. Salami tak lupa menyodorkan selimut tebal untuk membungkus tubuh seraya mengusir hawa dingin yang menyergap tiba-tiba.

***

Dataran tinggi Gayo sudah lama dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas tinggi, tepatnya setelah Belanda, lewat ekspedisi Van Daalen, menaklukkan Gayo pada 1904. Sejarawan Anthony Reid dalam The Blood of the People menulis, setelah Gayo ditaklukkan, Belanda menjadikan Takengon sebagai kota transit perdagangan, khususnya untuk komoditas kopi.

Tentang ini, ada baiknya kita simak penelitian antropolog John R. Bowen dari Washington University, Amerika Serikat. Bowen yang datang ke Gayo pada 1984 saat meneliti kehidupan masyarakat di dataran tinggi Gayo, menuangkan temuannya dalam Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989.

Berdasarkan sumber-sumber Belanda, Bowen menulis, Belanda memulai coba-coba menanam kopi di Gayo pada 1908. Jumlahnya 3.500 batang. Lokasi yang dipilih berada di utara Danau Lut Tawar, Aceh Tengah.

Lantaran program ujicoba dianggap berhasil, pada 1933, kebun yang ditanami kopi telah mencapai 13 ribu hektare. Walhasil, tanaman asal Afrika itu menjadi salah satu komoditas ekspor andalan di samping tembakau, pinus, kentang, dan kubis yang diperkenalkan pada 1905.

“Masyarakat Gayo sangat cepat menerima tanaman baru dan menanaminya di lahan-lahan terbatas warga,” tulis Bowen.

Keberhasilan ujicoba kopi, segera diikuti dengan munculnya desa-desa baru di sepanjang jalan utama. Di Blang Gele di utara Takengon, misalnya, Belanda membuka 100 hektare kebun baru. Tenaga kerja didatangkan dari Jawa. Belanda memperkenalkan kopi sebagai “product for future.”

Kini, seabad telah lewat. Areal kebun kopi terus bertambah. Mayoritas adalah jenis kopi arabika yang harganya lebih tinggi dibanding kopi robusta. Produk masa depan versi Belanda itu kini terhampar luas di tiga kabupaten di dataran tinggi Gayo. Di Aceh Tengah tercatat luasnya 48.500 hektare, Bener Meriah 39.000, dan 7.000 hektare di Gayo Lues.

Di Bener Meriah, Kota Pondok Baru adalah pusat penampung kopi. Para petani dari Amor dan sekitarnya menjual kopinya ke kota kecamatan di kaki Gunung Geureudong itu. Posisinya yang berada di ketinggian 1.448 meter di atas permukaan laut, membuatnya sebagai lokasi ideal untuk kebun kopi. Kita tahu, kopi yang bagus tumbuh di lahan pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Dengan topografi yang ideal untuk kopi itu, dataran tinggi tengah-tengah Aceh itu kini dikenal sebagai penyuplai kopi Arabika terbesar dari Indonesia. Di dunia perkopian, Indonesia  merupakan satu dari empat negara utama penyuplai kopi arabika.

Rasa yang luar biasa dari kopi Gayo membuatnya termasuk dalam deretan kopi premium, setara dengan produk terkenal di dunia lainnya, seperti Brasil , Blue Mountain di Jamaika, dan kopi Ethiopia. Karena itu, di pasar internasional kopi Gayo kini menyandang gelar Gayo Specialty Coffee.

***

Aku terbangun dari tidur ketika aroma kafein menggelitik  hidung. Pagi-pagi sekali Salami telah menyeduh kopi. Udara masih dingin. Bahkan, teramat dingin untuk kulitku yang lebih akrab dengan hawa panas di pesisir Aceh. Saking dinginnya, rutinitas mandi pagi terpaksa kulewatkan.

Pagi berjalan cepat. Sebelum matahari meninggi, Salami telah selesai mandi, memandikan tiga anaknya yang masih kecil, juga menyiapkan sarapan. Tak lama, ia menyambar sarung tangan, jaket, beberapa karung, dan sepatu boat. Itulah peralatan wajib untuk memulai rutinitas di musim panen: memetik kopi.

Tak lama, muncul seorang perempuan lain yang kemudian kutahu bernama Nurhayati. Seperti Salami, Nurhayati juga siap tempur dengan sepatu boat di kaki. Sepatu karet ini seperti peralatan wajib di ladang kopi agar tak terpeleset saat menginjak tanah basah.

Pagi itu Nurhayati muncul dengan sapuan bedak di pipi dan lipstik merah di bibir.  Mereka lantas bergegas menuju ladang kopi di sekeliling rumah Salami. Aku mengikutinya dari belakang.

Sambil memetik kopi, Nurhayati bercerita tentang romantika hidup. Perempuan 28 tahun itu menikah saat umurnya masih 11 tahun. Ia tak sempat menyelesaikan sekolah dasar lantaran menikah. Kini, dari hasil memetik kopi, ia menghidupi dua anaknya yang masing-masing berumur 11 dan 4 tahun.

“Suami jarang pulang, jadi harus cari uang sendiri dan untuk sekolah anak-anak,” katanya. Ia enggan berkisah lebih jauh tentang keluarganya.

Nurhayati bukan orang Gayo. Asalnya dari Jangka Buya, Ulee Gle, Pidie.  Ia masuk ke Amor pada 2004. Sejak itu, ia berpindah dari satu kebun ke kebun lain. Pernah juga hanya tidur beratapkan tenda di hutan belantara.

“Bahkan pernah tidur bersebelahan dengan harimau. Saya di dalam tenda, dan harimaunya di luar. Dari jam 12 malam, harimaunya baru pergi pukul empat pagi,” katanya.

Pada musim panen seperti sekarang, Nurhayati mampu mengumpulkan 7 kaleng kopi. Dengan bayaran Rp15 ribu per kaleng, ia mampu mengumpulkan duit hingga Rp100 ribu per hari. “Tapi itu hanya dua bulan saat banjir kopi. Dua bulan berikutnya kopi sudah berkurang. Paling sehari hanya dapat tiga kaleng,” ujarnya.

Itu sebabnya, hingga kini ia masih mengontrak rumah milik orang lain dengan bayaran Rp100 ribu per bulan.

Setelah musim panen kopi berakhir, Nurhayati mengisi waktu dengan memetik cabai di kebun orang. “Entah sampai kapan harus hidup seperti ini. Doakan saya bisa punya kebun sendiri ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, Nurhayati dan Salmiati rehat melepas lelah. Sesekali mereka menyentak lengannya untuk mengusir penat.

***

DI TANAH yang menghasilkan puluhan ribu ton biji kopi arabika per tahun ini, yang citarasa kopinya merambah hingga Eropa dan Amerika, isu kesejahteraan pekerjanya memang belum mendapat perhatian besar.  Padahal, sejumlah perusahaan kopi kelas dunia kini memusatkan perhatiannya ke dataran tinggi Gayo.

Alih-alih membeli kopi dari perantara atau makelar, perusahaan besar ini memilih berhubungan langsung dengan petani lewat koperasi.

Di Bener Meriah, salah satu koperasi yang namanya sedang melambung adalah Permata Gayo yang berkantor di Pondok Baru.  Berdiri pada 2006, Permata Gayo mulai mengekspor kopi pada akhir 2010. Jika pada awalnya hanya ada 46 anggota dengan 4.122 hektare lahan kopi, kini anggotanya membengkak menjadi 2.571 petani yang tersebar di 36 desa. Dari ladang kopi para anggotanya inilah Permata Gayo mengirim kopi ke Amerika, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa. Setiap hektare ladang kopi rata-rata menghasilkan 700 kilogram kopi kualitas ekspor.

Dari anggota, Permata Gayo membeli kopi dengan harga bervariasi, tergantung jenisnya. Untuk kopi standar, harga saat ini Rp8000 per kilogram.

Sebagai pengekspor kopi, Permata Gayo telah memiliki sejumlah sertifikat sebagai syarat agar kopinya dapat dijual di pasar internasional. Di antaranya, sertifikat Organik, Fair Trade, dan Rainforest Alliance.

“Sertifikat ini untuk membuktikan bahwa kopi yang kita miliki dihasilkan dengan cara yang ramah lingkungan dan tidak merusak hutan,” kata Djumhur Sungkit, pengelola Permata Gayo.

Salah satu pembeli kopi Permata Gayo adalah Atlas Coffee Importers yang bermarkas di Seattle, Amerika. Dalam website-nya, Atlas menyebut bahwa kopi Gayo memiliki citarasa yang khas dan disukai penikmat kopi dunia.

“Tahun ini pengiriman ke Atlas saja sebanyak 2 kontainer yang masing-masing berisi 19 ton kopi,” kata Djumhur.

Pada Juli 2012, Green Mountain Coffee dari Amerika Serikat yang aktif mengampanyekan pentingnya sertifikasi Fair Trade membawa penyanyi Amerika Michael Frenti ke dataran tinggi Gayo. Mereka membuat video dampak penerapan Fair Trade bagi para petani. Selain Gayo, pengambilan gambar juga dilakukan di Kolumbia.  Tagline yang dipakai, “Great coffee, good vibes, pass it on.”

Pesan penting yang disampaikan: dengan membeli kopi besertifikat Fair Trade, berarti ikut menyumbang bagi upaya menyejahterakan petani. Alih-alih membeli kopi dari para makelar, pemegang sertifikat Fair Trade lebih memilih berhubungan langsung dengan kelompok tani.

Fair Trade memang mewajibkan distributor kopi yang memegang sertifikat itu untuk menyetor sebesar US$200 kepada petani untuk setiap penjualan 1 ton kopi. Uang tersebut dimanfaatkan untuk pengembangan komoditas kopi sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Di Permata Gayo, uang yang disebut Premium Fee itu dikembalikan kepada petani anggota koperasi dalam bentuk peralatan kerja. “Sejak 2011 uangnya kita pakai untuk pengadaan mesin babat bagi petani,” kata seorang pengurus koperasi.

Asal tahu saja, di Indonesia dari 19 koperasi yang memperoleh sertifikasi Fair Trade di Indonesia, 16 di antaranya berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Sedangkan tiga lagi di Padang, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Selain mengirim kopi ke dalam negeri dalam bentuk gabah, Permata Gayo juga memproduksi kopi yang telah di-roasting. Ini adalah istilah yang merujuk pada kopi yang telah disangrai dengan menggunakan mesin sehingga siap dikonsumsi.

Ketika berkunjung ke Permata Gayo, saya bertemu Rizkani, istri Djumhur. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang proses menyangrai biji kopi hingga berbentuk bubuk kopi arabika yang dijual Rp180 ribu per kilogram, sedangkan dalam bentuk gabah, harga jualnya Rp40 ribu.

Awal Desember lalu, Rizkani baru pulang dari Jember untuk mengikuti pelatihan khusus bagi roaster, sebutan bagi orang yang ahli menyangrai kopi. Katanya, di Aceh Tengah dan Bener Meriah, dialah satu-satunya roaster perempuan.

Roasting menentukan citarasa kopi. Kalau terlalu lama disimpan dalam kondisi biji merah, citarasa kopinya bisa berubah,” kata Rizkani. “Kalau lagi galau sebaiknya jangan roaster kopi karena bisa merusak rasa.”

***

Keterlibatan kaum perempuan dalam pengolahan kopi tidak hanya saat pemetikan. Di pabrik-pabrik kopi di dataran tinggi Gayo, tak sulit menemukan ratusan perempuan yang bertugas menyortir kopi. Mereka memisahkan biji kopi yang kualitas bagus dari biji kopi yang rusak.  Jika biji kopi yang bagus dikirim ke luar negeri, biji kopi yang rusak dijual ke perusahaan dalam negeri dengan harga lebih murah.

Sayangnya, keharuman citarasa kopi Gayo yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia, ternyata belum mampu mengharumkan kehidupan para pekerjanya.  Para perempuan penyortir kopi yang umumnya ibu-ibu paruh baya masih hidup melarat.

Simaklah cerita sejumlah ibu yang saya temui di sebuah pabrik milik Haji Rasyid pemilik merek Oro Kopi dan Gayo Aceh  Coffee, di Takengon, Aceh Tengah.

Rosmaniar, misalnya. Perempuan berusia 43 tahun itu sudah 10 tahun bekerja di sana. Ia dibayar Rp400 untuk setiap kilogram kopi yang disortir. Setiap hari paling banyak ia dapat membawa pulang uang antara Rp15 ribu – Rp20 ribu. Meski sudah 10 tahun bekerja, statusnya tetap buruh lepas tanpa fasilitas lain seperti asuransi kesehatan.

Ketika saya temui, di samping tempat Rosmaniar menyortir kopi, di atas mejanya tergeletak seorang anak usia tiga tahun dengan kaki mengeras berukuran lebih kecil dari anak seusianya. Anak bungsu Rosmaniar itu menderita cacat. Ia telah berusaha mengobati anaknya ke sana kemari, dari pengobatan modern di rumah sakit, hingga pengobatan tradisional. Namun, hasilnya nihil. Anaknya tak kunjung sembuh.

“Sejak usianya tiga bulan sudah saya bawa ke sini karena tidak ada yang menjaganya di rumah,” katanya.

Setahun lalu, seorang bule pembeli kopi asal Belanda yang iba pada nasibnya memberikan uang Rp3 juta dan kursi roda untuk anaknya. Itulah satu-satunya bantuan yang pernah diterimanya. “Pak Bupati pernah berjanji mau membantu pengobatan, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi. Mungkin beliau lupa,” kata Rosmanidar yang tinggal di rumah gubuk tak jauh dari pabrik kopi itu.

Setiap pagi Rosmanidar berangkat dari rumahnya sekitar pukul 08.00 dengan membawa bekal makan siang. Ia baru pulang menjelang magrib.

Lain lagi cerita Sariwati.  Setelah suaminya yang mantan anggota dewan di Aceh Tengah meninggal tujuh tahun lalu, Sariwati bekerja banting tulang menghidupi dua anak gadisnya. Selain menyortir kopi, ia kini juga bekerja sebagai penyapu jalan. Kerja sebagai tukang cuci piring di warung juga pernah dilakoni setelah suaminya meninggal.

“Setiap pagi saya menyapu jalan dulu. Pukul 8 pagi baru ke pabrik untuk menyortir kopi,” ujarnya. “Kalau hanya dari menyortir kopi mana cukup.”

Dari menyapu jalan, ia mengantongi duit Rp600 ribu per bulan. Dari hasil menyortir kopi? “Ya segitu juga. Kalau ada kerjaan lain saya juga tidak mau kerja di sini,” ujarnya.

***

DI BUKIT Amor, matahari rebah ke ufuk barat. Salmiati dan Nurhayati mencopot sarung tangan, lalu menjatuhkan pantatnya di balai-balai bambu di depan rumah sambil menghela nafas panjang mengusir lelah.

Aku pamit sebelum magrib, meninggalkan Bukit Amor. Di atas motor yang meliuk-liuk  melewati bukit dan lembah, aroma kopi Gayo masih berbekas di hidung. Citarasanya juga masih tersisa di lidah: kekentalan yang ringan, keasaman seimbang, tetapi memiliki aneka citarasa. Terbayang pula nasib para perempuannya. Mereka yang ikut berkontribusi menjadikan kopi Gayo menyebar ke seantero dunia, justru belum menikmati hasilnya. []

Artikel ini telah dimuat di majalah The Atjeh edisi Februari 2014

Foto: majalah.ottencoffee.co.id

Comments

comments

Tags